
Rasanya kemarin Altharazka dan Alona masih baik-baik saja. Akan tetapi, sekarang justru cinta yang baru bersemi itu seakan harus dipatahkan. Ibarat bunga, sang kelopak bunga harus layu dan dibuang ke tanah. Hal yang disesali oleh Altharazka tentunya. Selain itu, pintu untuk menjelaskan pun juga tidak tersedia untuknya.
Begitu sampai di kelas, keduanya memilih sama-sama diam. Walau begitu, Altharazka kesusahan untuk konsentrasi dengan pelajaran. Pikirannya dipenuhi oleh Alona, Alona, dan Alona saja.
Jika biasanya keduanya berkomunikasi sebentar ketika pergantian jam mata pelajaran atau waktu istirahat. Sekarang tidak sama sekali. Altharazka menoleh ke belakang pun tidak. Jujur, hati dan perasaannya sangat kacau sekarang.
Diamnya Altharazka dan Alona ternyata terendus oleh Arsenio. Sehingga anak dengan tampilan baik-baik, yang rupanya adalah bagian dari Thunderbolt itu mencibir Razka.
"Wah, yang biasanya wajahnya cerah, full senyum, sekarang manyun. Patah hati loe," cibir Arsenio.
Akan tetapi, Razka memilih diam. Dia membiarkan Arsenio dan cibirannya. Tak ingin meladeni Arsenio yang banyak bicara itu.
Melihat Razka hanya diam dan menunjukkan reaksi dingin, akhirnya Arsenio memilih menjauh. Daripada, terjadi huru-hara dengan Arsenio lagi. Sementara Alona benar-benar fokus dengan belajar. Semua dia alihkan dan konsentrasi hanya dengan pelajaran saja.
Tidak terasa waktu belajar di sekolah pun usai. Sekarang, semua berhamburan keluar dari pintu gerbang sekolah untuk pulang. Kebetulan hari ini adalah jadwal piket Alona. Sehingga, usai pulang sekolah Alona harus membersihkan kelas terlebih dahulu.
Kesempatan ini dimanfaatkan baik-baik oleh Altharazka. Ketika hanya Alona yang berada di dalam kelas, pria itu memilih menunggu dan meminta penjelasan kepada Alona.
"Kamu hutang penjelasan kepadaku, Lona," kata Altharazka.
Akan tetapi, Alona menghindar. Cewek itu berusaha mengabaikan Altharazka. Justru, mulai ada rasa tidak nyaman di dalam hati Alona sekarang.
"Lona, aku berbicara kepadamu," kata Altharazka lagi.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Al. Kamu sudah tahu kan kalau Ibuku melarangku untuk pacaran dengan anak motor," balas Alona sekarang.
Altharazka memejamkan matanya sesaat, setelah itu dia berbicara lagi kepada Alona. "Aku sudah keluar dari anak motor, Alona. Aku sudah meninggalkan semua. Sama seperti yang kamu minta sebelumnya. Kalau aku mau dan telah meninggalkan semua, apa kamu tidak bisa memberikan penjelasan kepada Ibu?" tanya Altharazka.
"Aku sudah menjelaskannya. Sayangnya, Ibu lebih percaya dengan omongan tetanggaku yang melihat kamu adalah anak motor dan pernah balapan. Kalau sudah begitu, aku bisa apa Al?"
"Apa semua ini terkait dengan mendiang kakak kandungmu, Lona? Mendiang Aldi?" tanya Altharazka sekarang.
Alona terdiam. Tebakan Razka sepenuhnya tepat. Bagaimana pun motor balap seolah menjadi momok menakutkan untuk keluarga Alona. Imbas dari balap motor membuat keluarga Alona kehilangan putra sulungnya.
"Aku sudah meninggalkan dunia balap, Lona. Apa yang kamu minta sudah aku lakukan," balas Altharazka.
"Aku tahu," sahut Alona singkat.
"Itu semua hanya kecelakaan, Lona. Tidak ada hubungannya dengan mendiang Kak Aldi. Terima kenyataan dan ikhlaskan Kak Aldi," kata Altharazka lagi.
Seketika Alona meneteskan air matanya. Keluarganya masih merasakan duka mendalam. Bahkan balap motor seolah menjadi hal yang menakutkan untuk keluarga Alona sendiri. Sementara Altharazka meminta keluarga Alona untuk mengikhlaskan. Biarkan mendiang Aldi bahagia di atas sana.
"Bedakan nasib setiap orang, Alona. Aku tidak sama dengan almarhum kakakmu, Lona," kata Altharazka.
Altharazka hanya meminta Alona dan keluarganya berpikir realistis. Tidak menyangkut pautkan masa lalu. Altharazka tidak sama dengan mendiang Aldi.
"Al," ucap Alona dengan terisak.
Maka, Altharazka mengambil beberapa langkah ke depan dan juga memeluk Alona yang menangis begitu saja.
"Jangan menangis, Lona. Aku paling tidak bisa melihatmu menangis," kata Altharazka sekarang.
Alona terisak untuk beberapa saat lamanya. Usai itu, Alona mendorong perlahan dada Altharazka.
"Kita sampai di sini, Al. Rasanya tidak pernah bisa Ibuku menerimamu. Sampai kapan pun," balas Alona.
Usai itu Alona mengambil tasnya dan belari dengan berlinang air mata. Dia lari dari hadapan Altharazka. Sebesar apa pun perasaan yang dia miliki untuk Altharazka, tidak akan pernah ada restu dari Ibunya. Oleh karena itu, Alona memilih menekan perasaannya.