Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Nilai Kejutan



Keesokan harinya, Razka ke sekolah dan masih sama bersikap biasanya saja. Sosok Razka layaknya pemuda tsundere yang cool, dan seolah tak tertarik dengan apa pun. Lebih banyak diam, dan menebar aura dingin.


Akan tetapi, sifat Razka berubah menjadi seperti itu ada penyebabnya. Semua itu karena perpisahan orang tuanya dan kepergian Mamanya ke London, benar-benar mengubah kepribadian Razka seutuhnya. Tidak ada lagi keceriaan, tidak ada tawa, cowok itu memilih diam, dan akhirnya untuk menyalurkan emosi di dalam dada, Razka memilih balap motor.


"Razka, nanti pengulangan Matematika. Jangan lupa kerjakan semuanya dengan baik. Tunjukkan ke Papa bahwa kamu belajar dengan Alona itu ada hasilnya," pesan Papa Allister.


"Hm," jawab Razka dengan sangat irit.


Cowok itu pun akhirnya turun dari mobil Papanya. Masih mengenakan seragam SMA dengan kemeja yang tak dimasukkan rapi ke dalam celana. Ada juga jaket balap, dan rambutnya yang acak-acakan. Dari sisi penampilan, terlihat jelas Altharazka Allister adalah bad boy. Walau tidak menunggangi kuda besi, tetap saja penampilannya khas anak motor.


Razka pun berjalan santai, tidak peduli dengan teman-temannya yang memperhatikannya . Kakinya terus melangkah menuju ke dalam kelasnya. Kelas masih belum ada beberapa yang hadir, tapi Alona selalu datang pagi, terlihat Alona sudah duduk di mejanya dan terlihat mempelajari sesuatu.


Melihat Razka sudah datang dan duduk, Alona menepuk punggung Razka dengan menggunakan pulpen miliknya.


"Al, Altharazka," panggil Alona lirih.


Cowok yang duduk di depannya itu pun menganggukkan kepalanya. Sedikit beringsut dan menoleh ke belakang.


"Hm, apa?" tanyanya dengan nada bicara seperti biasanya, dingin.


"Semangat ngerjain pengulangannya yah. Gue yakin loe bisa," kata Alona.


Altharazka tak bergeming. Dia kembali menghadap ke depan tanpa memberikan jawaban untuk Alona. Sementara Alona menghela napas panjang, kadang niat baik tidak ditanggapi dengan baik. Alona membiarkan saja, yang penting Altharazka akan mengerjakan dan Alona berharap bahwa Altharazka akan mendapatkan nilai yang baik.


Begitu guru pengajar Matematika sudah datang. Lembar soal segera di berikan. Siswa boleh mengerjakan dengan membuka buku, tentu sekadar untuk melihat contohnya,, dan menerapkan semua rumus yang tertera di sana.


Alona mengerjakan semuanya dengan hati-hati. Berharap akan tetap mendapatkan nilai yang terbaik. Lagipula, untuk Bab Fungsi Linear, Alona sudah belajar dan menguasainya sehingga sekarang pun seakan tidak ada kendala.


Sementara, Altharazka mengerjakan sambil bertopang dagu. Di belakangnya, Alona berharap Altharazka mengerjakan dengan benar. Dia merasa malu dengan Om Allister jika sudah memberikan les, tapi nilainya Altharazka tidak ada kenaikan.


Waktu 90 menit berlalu, maka guru meminta seluruh jawaban dikumpulkan. Selesai atau tidak selesai, semua jawaban harus dikumpulkan.


"Al, kamu bisa mengerjakan enggak?" tanya Alona lagi.


"Gue harap, nilai loe baik," balas Alona.


Terserah Altharazka saja. Jika memang mau menjawab pastilah akan menjawab. Jika tidak, ya sudah biarkan saja.


Hingga akhirnya ada gebrakan tangan Sisca di meja Alona.


Brak!


"Heh, loe ... ngapain ngajak bicara Altharazka terus sih? Ganjen amat sih, loe. Lihat diri loe sendiri. Altharazka gak akan mau nanggepin cewek kismin kalau loe.".


Perkataan kasar dan sarkasme dari Sisca tidak membuat Alona gentar. Gadis itu tersenyum perlahan.


"Walau gue miskin, gue gak minta makan sama loe kok. Tenang aja," balas Alona.


Kesal rasanya Alona. Setahunya, dia tidak pernah ikut campur urusan teman-temannya termasuk Sisca. Akan tetapi, Sisca justru selalu mengatakan perkataan kasar dan merendahkannya.


"Belagu, loe. Anak tukang ojek aja, gayanya selangit. Hm, tunggu dulu. Ada ojek datang tuh. Paket ... Rate bintang lima yah."


Hahahah ....


Sisca dan teman-temannya yang ada di sana menertawakan Alona. Sekali lagi karena pekerjaan Ayahnya yang hanya seorang tukang ojek online Alona direndahkan seperti ini.


"Bang Ojek, bang," sahut Marta, cewek yang satu genk dengan Sisca.


"Turun di mana Neng? Pondok Indah ape Pondok Nestapa?"


Genk yang berjumlah lima orang cewek itu menertawakan Alona. Membuat Alona menjadi bulan-bulanan. Hingga Alona menghela napas panjang, dia kemudian berdiri dan menatap Sisca and the genk satu per satu.


"Sebenarnya masalah loe sama gue apa sih? Emang salah kalau Ayah gue hanya tukang ojek? Terus loe semua yang kaya raya berhak mempermainkan orang yang gak punya sesuka hati? Gak, kalian salah. Roda itu berputar. Yang sekarang di atas, jangan sok jumawa."


Alona tak terlihat takut sama sekali. Justru dia berani melawan. Usai itu, Alona keluar dari kelasnya. Sesak rasanya berada di dalam kelas itu. Seolah hanya dirinya yang kaum marginal dan bebas dihina-hina begitu saja.