Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Mendapatkan Motor Kembali



Dengan nilai pengulangan Matematika di tangan yang mendapatkan nilai 94, Altharazka akan menggunakan nilai itu untuk mendapatkan kembali sepeda motornya. Mungkin saja, jika dia mendapatkan nilai yang bagus, tidak mustahil bahwa Papanya akan memberikan kunci sepeda motornya.


Menurut Altharazka mungkin saja cara ini adalah cara mendapatkan hati Papanya. Malam hari usai makan malam, Razka lantas menyerahkan nilai itu kepada Papanya.


"Ini, Pa ... nilainya Razka," katanya.


Tangan Papa Allister terulur dan mengamati nilai ulangan milik putranya itu. Bagi Papa Allister tentu ini adalah keajaiban. Seorang Altharazka Allister bisa mendapatkan nilai 94. Padahal biasanya, nilai yang didapatkan Razka hanya di bawah 50. Sehingga, ini adalah kenaikan yang sangat signifikan.


"Benar ini nilai kamu sendiri?" tanya sang Papa.


"Kalau bukan nilainya Razka, nilai siapa?" balasnya.


"Bukan Alona yang mengerjakan bukan?"


Mengingat Razka dan Alona satu kelas, Papa Allister mengira bisa saja Razka mengancam Alona dan meminta Alona mengerjakan soal itu. Dengan demikian Razka bisa mendapatkan nilai yang baik.


Sementara, Razka berkata dalam hatinya sendiri bagaimana kuatnya prinsip Alona. Dulu, dia hendak membayar untuk tugas bersama saja, Alona tidak mau. Sehingga Razka tidak mendapatkan nilai.


"Enggak, Razka sendiri yang mengerjakannya," balasnya.


Akhirnya Papa Allister menganggukkan kepalanya. Senang dan ada rasa bangga. Membuat Altharazka les dengan Alona ada dampak positifnya. Jika nilainya meningkat, itu akan mempermudah Altharazka untuk mendaftar di perkuliahan nanti.


"Razka, pertahankan nilaimu seperti ini supaya kamu bisa mengikuti tes masuk universitas nanti. Papa senang, untuk kali pertama kamu mendapatkan nilai sebaik ini," kata Papa Allister.


Di dalam hatinya, Razka tersenyum. Tidak sukar rupanya mengambil hati Papanya sendiri. Jika memang hanya ingin mendapatkan nilai yang baik, itu bukan hal yang susan untuk Razka.


"Razka mau berusaha dapat nilai bagus, tapi Razka ingin motor Razka kembali, Pa."


Sekarang Razka berbicara dengan jujur. Dia menginginkan sepeda motornya. Balapan dan beradu dengan aspal jalanan sudah dia rindukan. Lagipula, hanya balapan uang bisa memacu adrenalinnya dan melepas penatnya.


"Yang Razka suka cuma motor, Pa," jawabnya.


"Papa tidak suka kamu balapan motor," balas Papa Allister.


"Bukan balapan liar, Pa. Kalau balapan liar tidak mungkin Razka melakukannya," jawab Razka. Cowok itu berusaha membela diri dan juga ingin menunjukkan kepada Papanya bahwa dia bisa menerima kepercayaan dari Papanya. Jika hanya nilai yang Papanya inginkan, Razka akan berusaha maksimal.


"Kamu sedang negosiasi dengan Papa?"


"Ya, kalau memang Papa menganggapnya negosiasi," jawab Razka.


Papa Allister menghela napas panjang, setelah itu dia mempertahankan wajah putranya itu. Dilema sebenarnya apakah dia akan memberikan motor lagi? Di satu sisi, Papa Allister sangat tidak suka jika Razka melakukan balapan dan kehidupan malam di jalanan.


"Kamu bisa Papa percaya, Raz?"


"Bisa," jawab singkat dan penuh keyakinan dari Razka.


Baiklah, untuk kali Papa Allister akan memberikan kepercayaan untuk Razka. Namun, jika Razka tidak bisa menjaga kepercayaan darinya, maka dia akan menjual sepeda motor milik Razka.


"Baiklah, hanya saja dalam sepekan kamu hanya mendapatkan motormu tiga kali saja. Ingat, jangan pernah melakukan balapan liar."


"Hanya tiga kali saja, Pa?" tanya Razka.


"Ya, atau tidak sama sekali," balas Papa Allister.


"Baiklah," balas Razka.


Sekarang, Razka merasa senang karena bisa mendapatkan kembali motornya. Walau hanya tiga hari dalam sepekan itu sudah cukup baginya. Nanti dia akan kembali berusaha supaya bisa mendapatkan motor setiap harinya. Mungkin jika Alona terus membantunya belajar, pastilah nilai yang baik akan dia dapatkan. Ya, itu bukan hal yang mustahil untuk Razka. Dia hanya perlu berusaha.