
Razka tahu semua yang ada itu memiliki risikonya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan balapan, risiko terjadinya kecelakaan itu bisa saja terjadi. Sebab, Razka sendiri sudah merasakan bagaimana dirinya tergelasar di jalanan dan membuat kakinya luka.
Masih dengan Alona yang duduk di sampingnya dan menenangkan diri, Razka melirik sekilas gadis itu. Lantas tangannya meraih sebuah tissue dan memberikannya untuk Alona.
"Sudah, jangan menangis," kata Altharazka.
"Makasih, Al," balas Alona.
Altharazka menganggukkan kepalanya secara samar. Tidak hanya itu Razka juga mengambilkan air minum untuk Alona. Dia berharap bahwa Alona menjadi lebih tenang saja.
"Al, jadi ... bagaimana, jangan balapan lagi yah," pinta Alona sekarang.
"Keputusannya harus sekarang, Lon?" tanya Altharazka dengan semakin mendekat ke sisi Alona.
Didekatin Razka membuat Alona beringsut. Ada rasa malu dan deg-degan di dalam hatinya. Alona bahkan sampai membuang wajahnya.
"Al, jangan deket-deket," kata Alona.
"Kenapa? Grogi? Takut kalau loe sampai naksir ke gue?" tanya Razka dengan tiba-tiba.
Tak cukup berbicara panjang lebar, rona merah jambu di pipi Alona menyiratkan bahwa gadis itu sedang malu. Alona kemudian mencubit lengan Altharazka, dan mendorong dada cowok itu untuk menjauh.
"Ayo, belajar, Al. Loe boleh menjawab sekarang, boleh tidak. Tolong pertimbangkan ceritaku tadi," balas Alona.
Sepenuhnya Alona memahami bahwa memang keputusan ada di tangan Altharazka. Namun, Alona ingin supaya Altharazka mempertimbangkannya saja. Yang baik menurut diri sendiri, belum tentu baik juga sebenarnya. Balapan terlalu berisiko tinggi.
Awal muka balapan motor, Papa Alliester juga sama sekali tidak setuju. Takut jika terjadi hal-hal yang buruk kepada putra bungsunya itu. Akan tetapi, Razka tetap suka balapan.
"Loe udah tahu risikonya, kenapa masih melakukannya?" tanya Alona.
"Karena gue suka. It's so simple."
Ya, tidak ada alasan lain untuk Razka. Kenapa dia suka balapan motor? Karena dia suka. Alasan yang sangat simpel.
"Kalau alasannya simpel, tapi risikonya tidak simpel, Al," balas Alona.
Altharazka mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu bahkan bisa dikatakan balapan berisiko tinggi. Kalau suka balap motor, Altharazka sudah mengetahui semuanya.
Usai itu, Alona tersenyum tipis dan dia menatap Altharazka. "Gue yakin suatu hari nanti, loe bakalan mendapat alasan khusus kenapa loe harus berhenti, Al. Dalam dunia balapan, yang hari ini kawan loe, di lain waktu bisa menjadi musuh loe. Sama seperti Arsenio, tidak menyangka kan, good boy seperti dia, rupanya musuh yang menusuk dari belakang? Tidak menyangka kan dia ikut anggota balap yang menegak anggur merah dan menghisap rokok."
Pikiran Altharazka seketika menjadi kacau, dia kemudian menganggukkan kepalanya lagi. Benar, siapa sangka siswa baik-baik seperti Arsenio adalah bagian dari Thunderbolt yang meminum alkohol dan menghisap rokok. Padahal di sekolah, Arsenio adalah cowok baik-baik.
"Ya sudah, Al ... pikirkan dulu ya, Al. Sekarang kita udah kelas tiga, masa SMA juga sudah mau berakhir, Al. Fokus ke ujian dulu yah. Gue udah seneng, nilai loe makin naik, artinya gue berhasil bantuin loe belajar. Namun, gue masih meminta satu hal itu," kata Alona.
"Gue mau berhenti ... dengan satu syarat, Lon!"
Razka mengatakan hal itu dengan tiba-tiba hingga membuat Alona membelalakkan mata. Syarat apa kira-kira yang diinginkan Razka?