Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Buang Image Bad Boy



Hari Senin ini seakan menjadi hari yang baru untuk Altharazka. Bagaimana tidak? Semua itu karena dirinya yang merasa sudah jadian dengan Alona. Walau Alona sendiri belum mengiyakan apa pun, tapi bagi Razka semuanya sudah menjadi jawaban yang valid.


Jika biasanya Razka memilih untuk masuk ke sekolah dengan mengendarai motor balapnya. Sekarang, Razka hanya mengendari sepeda motor biasa. Memang ukurannya besar, tapi bukan motor balap. Selain itu, Razka juga sedikit merapikan rambutnya. Jaket yang biasa Razka pakai, juga dia tanggalkan. Dia memilih untuk memakai jaket bomber biasa. Sepatu yang biasanya sudah buluk, dan selalu dia injak, kali ini Razka juga memakai sepatu baru dan lebih rapi tentunya.


Papanya saja sampai heran melihat Razka pagi itu. "Razka, tumben kamu lebih rapi. Apakah akan muncul hujan di musim kemarau ini?"


Saking berubahnya Razka, sang Papa pun bercanda apakah memang akan turun hujan di musim kemarau. Akan tetapi, Razka masih bersikap biasa saja. Cool, seperti biasanya.


"Pa, Razka ingin memakai motor Max milik Papa yah?" izinnya.


"Tumben, Raz. Papa seperti melihat sosok Altharazka yang baru. Pakai saja, kalau mau membawa mobil juga bawa saja," jawab Papa Allister.


Razka tidak membutuhkan mobil. Toh, ketika dia hendak menjemput dan mengantar Alona lebih nyaman mengendarai sepeda motor. Memang jalanan di rumah Alona muat untuk mobil. Hanya saja, Razka tidak ingin terlalu mencolok. Sementara itu, jika Razka mengendarai motor juga lebih fleksibel menelusuri jalanan kecil di lingkungan rumah Alona.


"Sepeda motor saja sudah cukup, Pa," balas Razka.


Sang Papa kemudian memandang putranya itu. "Terus lakukan yang terbaik, Razka. Apa pun yang kamu lakukan, Papa akan selalu mendukung. Yang pasti jangan balapan motor, Raz."


Altharazka terdiam. Permintaan Papanya seperti permintaan Alona. Bukan kali pertama memang Papanya meminta Razka berhenti balapan. Akan tetapi, sekarang barulah Razka bisa mendapatkan persamaannya.


"Baiklah, Razka berangkat dulu, Pa," pamitnya.


Papa Allister menatap punggung putranya itu. Dalam hatinya Papa Allister sangat senang.


"Jadilah yang terbaik, Razka. Papa yakin semua perubahan ini bukan tanpa sebab. Tidak mungkin hujan deras di musim kemarau. Apa pun itu, Papa yakin bergaul dengan Alona sedikit banyak memengaruhi dan merubahmu, Razka."


Mengendarai sepeda motor yang bukan motor balap rasanya aneh, tapi Razka sudah berjanji kemarin. Dia akan meninggalkan dunia balap, menyentuh motornya lagi pun tidak. Razka akan memenuhi permintaan Alona dengan serius.


Menelusuri jalanan ibu kota, akhirnya kini Altharazka sudah tiba di rumah Alona. Altharazka kira Alona tidak akan keluar rumah dan berangkat bersamanya. Di luar dugaan, Alona seakan sudah menunggu Altharazka.


"Nungguin aku?" tanya Altharazka dengan membuka helm full facenya.


"Enggak," balas Alona.


Altharazka pun tersenyum. "Sudah, ayo main. Gak usah berdebat pagi-pagi."


Mau tidak mau Alona pun menaiki sepeda motor Altharazka. Untuk Alona, sepeda motor Altharazka ini lebih mudah dinaiki, tidak seperti motor balap. Alona juga bingung bagaimana Altharazka bisa berubah. Dia memperhatikan Altharazka dalam diam, motor yang berbeda, sepatu yang berbeda, jaket yang berbeda, dan juga sepeda motor yang berbeda.


Jika seperti ini, image bad boy benar-benar sudah hilang. Alona merasa bahwa tentu ini adalah hal yang baik untuk Altharazka.


"Kok beda, Al?" tanya Alona.


"Apanya?" tanya Altharazka.


"Motornya dan ... kamunya."


Mendengar Alona tidak memakai bahasa percakapan pada biasanya, dan memakai kata kamu membuat Altharazka sangat senang. Itu artinya apakah perasaannya sudah bersambut. Bukan lagi perasaan satu pihak?