
Meninggal sejenak Razka dan sekolahnya. Di markas Thunderbolt sekarang suara musik Rock mengalun begitu kencang. Sangat kencang malahan, sampai dinding dan jendela kaca di ruangan itu terasa bergetar.
Petikan gitar, ketukan drum, bahkan suara penyanyi begitu kencang. Di sana ada pria bengal yang tengah menenggak Amer langsung dari botolnya. Menikmati suasana yang sebenarnya bisa memecahkan telinga.
"Gue masih belum bisa menerima kekalahan memalukan dari loe, pemuda bau kencur," teriak Max sekarang.
Walau hampir sebulan berlalu, Max masih merasa kesal pasca kekalahan dari Razka. Dia merasa yakin dengan kemampuannya dan bisa mengalahkan Razka. Namun, apa daya terjadi masalah dengan motornya dan motornya berhenti begitu saja, gasnya tidak bisa dipacu lagi.
"Gue akan menunggu hari yang baik, saat yang tepat. Nanti, kalau waktu itu datang, gue bakalan balas dendam ke loe, anak bau kencur," kata Max seorang diri.
Dengan masih menegak Amer, Max berpikir matang dan berusaha mencari cara untuk membalas dendamnya kepada Razka. Namun, Max tidak ingin gegabah. Dia ingin pembalasannya tepat sasaran dan pasti bisa menghancurkan Razka sepenuhnya.
Hingga di saat bersamaan, Anak-anak Thunderbolt datang. Aroma Amer bercampur alkohol begitu menusuk hidung. Selain itu kata-kata keras kian membuat markas yang dipenuhi tulisan graviti itu berisik.
"Bos, balapan yuk?" ajak anak-anak Thunderbolt.
"Ogah," balas Max dengan ketus. Lagi pemuda itu meminum Amer di tangannya.
"Kenapa sih, Bos? Sejak kalah sama ARC, Bos jadi linglung kayak gini."
"Linglung, mulut loe!"
Max menjadi marah. Dikatai linglung oleh anggota Thunderbolt membuatnya emosi. terlebih ada pengaruh alkohol dari Amer yang dia minum.
"Daripada banyak b*cot, lebih baik kalian intai tuh si kunyuk dari ARC. Gue Max, sampai kapan pun, gue gak akan mau kalah dari si Kunyuk itu."
Itu adalah perintah dari Max. Apa pun yang terjadi, Max tak ingin mengalah dan kalah dari Razka. Suatu saat itu, pasti dia akan membalas kekalahan yang pernah dia terima. Selain itu, Max juga meminta anak buahnya mengintai Razka agar bisa mengetahui kelemahan Razka.
"Siap Bos!"
Masing-masing anak Thunderbolt pun mengangkat botol alkohol mereka dan melakukan tos bersama. Perintah dari Max pasti akan mereka lakukan. Anak-anak Thunderbolt siap mengintai Razka dan anggota ARC lainnya.
***
Sementara itu di kediaman Razka ....
Jarang memegang sepeda motor dan memacu kuda besinya membuat tangan Razka menjadi gatal rasanya. Dia sampai bingung harus melakukan apa di rumah. Kalau di suruh belajar, pasti dia tidak mau. Selain itu, banyak ART di rumahnya yang bisa melakukan dan mengerjakan apa saja.
Sekarang pemuda itu hanya rebahan di kamarnya. Sembari tangannya beberapa kali menyugar rambutnya.
"Gak ada kerjaan banget. Gila aja, bokap mengurung gue di rumah."
Tiada hari berlalu tanpa keluh kesah dan kesalnya Razka. Hidupnya menjadi monoton. Bahkan ketika Raga dan anak-anak ARC menghubungi saja dan mengajak adu balap, Razka tidak bisa ikut. Semua itu tentu tidak ada kuda besinya. Bahkan sekarang kunci motor balapnya di mana pun Razka tidak tahu.
"Apa sebaiknya gue baikin Bokap yah... pura-pura jadi anak yang baik dan taat, biar dapat motor kembali. Bisa gila kalau terus-menerus seperti ini."