
Hari ini di sekolah Alona dan Altharazka ada siswa baru. Kabarnya siswa itu pindahan dari Surabaya yang pindah ke Jakarta karena orang tuanya bekerja di Instansi pemerintah dan karena itu, dia memilih SMA yang dekat dengan rumah. Kebetulan juga, siswa baru itu mengambil program IPA dan sekarang satu kelas dengan Alona dan Altharazka.
"Pagi anak-anak semua," sapa Bu Heny.
"Pagi, Bu," jawab anak 12 IPA 2 dengan serempak.
"Nah, mulai hari ini di kelas kita ada siswa baru. Ayo, silakan masuk."
Dari arah pintu masuk, tampak seorang cowok yang masuk ke kelas. Cowok itu memanggul tas ransel hitam hanya di satu punggungnya saja. Penampilannya rapi, dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana, ada ikat pinggang warna hitam yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya juga ditata dengan rapi. Sungguh, cowok itu memiliki penampilan yang berbanding terbalik dengan Altharazka.
Melihat ada siswa tampan yang merupakan siswa baru di kelas 12 IPA 2, banyak murid khususnya para siswi yang sangat senang. Terlebih Sisca and the Genk yang tampak tebar pesona. Biasanya, Sisca tertarik dengan Altharazka. Gadis itu pernah mengakui bahwa siswa bad boy seperti Altharazka memiliki pesonanya sendiri. Akan tetapi, sekarang melihat sosok good boy, rasanya Sisca penasaran dan ingin dekat dengan siswa baru itu.
"Ayo, silakan perkenalkan diri kamu," kata Bu Heny.
"Halo, semuanya. Perkenalkan ... aku Arsenio, sebelumnya tinggal di Surabaya. Semoga di kelas ini berjalan menyenangkan dan bisa saling berteman," kata cowok itu memperkenalkan diri.
"Namanya bagus ... Arsen," kata Sisca.
"Secakep namanya," kata Dian.
Belum beberapa komentar dari anak-anak yang berada di dalam kelas. Sementara Altharazka seperti biasa begitu cuek. Sementara Alona juga merespons ala kadarnya saja. Tidak heboh, seperti Sisca dan genknya.
"Sudah punya cewek belum?" tanya Sisca tiba-tiba.
Bu Heny pun tersenyum. Biasa, anak SMA selalu begitu. Pastilah akan menanyakan apakah sudah memiliki pacar atau belum. Memaklumi pertanyaan dari Sisca itu.
"Belum, fokus sekolah. Sudah mau ujian," balas Arsenio.
"Good, Arsen. Harus lebih giat belajar yah. Nah, sekian saja yah perkenalannya. Selanjutnya nanti kalian bisa berkenalan waktu jam istirahat. Nah, di deret kedua itu ada kursi yang kosong. Kamu duduk di sana saja. Tidak keberatan kan duduk di depan?" tanya Bu Heny.
Arsenio mengamati tempat kosong yang ditunjuk oleh Bu Heny, kemudian dia mengajukan penawaran. "Saya duduk di deret ke tiga saja, Bu," balasnya.
Akhirnya, Arsenio memilih duduk di deret ketiga. Sebelum keluar, jari-jari mengetuk di meja yang ditempati Altharazka.
"Bangun, Al ... sekolah yang rajin," kata Bu Heny.
Altharazka mengangkat kepalanya dan menegakkan lehernya. Sebenarnya, dia sama sekali tidak tidur. Altharazka hanya malas saja ke sekolah dan segera yang terjadi di dalam kelas.
Sampai akhirnya, sekarang jam pelajaran diisi dengan mata pelajaran Matematika. Kali ini, nilai pengulangan pun diberikan lantas guru itu mengumumkan siswa yang mendapatkan nilai tertinggi.
"Sekarang, saya akan umumkan yang mendapatkan nilai tertinggi. Yang pertama Alona, selamat ... kamu mendapatkan nilai 100. Sempurna."
Beberapa teman-temannya di satu kelas memberikan tepuk tangan. Bukan hal yang sukar untuk Alona mendapatkan nilai pengulangan terbaik. Sebab, selama ini Alona adalah siswi paling berprestasi di SMA nya.
Mendengar nama Alona disebutkan, Sisca merasa nilai tertinggi selanjutnya adalah dia. Sebab, berada di bawah Alona sudah Sisca alami sejak berada di kelas 10. Mana pernah sebelumnya Sisca mengalahkan Alona. Hampir tidak pernah.
"Yang mendapat nilai tertinggi selanjutnya, saya ya, Pak?" tanya Sisca dengan penuh percaya diri.
"Sayang sekali, Sisca. Kali ini nilai kamu merosot jauh. Nilai kamu hanya 75 saja. Mungkin kamu salah menghitungnya. Rumus yang kamu gunakan benar, tapi hasilnya sama sekali tidak tepat," kata Pak Guru.
Sisca merasa kesal. Dia mengira bahwa dialah yang akan mendapatkan nilai tertinggi kedua. Rupanya, dia salah. Terlalu percaya diri, justru Sisca malu karena nilainya tak terlalu tinggi. Sangat jauh dari nilai 100 milik Alona.
"Kali ini yang mendapatkan nilai terbaik kedua adalah siswa yang sebelumnya nilainya selalu di bawah batas minimum. Untuk mengoreksi jawabannya saja, Bapak sampai melakukannya sampai tiga kali. Seolah matahari terbit dari barat."
Mendengar perkataan Pak Guru, semuanya kembali tertawa. Rasanya mustahil, itu makna yang disampaikan Pak Guru. Namun, hal yang mustahil terjadi juga.
"Nilai tertinggi kedua dengan nilai 94 adalah ... Altharazka. Selamat, Al ... Bapak sampai heran dengan nilai yang dapatkan."
Tidak ada tepukan tangan dari teman-teman sekelas. Justru mereka semua merasa heran. Dari mana Altharazka bisa mendapatkan nilai sebaik itu. Rasanya sangat tidak mungkin dan mustahil, seorang bad boy bisa mendapatkan nilai 94.