Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Baru Bersemi Sudah Patah Hati



Walau meninggalkan Alona dan Altharazka, tetapi terlihat bahwa Ibunya Alona masih berusaha menatap keduanya dari jauh. Altharazka merasa syok, dia tidak menyangka bahwa reaksi yang ditunjukkan orang tua Alona adalah seperti ini. Bahkan cukup dengan satu alasan kenapa Ibunya Alona menolak Razka yaitu karena dia adalah anak motor. Belum Razka memberujan penjelasan, tapi dia sudah ditolak dengan mentah-mentah.


Altharazka yang semula tertegun pun mulai mengenakan helm full face nya lagi. Yang ada di dalam benak Razka sekarang adalah mengejar Alona. Razka tidak ingin Alona berangkat ke sekolah dengan menaiki bus. Dia akan membujuk Alona untuk mau bersamanya.


Segera menstarter sepeda motornya, Altharazka berusaha mengejar Alona sebelum Alona sampai ke halte Bus. Perasaan Altharazka sekarang tentulah campur aduk. Akan tetapi, dia ingin fokus terlebih dahulu mengejar Alona.


"Alona, Alona," teriak Razka dengan jarak sekian meter saja di belakang Alona.


Akan tetapi, cewek itu benar-benar tidak menoleh ke belakang. Sebenarnya, tanpa Razka tahu, Alona menangis dengan terus melangkah. Dia seka sendiri guliran bening yang keluar di sudut matanya.


"Al, Alona ... Lona."


Altharazka masih berusaha. Sesak sekali rasanya. Seakan bunga di hatinya yang baru mekar, harus layu sekarang. Itu membuat Altharazka begitu sedih dan frustrasi di saat bersamaan.


Hingga akhirnya, Altharazka berhasil untuk mendapatkan Alona. Dia mulai menghadang Alona dengan turun dari motornya.


"Lona, jangan seperti ini. Ayo, berangkat ke sekolah bersamaku. Aku tidak ingin kamu menaiki bus," kata Razka.


Altharazka menghela napas panjang, dia tanpa pikir panjang mulai menggenggam tangan Alona."Kita bisa melakukannya dengan diam-diam. Aku akan menerimanya," kata Altharazka.


Yang Altharazka pikirkan sekarang adalah jika harus backstreet pun Altharazka bersedia. Asalkan Alona tak menjauhinya seperti ini. Sungguh, Altharazka sedih sekali rasanya.


"Kita hanya teman, Al. Kamu dan aku hanya teman. Hubungan di antara kita tidak akan pernah berubah. Jadi, kita kembali ke kebiasaan dan habitat kita sebelumnya, Al," jelas Alona.


Gadis itu menarik tangannya yang semula berada di dalam genggaman Razka. Usai itu, Alona mempercepat langkah kakinya. Dia harus tiba di halte bus supaya tidak terlambat masuk ke sekolah.


Dengan lenyapnya tangan Alona yang semula berada di dalam genggamannya, Altharazka terkejut. Dia belum bisa menerima Alona yang menolaknya dengan tiba-tiba. Selain itu, dengan ucapan Alona yang menegaskan bahwa mereka hanya teman rasanya benar-benar tidak bisa menerima.


Dengan hati yang hancur Altharazka kembali menaiki sepeda motornya dan kemudian mulai membuntuti Alona dari belakang. Bahkan ketika Alona menaiki sebuah Bus, Altharazka membuntuti bus itu dengan sepeda motornya. Sungguh, hatinya hancur kala seperti seorang pemuda patah hati sekarang.


Bunga di hatinya baru bermekaran, tapi harus dipatahkan begitu saja. Kelopak bunganya berguguran ke tanah. Tidak ada waktu lagi untuk menunjukkan ronanya. Layu sebelum berkembang. Alona menolaknya. Hanya patah hati yang menggores di dalam dada.


"Cintaku murni, Al. Bahkan aku meninggalkan balap motor dan duniaku. Aku berusaha menyebrang ke duniamu, Alona. Akan tetapi, tidak ada waktu yang ada sekarang hanya penolakan."