Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Terpaksa Menerima



Terus-menerus bertemu dengan Altharazka membuat Alona jengah sebenarnya. Di sekolah, mereka duduk depan belakang. Menatap punggung Altharazka setiap hari, dan melihat betapa tidak semangatnya cowok itu dalam belajar. Tidak hanya itu, di rumah pun bertemu karena harus memberikan les untuk Altharazka.


Alona sampai berpikir dalam hati, apa yang sebenarnya membuatnya harus terus bertemu dengan cowok yang mulai tidak dia sukai itu. Penampilan yang tidak rapi, semangat belajar rendah, dan satu lagi dari setiap barang yang Altharazka gunakan sudah mencerminkan bahwa cowok itu adalah anggota geng motor.


"Katamu kamu ingin kuliah tanpa merepotkan orang tua," kata Papa Allister sekarang.


"Itu benar sih, Om," balas Alona dengan lirih.


"Ya sudah, bantulah Razka belajar. Tidak muluk-muluk targetnya. Nilainya yang seperti kebakaran hutan bisa menjadi angka tujuh saja sudah baik," balas Papa Allister.


Lagi, Alona berpikir benarkan nilai yang didapatkan Altharazka selalu merah. Itu berarti kurang dari batas nilai minimum di sekolah. Apakah Altharazka memang tidak sepandai itu, sampai nilainya merah semua?


"Baiklah, Om," jawab Alona.


Papa Allister tersenyum, "Ya sudah. Sana belajar. Enggak lama-lama kok, cuma 90 menit," katanya.


"Usai itu, Razka bisa mendapatkan kunci motor, Pa?" tanyanya tanpa melihat wajah Papanya.


"Tergantung keseriusan kamu belajar," balas Papa Allister.


Ah, rasanya Razka kian kesal. Daripada disuruh belajar, lebih baik disuruh lari maraton di Monas. Namun, demi mendapatkan kembali kunci sepeda motornya Razka harus mengikuti perintah Papa.


"Kamu mau belajar apa, Al?" tanya Alona.


"Bukan begitu, kalau loe kesulitan di mata pelajaran tertentu, gue akan nolong," balas Alona.


"Terserah loe deh, yang penting 90 menit ini segera berlalu. Bosen gue, cuma lihat loe sepanjang minggu," balas Altharazka.


"Emang loe aja yang bosen. Gue juga bosen," balas Alona dengan kesal.


Hingga akhirnya, Alona mengeluarkan tugas Bahasa Inggris. Dia sangat yakin bahwa Altharazka pastilah belum mengerjakan tugas dari Bu Heny. Jadi, lebih baik membiarkan Altharazka mengerjakan tugas itu terlebih dahulu.


"Loe kerjakan ini dulu, Al. Nanti biar gue cek. Kalau ada pertanyaan langsung tanya aja," balas Alona.


Melihat tugas bahasa Inggris itu saja, sudah membuat Altharazka kesal. Namun, Senin nanti memang tugas itu harus segera dikumpulkan. Sementara Altharazka memang belum mengerjakan sama sekali.


"Gimana loe aja yang kerjakan, Al. Gue bisa kasih loe bayaran lebih," balas Altharazka.


Mendengar apa yang dikatakan Altharazka, Alona menjadi sangat kesal. Niatnya adalah membantu Altharazka belajar dan meningkatkan nilainya. Akan tetapi, Altharazka justru menawarkan supaya Alona yang mengerjakan saja dan nanti dia akan membayar Alona.


"Gue memang butuh uang, Al ..., tapi bukan kayak gini cara loe. Hargai orang lain, Al. Tidak semua hal bisa loe beli dengan uang loe," balas Alona.


Usai itu, Alona duduk beringsut dan menjauh. Membiarkan Altharazka mengerjakan terlebih dahulu. Sementara Alona memilih diam karena dia kesal dengan Altharazka.


Ketika Alona diam, di sana Altharazka barulah mengerjakan tugasnya. Jujur saja mendengar jawaban Alona barusan membuat Altharazka merasa bersalah. Akan tetapi, Altharazka enggan meminta maaf. Praktis, di ruang tamu untuk belajar itu menjadi begitu tenang. Baik Alona dan Altharazka tidak ada yang membuka percakapan terlebih dahulu.