
"Kita berakhir sampai di sini, Al."
Ucapan Alona yang berbalut dengan tetes air mata di pipinya seakan menjadi kenyataan buruk yang harus Altharazka terima. Belum juga cintanya berbalas. Akan tetapi, Alona sudah menyatakan bahwa kedekatan mereka hanya sampai di sini saja.
Alona mengambil keputusan itu juga dengan penuh pertimbangan. Sebab, Alona merasa tidak akan bisa melawan Ibunya. Lebih baik, dia juga memupus saja perasaan yang dia miliki untuk Altharazka. Mumpung belum terlanjur juga. Sehingga, Alona bisa lebih fokus dengan sekolahnya dan hanya beberapa bulan lagi juga akan menghadapi Ujian Nasional.
"Aku tidak menerimanya, Lona ... karena aku tahu bahwa kamu juga menyukaiku. Ini bukan sekadar perasaan sepihak, Lona," balas Altharazka.
Mulailah Alona menangis di sana. Dia tahu bahwa tanpa Alona sadari bahwa bunga-bunga cinta di hatinya mulai bermekaran untuk Altharazka. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau memang terjadi penolakan dari Ibunya. Mempertahankan hubungan ini saja seakan menggenggam sekam di tangannya.
"Aku tidak mengatakan apa pun tentang perasaanku, Al," kata Alona.
Lagi-lagi, Alona menekan perasaannya sendiri. Sebesar apa pun perasaannya, dia akan menekannya. Lagipula, dia belum mengatakan apa pun kepada Altharazka sehingga memang Alona bisa menekan sendiri perasaannya. Berkilah bahwa dia tidak menyukai Altharazka.
"Walau kamu tidak mengatakannya, tapi aku tahu, Lona," balas Altharazka.
"Jangan menyimpulkan segala sesuatu sendiri, Al," balas Alona.
"Kalau kamu tidak menyukaiku, untuk apa sekarang kamu menangis sekarang?"
Alona kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. Dia kemudian mengambil tas ranselnya.
"Tidak seperti yang kamu kira, Al. Aku tidak pernah menyukai kamu," jawab Alona.
Maka, Alona menggendong tas ranselnya di punggung dan setelah itu Alona menatap Altharazka lagi.
"Harus sampai di sini, Al. Esok hari, kita akan kembali normal seperti dulu lagi. Hanya teman, tidak lebih."
Usai mengatakan itu semua, Alona berlari keluar dari ruangan kelas dengan wajah berlinang air mata. Akan tetapi, Alona menyeka air mata sendiri. Tidak ingin seorang pun melihat air mata di matanya.
Sementara Altharazka masih berada di ruang kelas. Cowok itu seakan tak percaya dengan apa yang Alona sampaikan barusan. Baginya, gestur tubuh dan air mata Alona adalah jawaban mutlak bahwa memang Alona juga memiliki perasaan dengannya.
"Aku tidak akan diam, Alona. Aku akan datang ke rumahmu dan mengatakan semuanya. Bahwa aku tidak seperti yang Ibumu tuduhkan. Aku sudah meninggalkan dunia balap motor untuk kamu," kata Altharazka seorang diri.
Dengan apa yang Alona ucapkan, Altharazka tak merasa gentar. Hubungannya belum sepenuhnya berakhir. Setidaknya itu yang Altharazka rasakan sekarang. Sebagai gantinya, dia akan berusaha menemui orang tua Alona dan menjelaskan semua. Dulu, memang dia adalah anak motor, anggota ARC. Akan tetapi, sekarang semuanya sudah berubah. Image bad boy sudah dia tinggalkan. Kegiatan malam dan motor balap juga sudah Altharazka tinggalkan. Semua itu Altharazka lakukan hanya demi Alona. Sehingga, Altharazka tidak akan menyerah. Dia akan berjuang untuk memenangkan perasaannya.
"Tunggu saja, Alona. Aku buktikan kalau ini Pejuang. Aku bukan cowok yang lemah," ujar Altharazka dengan mengepalkan tangannya.