
Malam itu juga memacu motornya di jalanan Ibukota membuat Razka benar-benar menekan gas sekencang mungkin. Ada rasa kesal di dalam hati, sekarang bukan hanya kepada Papanya, tapi kepada anak-anak kARC. Mendengar kata tatto dan beer membuat Razka kesal. Terlebih ketika anak-anak mengatakan tatto sebagai bentuk loyalitas, bagi Razka itu sama sekali tidak masuk akal.
Sementara di markas ARC, Raga dan teman-temannya mencibir Razka yang dinilai sangat tidak suportif. Tidak mau membuat tatto dan tidak mau minum. Padahal menurut mereka, beer sama sekali tidak membuat mabuk.
"Kenapa sih sekarang, Razka songong banget? Jarang ke markas, bikin tatto gak mau, minum gak mau. Sok-sokan banget," kata Jack seorang anggota ARC.
"Yah, loe kayak gak kenal Razka aja. Dulu kan emang dia ikut di ARC cuma sebatas balapan. Justru dia yang paling konsisten di antara kita semua," balas Raga.
Bukan bermaksud membela Razka, tapi memang sejak dulu Razka bergabung ke ARC hanya untuk balapan saja. Untuk hal-hal yang lain, Razka sama sekali tidak tertarik. Menurut Raga, justru Razka adalah sosok yang konsisten yang pernah dia kenal.
"Emang siapa dia sih?" tanya Tegar, member terbaru di ARC.
"Member biasa aja. Sama seperti kalian semua. Namun, dia masuk ke sini hanya untuk balapan. Bukan untuk kehidupan malam dan sebagainya," jawab Raga.
"Menurut gue ... termasuk belagu sih," balas Tegar.
"Dia yang berhasil ngalahin Max dari Thunderbolt. Betapa menakutkan si Razka kalau udah menaiki kuda besinya. Berkat dia, anak Thunderbolt gak cari perkara lagi."
Raga menjelaskan semua. Beberapa anak ARC pun menganggukkan kepalanya. Pasti masih mengingat bagaimana Razka berhasil mengasapi Max dan membuat Max menerima kekalahan. Max sudah seperti macan ompong, mengaum pun tidak sanggup.
"Max dari Thunderbolt?" tanya Tegar.
"Ya, pimpinan Thunderbolt, Max. Razka yang berhasil mengalahkan dia dengan balapan."
"Kalau udah di atas motor, Razka gak akan mudah ditaklukkan. Max aja dia kalahkan. Anak-anak di sini aja kalah sama dia. Mending jangan merencanakan apa pun," kata Raga kepada Tegar sekarang.
"Kagak, Bos. Santai aja," balas Tegar.
"Sip. Lagian loe anak baru di sini, jadi baik-baik aja," pesan Raga.
Beralih kepada Razka, pemuda itu masih menyelip beberapa mobil yang melaju di jalanan ibukota. Razka benar-benar kehilangan ketakutan dan kecemasan. Kakinya kian penuh menginjak tuas di sana.
"Kalau selalu seperti ini, agaknya gue gak bisa berada di ARC terus-menerus," gumam Razka dalam hati.
Hingga akhirnya, dari arah belakang Razka ada sepeda motor dengan suara knalpotnya yang begitu bising. Sepeda motor itu melaju dengan begitu cepat sampai pada akhirnya, sepeda motor itu berada di belakang Razka. Seolah waspada, Razka memperhatikan dari kaca spionnya karena sepeda motor itu kian gak terkendali.
Ya, sepeda motor itu seolah mengejar Razka sekarang. Oleh karena itu, Razka mempercepat lajunya. Razka tahu bahwa penunggang motor itu mengincarnya. Sayang sekali, waktunya tidak tepat karena sekarang di jalan raya, bukan di arena balap mereka.
Akhirnya, Razka mengambil tikungan ke kiri untuk menghindari orang itu. Hingga akhirnya, Razka hilang kendali, dan ban depan sepeda motor di belakangnya mengenai ban belakang milik Razka. Terjadi ban selip, dan ....
Braakkk ....
Razka terjatuh di jalan aspal itu. Seketika mesin motornya mati, dan Razka memejamkan matanya. Benar-benar dalam waktu sepersekian detik tabrakan itu terjadi.