Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Berbeda Bahasa



Meninggalkan percakapan ala anak Ibukota pada umumnya dan sekarang menjadi percakapan dengan kata ganti aku dan saran, rasanya membuat Altharazka begitu senang. Benarkah itu karena Alona memang sudah memiliki perasaan kepadanya? Akan tetapi, Alona sejak kemaren tidak memberikan jawaban sama sekali.


"Alona, kamu boleh pegangan aku loh. Availabel," balas Altharazka.


"Enggak begini saja, kan bukan motor balap," balas Alona.


"Oh, jadi pegangannya kalau naik motor balap yah? Ya sudah deh, besok aku memakai motor balap aja," balas Razka.


Dengan cepat Alona menggelengkan kepalanya. "Jangan, Al. Kamu sudah janji sama aku," balas Alona.


Sebenarnya tak perlu Alona mengingatkan janji itu, karena Razka sudah mengingatnya dengan baik. Bahkan Altharazka sudah berjanji tidak akan menyentuh motor balapnya lagi. Dia akan mewujudkan apa yang Alona pinta.


"Aku selalu ingat permintaanmu," balas Razka.


"Thanks, Al," balas Alona.


Perjalanan ke sekolah pagi ini seolah menjadi momen manis untuk Altharazka. Namun, seperti biasa, Razka masih terlihat cool. Supaya tidak begitu merubah imagenya. Hingga akhirnya, sekarang mereka sudah tiba di sekolah. Seperti biasa, dari tempat parkir hingga ke kelas mereka berjalan bersisian. Walau tak banyak bicara, tapi ini sudah sangat menyenangkan untuk Altharazka.


Perubahan penampilan Razka pun seolah menjadi hal yang mengejutkan untuk beberapa teman satu kelasnya. Terutama Sisca. Seperti biasa, dia pun mendekat dan merespons berlebihan.


"OMG, Altharazka. Kenapa kamu begitu berbeda. OMG, tambah cakep loh," kata Sisca dengan begitu centilnya.


Sementara Alona yang mendengarkan itu memilih cuek. Gadis itu segera duduk di tempatnya. Alona mengakui dalam hati bahwa Altharazka memang lebih cakep dengan penampilan barunya yang lebih rapi. Sayangnya, Alona tidak memuji Altharazka secara langsung. Dia cukup mengakui di dalam hati saja.


"Altharazka, aku ini bicara loh, bukan ngoceh. Kenapa kamu selalu cuek?" tanya Sisca.


"Berisik, udah duduk sana," balas Altharazka.


"Boleh enggak, duduk dekat kamu aja?" tanya Sisca.


Altharazka seperti biasa selalu menolak Sisca. Dia sama sekali tak tertarik dengan Sisca. Sebab, Altharazka sudah menautkan hatinya pada gadis yang kini duduk di belakangnya yaitu Alona.


Kesal dengan penolakan Altharazka, akhirnya Sisca pun memilih untuk duduk di tempatnya. Dia kesal karena selalu gagal mendapatkan hatinya Altharazka. Padahal dia sangat cantik, dan pintar juga, walau tak sepintar Alona. Akan tetapi, Altharazka selalu menolaknya.


Usai kepergian Sisca, Alona pun memanggil Altharazka dengan cara menepukkan pena ke bahu Razka. Hanya dengan cara itu saja Altharazka sudah menoleh ke belakang. Sebenarnya Altharazka ingin tersenyum, tapi Altharazka memilih untuk memasang wajah cool seperti biasanya.


"Sudah sarapan?" tanya Alona.


"Belum," balasnya.


Alona kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari tas miliknya dan memberikannya kepada Altharazka. "Donat, untuk kamu."


"Donat?" tanya Altharazka.


"Iya, dimakan yah. Habiskan," pinta Alona.


Altharazka menganggukkan kepalanya. Dia paham ini bahasa berbeda yang coba disampaikan Alona kepadanya. Akan tetapi, Altharazka memilih cool dan santai. Tidak ingin terlalu mencolok. Dengan donat yang hanya ditaburi gula itu saja hatinya sudah sangat bahagia, kalau bisa ingin dia museumkan donat-donat itu. Akan tetapi, karena Alona meminta untuk dimakan dan dihabiskan, maka Altharazka akan memakannya nanti.


"Thanks," kata Altharazka.


"Sama-sama, Al. Makasih banyak yah," kata Alona.


"Hm, untuk apa?" tanya Altharazka.


"Untuk semuanya."


Altharazka mengernyitkan keningnya. Untuk apa Alona berterima kasih kepadanya. Padahal Altharazka tidak mengharapkan apa pun. Dia senang dan bahagia melakukan apa pun untuk Alona.