
Untuk Altharazka, dia sama sekali tidak bisa menerima keputusan Alona. Akan tetapi, Altharazka akan membuktikan dirinya bahwa dia bukan lagi seorang anak motor. Dia akan datang dan memberikan penjelasan kepada Ibunya Alona. Sebab, Altharazka tidak ingin seseorang meragukannya begitu saja walau sebenarnya mereka belum terlalu mengenalnya.
Oleh karena itu, di akhir pekan biasanya Alona akan datang ke rumahnya dan memberikan les untuk Altharazka. Sekarang, pagi harinya Altharazka sudah bersiap. Papanya sendiri sampai bingung hendak kemana Altharazka pergi.
"Ini hari Sabtu loh, Razka. Tumben pagi-pagi kamu sudah rapi," kata Papa Allister.
"Mau keluar sebentar, Pa," balas Altharazka.
"Ya sudah, hati-hati saja. Mau bawa motor atau mobil?" tanya Papanya.
"Sepeda motor aja, Pa."
Berpamitan dengan Papanya akhirnya, Altharazka mulai menyusuri jalanan di Ibukota. Tempat yang dia tuju sekarang adalah rumah Alona. Bukan menemui Alona, tapi dia ingin menemui Ibunya Alona dan menjelaskan bahwa Altharazka yang sekarang bukanlah seorang anak motor.
Menempuh perjalanan beberapa puluh menit, hingga akhirnya Altharazka mengucapkan salam di depan pintu rumah Alona. Berharap si empunya rumah akan menyambutnya dengan baik.
"Permisi ... selamat pagi," salam dari Altharazka.
Tidak ada kegentaran di dalam hati Altharazka. Apa pun akan dia hadapi. Akan tetapi, Altharazka ingin bahwa orang tua Alona tidak terlalu berpikiran negatif dulu kepadanya.
Tidak berselang lama kemudian justru Alona yang datang dan membukakan pintu. Cewek itu terlihat kaget ketika ada Altharazka yang datang ke rumahnya.
"Al," sapa Alona dengan lirih.
"Permisi, Lona. Ibu kamu ada?" tanya Altharazka.
Baru sekian detik dan Ibunya Alona tampak keluar dari dalam kamar. Dia menanyai siapa yang datang pagi-pagi.
"Siapa Alona?" tanya Bu Sani.
Belum Alona memberikan jawaban, sekarang Bu Sani sudah melihat sendiri Altharazka yang berdiri di depan pintu rumahnya. Tentu itu adalah kejutan dan hal yang tidak disukai oleh Bu Sani.
"Permisi, Ibu," sapa Altharazka.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Bu Sani.
"Saya datang untuk menjelaskan sesuatu, Bu," balas Altharazka.
"Ibu, saya datang untuk menjelaskan. Benar saya akui, dulu saya anak geng motor, Bu. Namun semuanya sudah berubah. Saya sudah bukan lagi anak geng motor," jelas Razka.
Alona menundukkan kepalanya kala Altharazka memberikan penjelasan kepada Ibu Sani. Sementara tampak Bu Sani yang merasa bingung. Dia juga tidak mengira Altharazka memiliki keberanian untuk datang dan memberikan penjelasan.
"Sekali masuk geng motor, selamanya kamu akan terikat di dalamnya. Musuhmu akan terus mengintai kamu," balas Bu Sani.
Sebenarnya yang Bu Sani sampaikan ada benarnya. Itu juga Altharazka rasakan sendiri bagaimana Max yang merasa tidak terima dan masih mencari masalah dengannya. Padahal untuk semuanya, Altharazka sudah melupakan.
"Bu, tapi Altharazka sudah meninggalkan semuanya. Tidak ada geng motor atau balapan lagi. Semua itu karena Alona, Bu. Razka lakukan semua untuk Lona," katanya.
Keberanian Altharazka berani berbicara memang layak diacungi jempol. Akan tetapi, Bu Sani rasanya tetap tidak bisa menerima. Semua terhubung dengan traumatis di masa lalu yang membuatnya kehilangan putra sulungnya.
"Razka juga akan menjaga Alona, Bu," kata Razka sekarang.
"Bukan perkara menjaga, tapi komunitasmu itu ketika menganggap seseorang adalah musuh, selamanya akan tetap menjaga musuhnya. Selain itu, bisa saja mereka menyerangmu dadakan dan tidak manusiawi. Itu sudah Ibu alami sendiri, Razka. Sampai Ibu kehilangan putra Ibu," cerita Bu Sani.
"Razka akan lebih berhati-hati, Bu ..., Razka berjanji kepada Ibu. Namun, Razka juga tidak bisa menyerah begitu saja. Razka ... sayang ... Alona."
Pemuda bad boy seperti Razka memiliki sikap naif juga. Dia mengatakan kepada Ibunya Alona bahwa dia sayang kepada Alona. Untuk kalangan remaja, masih anak SMA, tapi Altharazka tak segan untuk mengatakan perasaannya.
"Kamu sendiri bagaimana Alona?" tanya Bu Sani kepada putrinya.
"Sama, Bu," jawab Alona dengan berlinang air mata.
Bu Sani kini tahu bahwa putrinya mulai dewasa. Sudah mengenal jatuh cinta. Itu juga bisa Bu Sani di wajah Alona sekarang.
"Kalian itu masih kecil-kecil. Kalau pacaran apa kalian bisa menjaga? Gaya pacaran anak SMA yang kayak gitu Ibu gak suka," balas Bu Sani.
Tidak memungkiri gaya pacaran anak SMA sekarang itu menakutkan dan penuh coba-coba. Bu Sani juga khawatir dengan Altharazka dan Alona yang masih sama-sama SMA, ada kalanya hasrat yang mendominasi, ada perasaan ingin mencoba lebih.
"Razka tidak akan melakukan itu, Bu. Razka akan menjaga Alona," kata Razka.
Ya, kala itu Razka berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Yang aneh dipikiran Razka sekarang adalah paling sebatas mencium Alona saja. Itu saja, rasanya sudah begitu luar biasa untuk Altharazka.
"Pacaran yang positif. Jangan aneh-aneh. Kalau sampai aneh-aneh, Ibu akan mencarimu sampai ketemu, Razka."