Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Kehidupan yang Berbeda



Dalam beberapa hari ini, Altharazka benar-benar menguntit Alona. Bahkan cowok itu bersembunyi di satu tempat untuk mengamati setiap tindakan Alona. Untung saja di sana ada gedung kosong, sehingga Altharazka sering duduk di sana. Dia bisa melihat adik-adik Alona yang masih kecil kira-kira masih SD, lalu ibunya, dan ayahnya yang berprofesi sebagai tukang ojek.


Selain itu, Altharazka juga melihat Alona uang membantu ibunya berjualan donat. Tiba-tiba rasa simpati itu muncul, Razka merasa kasihan dengan Alona. Bagaimana tidak iba, jika sepulang sekolah saja Alona terus mengantarkan kotak-kotak berisi donat yang dititipkan di beberapa warung di sekitar rumahnya.


Razka tahu bahwa kehidupan yang dijalani Alona sangat tidak mudah. Terlebih Alona bisa mempertahankan peringkat satu sejak memasuki SMA itu adalah hal yang sangat luar biasa. Padahal, Altharazka juga yakin bahwa Alona tidak memiliki waktu untuk belajar.


"Kehidupan kamu berbeda dengan kehidupanku, Lona. Aku terbiasa dengan semua fasilitas yang ada. Sampai kadang aku tidak bersyukur karenanya. Sementara kamu, justru hidup seadanya. Masih membantu ibu kamu berjualan donat. Kenapa, orang-orang masih membully kamu dan tidak melihat perjuanganmu?"


Altharazka akhirnya memilih pulang, untuk hari ini cukuplah sampai di sini pengintaiannya kepada Alona. Asalkan Alona aman, dan rutinitasnya tak terganggu siapa pun, Altharazka bisa merasa tenang.


Sebelum pulang, Altharazka menyempatkan untuk mampir ke salah satu warung yang ada tidak jauh dari rumah Alona. Tujuannya sekadar membeli air mineral saja.


"Bu, beli air mineralnya satu," pinta Razka.


Ibu penjual itu mengambilkan botol air mineral berukuran sedang untuk Razka, kemudian menawarkan hal yang lain. "Beliin donatnya juga, Kak. Enak kok ... satunya tiga ribu."


Altharazka mengamati kotak donat itu dan juga mengerti bahwa itu adalah donat yang tadi Alona titipkan. Pastilah itu adalah donat milik Alona.


"Donat kentang buatan rumah, Kak. Enak kok. Untuk membantu sekolah, Kak."


"Satunya berapa? Tiga ribu yah?" tanya Altharazka.


"Iya, tiga ribu aja."


Altharazka melihat dalam satu kotak itu ada berapa donat kemudian membelinya. "Itu ada berapa buah, Bu? Dua puluh yah?" tanyanya.


"Benar, dua puluh buah."


Ketika tahu dagangannya dibeli tentu ibu penjual itu sangat senang. Dia segera mengemas seluruh donat dalam mika dan kemudian memasukkan dalam kantong plastik.


"Semua donatnya enam puluh ribu rupiah, air mineralnya lima ribu. Totalnya enam puluh lima ribu rupiah, Kak."


Altharazka mengeluarkan selembar uang dengan gambar proklamator berwarna merah dan menyerahkannya kepada penjual itu. "Ini, Bu."


Ketika si penjual mengembalikan kembaliannya, Razka menolak. Dia menitipkan pesan untuk diberikan kepada penjual donat saja. Usai itu, cowok itu pergi dengan membawa kantong plastik. Dalam perjalanan Razka menatap kantong plastik yang dia pegang.


"Bahkan sebelumnya mana pernah aku membawa kantong plastik seperti ini," gumamnya.


Di dalam mobilnya, Razka kemudian membuka kantong plastik itu dan mencoba satu donat. Kala mengunyahnya saja memang itu terasa enak. Memang donat kentang khas rumahan.


Tiba-tiba saja Altharazka menundukkan wajahnya."Rasa donat ini mengingatkanku dengan donat rumahan buatan Mama."


Ya, Razka teringat dengan donat yang dulu dibuatkan oleh Mamanya. Donat yang digoreng dan ditaburi bubuk gula berwarna putih. Donat itu selalu menjadi kesukaan Razka. Namun, setelah perceraian Mama dan Papanya dan Mamanya yang sekarang berada di London, Razka tak pernah lagi memakan donat.


"Ini sangat mirip dengan donat buatan Mama. How are you, Ma? Bahkan dalam dua belas bulan belakangan tak ada kabar dari Mama. Apa Mama sudah melupakan Razka?"


Razka akhirnya mengambil satu donat lagi dan memakannya. Air mata di pelupuk matanya nyaris menetes. Bukan tentang Alona, tapi teringat Mamanya. Hingga Razka tak sadar sudah menghabiskan lima buah donat.


"Kalau Mama tidak bercerai dengan Papa, mungkin Razka tidak akan menjadi seperti ini. Razka masih bisa memakan donat buatan Mama."


Cowok itu hanya bisa berkata-kata dalam batinnya saja. Ada alasan kenapa seseorang menjadi bad boy, mengalami perubahan sikap dan karakter. Sama seperti Razka bahwa perceraian kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi sosok introvert dan mulai menyukai dunia balap.