
Akhir pekan kembali tiba, Razka sekarang bersiap untuk les. Jika biasanya dia bersikap ogah-ogahan, tapi sekarang dia sangat semangat. Bertemu dan berteman dengan Alona lama-lama bisa terasa cocok untuk Razka.
"Al," sapa Alona begitu dia sudah memasuki rumah Altharazka.
Jika biasanya ART atau Bibi yang membukakan pintu. Sekarang, Altharazka sendiri yang membukakan pintu untuk Alona. Cowok itu bahkan nyaris tersenyum kala menatap Alona yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Masuk, Lona," kata Razka mempersilakan Alona masuk ke rumahnya.
"Tumben biasanya Bibi yang membukakan pintu?"
"Sesekali tidak apa-apa," balas Razka.
Setelah itu, keduanya menuju ke ruang tamu. Tempat yang biasa mereka gunakan untuk belajar bersama. Hingga akhirnya, Alona mengeluarkan beberapa buku.
"Pelajaran Bahasa Indonesia, Al," katanya.
"Iya, aku sudah mengambil bukuku juga," balas Altharazka.
"Ada pertanyaan enggak?" tanya Alona.
"Baru datang, sudah menanyakan pertanyaan," sahut Altharazka.
Alona kemudian tersenyum. "Siapa tahu kamu sudah memiliki pertanyaan sebelumnya. Kan tidak salah. Aku di sini kan membantumu belajar," balas Alona.
Mendengar apa yang Alona sampaikan, Altharazka mengangguk perlahan. Sayangnya, dia tidak menyiapkan pertanyaan apa pun. Bisa bertemu Alona saja sudah membuat Altharazka senang. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Sangat alamiah.
"Kenapa Al?" tanya Alona lagi. Sebab, menurut Alona beberapa saat tadi Alona merasa Altharazka sedang melihatnya.
"Tidak ... tidak ada apa-apa kok," balas Altharazka dengan menggelengkan kepalanya.
Merasa tidak terjadi apa-apa. Keduanya memilih kembali mengerjakan pelajaran Bahasa Indonesia. Sesekali Alona menjelaskan topik yang Razka tidak bisa.
"Mau jalan-jalan denganku sebentar, Lon?" tanya Altharazka dengan tiba-tiba.
"Hm, kemana?" tanya Alona dengan bingung.
"Ke luar, ke taman aja. Break sepuluh menit aja," balas Altharazka.
Alona akhirnya menganggukkan kepalanya. Tidak ada salahnya istirahat sepuluh menit saja, dan nanti akan kembali melanjutkan belajarnya. Gadis itu mengekori Altharazka yang berjalan di depannya.
"Harus di mana memangnya?" tanya Alona.
"Di sampingku," balas Altharazka.
Lagi-lagi cowok itu bertindak sangat Impulsif. Dia tidak ingin Alona mengekori di belakangnya, tapi dia menginginkan Alona berjalan di sisinya, di sampingnya. Gadis itu semakin hari semakin bingung dengan sikap Razka yang semakin berbeda.
"Loe gak kenapa-napa kan, Al?" tanya Alona lagi.
"Gak, kenapa emangnya?" tanya Razka.
Alona menggelengkan kepalanya. Dia kemudian membuang wajahnya ke arah yang berlawanan sebelum akhirnya menjawab. "Loe beda banget, Al. Semakin hari, gue merasa loe semakin baik," balas Alona.
Alona berkata dengan jujur bahwa memang semakin hari, rasanya Altharazka semakin baik. Cowok itu sudah bermetamorfosa dari cowok menyebalkan dan sekarang menjadi cowok yang peduli dengannya.
"Duduk sana yuk," ajak Razka sembari menunjuk gazebo yang ada di taman itu.
Mengikuti Altharazka, Alona mau-mau saja duduk di gazebo dengan Razka. Namun, pada kenyataannya Altharazka sengaja duduk lebih dekat dengan Alona. Lengan mereka saja sampai berkenaan satu sama lain.
"Kayaknya gue harus geser," kata Alona sekarang.
Belum sempat Alona menggeser duduknya, Razka sudah menahan Alona terlebih dahulu. "Sudah, duduk saja. Kita juga bukan orang asing untuk satu sama lain kan?" tanya Altharazka.
Di saat itu, Alona tercengang. Memang mereka sudah sering bertemu sekarang. Akan tetapi, bagi Alona ya mereka hanya sekadar berteman saja tidak akan pernah lebih.
"Jadi sosok yang lebih baik yah, Al. Aku yakin Papamu juga bahagia dengan perubahan kamu ini," kata Alona.
"Dari dulu gue juga baik kok."
"Iya, tahu kok."
"Lona, kamu udah punya cowok belum?" tanya Altharazka dengan tiba-tiba.
Mendengarkan pertanyaan Altharazka, Alona tersenyum. "Gue dari keluarga gak punya, Al. Gak memikirkan pacaran. Yang gue pikirin adalah gimana caranya sekolah yang tinggi dan memperbaiki nasib supaya meningkat. Tidak berada di bawah garis kemiskinan."
Itulah Alona. Daripada menghabiskan waktu memikirkan seorang cowok, lebih baik sekolah. Cita-cita yang Alona miliki adalah ingin keluar dari garis pendidikan. Alona yakin dengan pendidikan, nanti dia akan memiliki peluang untuk mengubah nasib keluarganya.