Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Kepanikan



Sementara itu telepon diterima oleh Papa Allister dan kali ini adalah dari pihak Rumah Sakit. Tentu Papa Allister panik ketika pihak Rumah Sakit memberitahukan bahwa Razka mengalami kecelakaan dan dibawa ke Rumah Sakit. Pria itu seketika tidak bisa lagi berpikir dan juga langsung pergi ke Rumah Sakit begitu saja.


Dalam perjalanan hatinya sangat risau, sembari terus Papa Allister berdoa dalam hati supaya putranya baik-baik saja. Jika terkait dengan kecelakaan, orang tua di mana pun akan risau.


Begitu sudah tiba di Rumah Sakit, Papa Allister bertanya di mana Razka berada rupanya anaknya itu masih ditangani di Unit Gawat Darurat. Akhirnya, Papa Allister berjalan cepat ke sana.


"Razka ... Razka."


"Orang tua Altharazka Allister?" tanya seorang perawat yang berjaga.


"Ya, saya Papanya," jawab Papa Allister.


Akhirnya, Papa Allister dibantu menuju tempat Razka. Bukan berbaring, putranya itu duduk. Celana jeans yang semula razka kenakan sengaja digunting karena kakinya luka. Sedangkan tangannya juga luka. Wajahnya tidak luka sama sekali, mungkin semua itu karena Razka mengenakan helm full face. Sehingga tidak ada lecet atau luka di wajahnya.


"Razka," sapa Papanya masih begitu panik.


"Pa," balas Razka singkat.


"Inilah yang Papa takutkan, Raz. Sepeda motor itu tidak aman untuk kamu," balas Papa Allister.


"Hanya kecelakaan kecil kok, Pa," balas Razka.


Papa Allister menggelengkan kepalanya. Sudah jelas bahwa luka di kaki Razka dan tangannya terlihat serius, tapi Razka masih bisa berkata bahwa itu hanya kecelakaan kecil. Bagaimana pun, seorang Papa tetaplah Papa Allister panik.


"Rawat inap saja, Raz," tawar Papa Allister.


"Pulang saja, Pa. Palingan besok juga sudah sembuh," balas Razka.


"Besok juga les, Pa. Senin ada pengulangan Bahasa Inggris," balas Razka.


Papa Allister menghela napas panjang. Apa akibat jatuh dari sepeda motor, otak Razka jadi bermasalah. Terlihat dia mengingat les dan pengulangan Bahasa Inggris hari Senin nanti. Atau itu memang cara supaya Papa Allister tidak memarahinya.


"Kamu tidak sedang mengambil hati Papa kan, Raz?" tanya Papa Allister.


"Tidak kok, Pa. Kan cuma lecet," balas Razka.


"Sebaiknya kurang balapan, Raz ... kamu sudah kelas 12, fokus ujian dulu. Papa berbicara baik-baik. Bagaimanapun seorang Papa gak mah anaknya kecelakaan seperti ini," kata Papa Allister.


"Cuma lecet kok, Pa. Kan Razka pegang motor cuma tiga hari dalam seminggu," balasnya.


"Tiga hari dalam seminggu saja, kamu jatuh sampai kayak gini. Sekarang, yang Papa miliki hanya kamu, Razka. Selain kamu, Papa tidak memiliki anak lainnya," kata Papa Allister.


"Mama?" tanya Razka.


Ada gelengan samar dari Papa Allister, "Kami sudah berpisah, Razka. Kamu juga tahu itu," balas Papa Allister.


Sekarang keduanya sama-sama diem. Dua pria dengan berbeda generasi itu tampak terdiam dengan pikiran yang berputar-putar di dalam kepalanya. Perpisahan dengan Mamanya Razka membuat Papa Allister hanya memiliki Razka saja. Oleh karena itu, Papa Allister begitu khawatir dengan Razka.


"Jadi, gimana? Mau pulang?" tanya Papa Allister.


"Ya, pulang," balas Razka.


Akhirnya Papa Allister menyelesaikan administrasi dulu dan juga mengambil obat untuk Razka. Kemudian Papa Allister mengajak Razka untuk pulang. Sedangkan untuk sepeda motor milik Razka yang sekarang berada di kantor polisi, akan diurus orang kepercayaan Papa Allister besok. Yang penting Razka bisa pulang dulu dan juga beristirahat di rumah.