
Setibanya di rumah, Razka merebahkan dirinya di atas ranjang. Pemuda itu bertanya-tanya siapa sebenarnya yang sudah menabraknya dari belakang. Razka mencoba memgingat-ingat semua yang terjadi, dan Razka yakin bahwa penabrak itu memang sengaja menabraknya. Apakah memang dia adalah sosok yang memiliki dendam kepadanya.
"Siapa yah tadi. Dari Plat Nomornya B XXXX HS. Selain itu, motornya berwarna merah."
Di dalam hatinya Razka pastilah akan mencari tahu siapa yang sudah menabraknya karena Razka sangat yakin ada unsur kesengajaan di sana. Toh, dari beberapa saat Razka mengamati dari kaca spion sepeda motor memang orang itu sudah membuntutinya. Begitu ada kesempatan, langsung dia menabrak ban belakangnya dengan sengaja.
"Gue gak akan tinggal diam. Gue akan cari loe sampai ketemu. Jangan panggil gue Altharazka Allister kalau gak bisa nemuin loe."
Usai itu, Razka memilih tidur. Walau nanti tetap dia akan mencari tahu siapa pemilik sepeda motor itu terlebih dahulu. Sekarang dia harus tidur dan esok hari harus les lagi dengan Alona. Walau sakit, Razka akan tetap les, semua itu dia lakukan supaya masih diperbolehkan untuk tetap mendapatkan motornya.
***
Keesokan Harinya ....
Hari ini Razka akan kembali les untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dengan Alona. Sebenarnya Papa Allister memberikan izin kepada Razka untuk bolos dan memulihkan lukanya dulu. Namun, seperti biasanya Razka justru menolak. Dia berkata bisa mengikuti les, toh hanya sekadar duduk saja.
Razka memang keras kepala, yang dia lakukan itulah yang akan dia lakukan. Tidak peduli panas atau hujan, sehat atau sakit. Ketika dia sudah berniat melakukan sesuatu ya itu akan dia lakukan.
Hingga akhirnya Alona tiba dan Razka dituntun oleh Papanya untuk turun ke bawah di ruang tamu yang biasa mereka lakukan bersama untuk belajar. Alona terkejut, kenapa Razka harus dipapah untuk berjalan. Hanya saja perasaannya menjadi sangat tidak enak. Sampai pada akhirnya, Razka sudah berdiri hadapan Alona. Jika biasanya, cowok itu selalu mengenakan celana panjang jeans, sekarang Razka hanya mengenakan celana pendek saja.
"Yakin, bisa belajar?" tanya Papa Allister.
"Ya, yakin, Pa," balas Razka.
"Baiklah, Papa ke ruang kerja yah. Alona, titip Razka yah," kata Papa Allister.
Setelah Papa Allister pergi, Alona mengedarkan pandangannya. Dia bisa melihat kaki Razka yang terluka, dan beberapa bagian tangannya. Gadis itu mendesis ngeri, pastilah luka itu sangat sakit.
"Al," kata Alona sekarang dengan mata berkaca-kaca.
"Ngapain loe menangis?" tanya Razka.
"Itu ... itu pasti sakit."
Jujur, Razka justru ingin tertawa. Apakah Alona panik kepadanya? Atau sikap apa ini yang ditunjukkan Alona kepadanya. Sikap yang terkesan ambigu. Biasanya Alona bersikap tegas dan juga tidak pernah menangis seperti ini, tetapi sekarang Alona benar-benar menangis, tak bisa menyembunyi air matanya.
"Sudah, loe kan selama ini kuat. Masak nangis sih," balas Razka.
"Itu sakit banget, Al. Aku tahu rasanya karena Ayahku pernah mengalaminya," balas Alona.
Rupanya ada ingatan akan masa lampau di mana ayahnya Alona yang berprofesi sebagai tukang ojek online pernah mengalami kecelakaan jatuh dari motor. Lukanya kurang lebih sama dengan yang Altharazka rasakan sekarang.
"Gak sakit sama sekali," balas Razka. Seperti biasa, cowok itu terlihat cool.
"Enggak ke Rumah Sakit aja, Al? Biar sembuh dulu?" tanya Alona.
"Enggak, nanti juga sembuh sendiri."
Walau sakit, ngilu, dan juga perih. Akan tetapi, Altharazka selalu bersikap cool. Justru dia bingung ketika seseorang menangis untuknya. Namun, Razka benar-benar bingung, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi les enggak?" tanya Razka mengalihkan pembicaraan.
"Ii ... iya," balas Alona dengan masih terisak-isak.
"Sudah, gak usah nangis," balas Razka kemudian.
Dengan menahan sakit di kaki dan area tangan, Razka memilih duduk. Dalam diam, cowok itu masih memperhatikan Alona yang berusaha menenangkan diri dan juga menahan agar tangisnya tidak kembali pecah.