Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Penjelasan



Bukan ke dalam kelas, nyatanya Altharazka menggandeng tangan Alona hingga menuju ke belakang sekolah. Entah, dorongan apa. Yang pasti Altharazka tahu bahwa Alona tengah berusaha menahan air matanya. Sementara di sana, dinilai Razka adalah tempat yang aman bagi Alona untuk menangis.


"Kalau memang mau menangis, nangis aja," kata Razka sekarang.


Alona hanya bisa menitikkan air matanya. Tidak terisak-isak sama seperti saat melihat Razka jatuh dengan luka-lukanya. Tidak butuh waktu lama, Alona menyeka air matanya. Gadis itu menengadahkan wajahnya ke atas, melihat angkasa biru, sembari mengipas-ngipasi wajahnya sendiri. Usai itu, barulah Alona berbicara kepada Altharazka.


"Buat apa loe mengajak gue ke sini, Al? Bukan bermaksud apa-apa, tapi kita gak sedekat itu," kata Alona.


Bagaimana pun, Alona tahu bahwa hubungannya dengan Altharazka tidak sedekat itu. Oleh karena itu, menurut Alona bahwa apa yang Altharazka lakukan kepadanya adalah hal yang seharusnya tidak usah dilakukan. Apalagi, jika hanya ditindas dan direndahkan karena keluarganya yang memang orang yang tidak punya, sudah terbiasa Alona rasakan. Sekarang, ketika ada orang yang membelanya dan menunjukkan simpati rasanya justru ridak enak.


"Lona, sekarang urusan loe adalah urusan gue," balas Altharazka.


"Karena apa? Tidak ada keterkaitannya, Al ... kita hanya teman sekelas dan gue hanya membantu Papa loe supaya loe rajin belajar dan mendapatkan nilai yang baik saja," balas Alona.


"Udah, diem aja. Gak usah nolak," balas Altharazka.


Lagi, cowok itu menunjukkan sikap yang impulsif. Jujur, Altharazka juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hanya saja, peristiwa Sabtu lalu, ketika Alona menangis untuknya, hatinya tergerak dengan sendiri. Si bad boy yang biasanya acuh dan cuek itu, sekarang bisa tergerak untuk peduli dengan urusan orang lain. Tentu ini adalah kemajuan besar untuk Altharazka.


"Gak bisa, Al," balas Alona.


Altharazka menghela napas kasar, setelah itu dia kemudian mendekat berjalan ke arah Alona.


"Al, jika biasanya loe hidup sendiri dan dikucilkan orang lain, sekarang enggak lagi. Gue akan belain loe," kata Altharazka.


"Kelihatannya sekarang gak akan lagi," balas Altharazka.


Alona menggelengkan kepalanya perlahan, usai itu dia menatap Altharazka lagi. "Ayo, kita kembali ke kelas. Sebentar lagi akan masuk ke jam mata pelajaran selanjutnya," balas Alona.


Tidak memberikan jawaban. Altharazka masih berdiam di tempat. Usai itu, Altharazka memperhatikan Alona yang berjalan menjauh. Lantas, cowok itu memanggil Alona.


"Lona, loe melupakan satu hal," kata Altharazka dengan sedikit berteriak.


Gadis ayu itu pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. Mencari tahu apa yang dia lupakan. "Apa?" tanyanya.


Perlahan tangan Altharazka terulur, lantas dia menatap Alona. "Tanganku ... bantu gue berjalan," balas Altharazka.


"Loe bisa sendiri, Al," balas Alona.


"Tolongin gue," balas Razka.


Kesal, Alona mendekat ke arah Altharazka. Gadis itu menatap wajah Razka yang berdiri di depannya. "Loe kenapa gak seperti Altharazka yang gue kenal sih?"


"Gue masih Altharazka yang sama," balas Razka. "Tunggu apa lagi, mana tangan loe ... bantuin gue," sambung Altharazka.


Dua tangan itu kembali bertaut, apa sebenarnya yang membuat Altharazka bersikap impulsif seperti ini. Jika air mata Alona ada perasaan yang ingin Razka lihat, kenapa sekarang Razka senang ketika tangan yang kecil dan tangan itu menggandeng tangannya.