Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Cerita Alona



Akhir pekan ketika Alona datang ke rumah Altharazka, ada hal yang membuat Altharazka tertarik. Hal itu tentunya adalah karena permintaan Alona yang memintanya untuk tidak balapan lagi. Razka bisa melihat bahwa kedua bola mata Alona berkaca-kaca kala meminta hal itu.


"Lona, boleh gue bertanya?" tanya Altharazka.


"Hmm, mau tanya apa Al? Les kita aja belum mulai, masak loe udah bertanya sih?" tanya Alona.


Altharazka menganggukkan kepalanya. Dia memang penasaran dan ingin segera mendengarkan cerita Alona itu. Apakah mungkin ada sesuatu di masa lalu yang berkaitan dengan balapan, sampai Alona memintanya untuk tidak balapan lagi.


"Waktu lesnya nanti boleh loe perpanjang kok," balas Razka.


Alona tersenyum, gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, nanti over yah jamnya. Mau tanya apa sih sebenarnya?" tanya Alona.


"Hari Senin lalu loe meminta gue untuk berhenti balapan. Kenapa, Lon?" tanya Altharazka.


Senyuman di wajah Alona perlahan hilang. Gadis itu menghela napas berkali-kali. Jujur saja, tidak mudah untuk menceritakan semuanya. Sebab, semua ini berkaitan dengan masa lalu Alona yang sama sekali tidak indah. Kenangan pahit yang coba Alona lupakan, tapi kenangan itu masih tersimpan dalam kalbunya. Mencoba dilupakan, tapi kenangan itu selalu saja hadir.


"Gue gak bisa cerita dan menjawabnya, Al," balas Alona.


Gadis itu kini memalingkan wajahnya. Jujur, dia tidak bisa menceritakannya. Sekarang saja dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak.


"Beri gue alasannya, Al. Sebab, penjelasan dari loe bisa menjadi pertimbangan untuk gue," kata Razka sekarang.


Menimbang-nimbang dalam hati, sampai akhirnya Alona menganggukkan kepalanya perlahan. Alona memutuskan untuk bercerita walau tak mudah memutus kotak penyimpanan penuh kepahitan di dalam hatinya.


"Balapan menjadi momok menakutkan untuk keluarga gue, Al. Semua itu, karena kakak kandung gue, meninggal saat balapan motor," cerita Alona singkat.


...🍀🍀🍀...


Tiga Tahun yang Lalu ....


Seorang pemuda tampan bernama Aldi, berkumpul dengan genk motornya. Aldi yang saat itu baru berusia 18 tahun, nyatanya sudah tergabung dalam salah satu club motor balap Ibukota. Aldi yang sejatinya dari keluarga miskin, nekat ikut. Dengan motor balap seadanya.


Hingga akhirnya, saat malam minggu tiba dilakukan adu balap liar di jalanan. Kalau itu, setiap anggota genk motor itu juga meminum minuman keras. Aldi yang sebelumnya tak pernah mencicip minuman keras akhirnya mencobanya. Minuman keras yang merenggut kesadarannya. Hingga saat adu balap terjadi, Aldi terjatuh dan terlindas sepeda motor milik lawannya.


Praktis malam minggu kelabu, adu balap itu menewaskan dua orang. Satu adalah Aldi, dan satu lagi adalah seseorang dari genk motor lain yang tidak diketahui identitasnya oleh keluarga Alona sampai sekarang.


Sejak saat, duka selalu dirasakan oleh keluarga Alona. Motor balap dan adu balap menjadi momok yang menakutkan karena membangkitkan lagi kenangan di masa lalu. Ya, tepatnya tiga tahun yang lalu kala mendung gelap menundungi keluarga Alona.


...🍀🍀🍀...


Sekarang ....


Menceritakan semuanya kepada Altharazka membuat Alona berlinang air mata. Bahkan sekarang menangis dengan terisak-isak. Altharazka menjadi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata itu berkaitan dengan kenangan yang sangat pahit.


Melihat Alona menangis dan terisak-isak, Altharazka mendekati gadis itu. Altharazka yang semula duduk di depan Alona, sekarang duduk di samping Alona. Tanpa banyak kata, Altharazka refleks merangkul Alona, membawa wajah gadis yang berderai air mata ke dadanya.


Tangisan Alona kembali pecah. Air matanya membasahi kaos yang Razka kenakan. Sementara tangan Razka masih merangkul Alona di sana.


"Maaf, Lona ... maaf," kata Altharazka.


Seketika Altharazka merasa menyesal karena menanyakan hal sensitif dan berkaitan dengan momen pahit di masa lalu. Cukup lama Alona menangis, hingga Alona perlahan-lahan bisa mengatur emosinya dan kembali tenang. Walau masih terdengar isakan di sana.


"Jadi, kalau bisa ... jangan balapan lagi, Al. Loe tahu mendiang Marco Simonchelli yang meninggal di pacuan balap? Bukankah itu sangat mengerikan? Moto GP yang memiliki safety saja bisa melayangkan nyawa. Please, Al ... jangan balapan," kata Alona.


Gadis itu kembali menangis. Dia benar-benar meminta sekarang supaya Altharazka tidak lagi balapan motor. Setiap pertikaian tidak harus diselesaikan dengan adu balap. Ada cara-cara yang lebih aman dan sehat untuk menyelesaikan penyelesaian. Bagi Alona, balapan itu sangat membahayakan.


"Gue pertimbangkan," balas Razka.


Setelah tenang, Alona menarik wajahnya dari dada Altharazka. Gadis itu menyadari bahwa dia melakukan kesalahan dengan merasakan kenyamanan ketika Altharazka merangkulnya. Sekarang, Alona pun meminta maaf kepada Altharazka.


"Maaf, Al ... gue terlalu emosional dan menangis seperti ini," kata Alona.


"Tidak apa-apa," balas Altharazka.


"Kaosnya jadi basah," sahut Alona dengan menunjuk kaos Altharazka yang basah di area dada.


"No problem," balas Altharazka.


Setidaknya sekarang Altharazka sudah tahu cerita di balik kenapa Alona memintanya untuk tidak balapan motor lagi. Bahkan Altharazka ingat bahwa ini bukan sekali Alona meminta, tapi sudah permintaan kedua atau ketiga. Setelah tahu semuanya, Altharazka akan mempertimbangkan semuanya. Benar yang Alona katakan bahwa tidak semua pertikaian harus diselesaikan dengan adu balap. Semoga saja, Altharazka bisa mengambil keputusan yang tepat.