Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Pesan untuk Altharazka



Baru saja Altharazka tiba di rumah, cowok itu naik ke kamarnya dan menaruh tasnya. Masih mengenakan seragam putih abu-abu, Altharazka memilih rebahan sejenak. Capek juga sekolah yang nyaris seharian.


Belum ada lima menit berlalu, handphone milik Razka berbunyi. Sebab, memang Razka selalu mengatur ponselnya berdering jika sudah berada di rumah. Toh, handphonenya selalu sepi. Kalau ada pesan paling hanya dari Papanya saja.


Akan tetapi, sekarang ada panggilan masuk dari nomor tidak Razka kenal. Kebiasaan Razka, dia akan mengabaikan nomor yang tidak dia kenal. Oleh karena itu, Razka justru menggeser tombol telepon berwarna merah yang artinya menolak panggilan itu.


"Jangan orang rebahan aja sih," kata Razka.


Cowok itu memilih untuk rebahan lagi. Matanya terpejam sesaat. Ada kalanya di saat seperti ini rasanya sepi. Terlebih Razka sudah lama tidak mengunjungi Markas ARC. Praktis, Razka hanya berada di rumah saja.


Namun, hanya beberapa menit berselang. Masuk beberapa pesan dari nomor yang tidak dikenal. Razka pun memgambil handphonenya lagi dan berusaha melihat siapa yang mengirimi pesan untuknya.


Rupanya di sana ada video yang dikirimkan. Seorang gadis dengan masih mengenakan seragam SMA. Mulutnya terikat, dan sekarang tubunnya terikat di sebuah pilar. Seketika, Altharazka beringsut. Itu adalah Alona.


"Brengsek ... sialan!"


Altharazka mengumpat kesal. Harusnya tadi dia membuntuti Alona atau mengantarkan Alona pulang. Sekarang yang terjadi justru Alona diculik dan disekap seperti ini.


Lantas disusul voice note di sana. "Hei, Altharazka ... gimana puas loe melihat siapa di video ini? Tentu loe mau menyelamatkan gadis impian loe kan?"


Voice note yang berurai tawa itu berakhir. Ya, hanya sekian detik saja. Namun, disusul dengan voice note selanjutnya.


Setelahnya, sebuah pesan masuk dan memberikan perintah kepada Altharazka. "Jangan coba-coba bawa polisi. Sekali loe bawa polisi, gadis ini akan habis di tangan gue."


Razka begitu kesal. Darahnya seketika mendidih. Yang dia pikirkan sekarang hanya Alona saja. Dia ingin segera menyelamatkan Alona. Hingga, Razka mengganti seragam putih abu-abu miliknya dan mengganti dengan kaos, celana jeans hitam, sepatu, dan jaket kulitnya. Razka berdiri di depan cermin sesaat.


"Berani loe menyakiti Alona, habis loe semua!"


Usai itu, Altharazka menyambar helm full face miliknya. Lagi, dia akan beradu balap. Kemenangan kali ini menjadi harga mati untuk Razka karena dia sangat ingin menyelamatkan Alona. Dia ingin menjadi pahlawan untuk Alona.


"Den Razka mau ke mana? Tadi Papanya pesan kalau Den Razka tidak boleh balapan," kata Bibi Sarti yang adalah seorang ART di rumah Razka.


"Tidak akan lama, Bi. Nanti Razka pulang," katanya.


Razka berlari menuju garasi dan menstarter motornya. Kuda besi itu sudah memberinya kemenangan di jalanan. Sekarang, Razka akan berpacu lagi dengan kuda besinya. Akan tetapi, sekarang kemenangan adalah harga mutlak yang ingin Razka capai.


"Tunggu gue, Lona ... gue akan menyelamatkan loe apa pun yang terjadi."


Menaiki kuda besinya, Altharazka segera menuju titik pusat dari rute yang sudah dikirimkan ke pesannya. Cowok itu menekan gas dalam-dalam, menyelip di antara beberapa mobil untuk menuju tempat itu. Rasanya semakin cepat, semakin baik. Segera tiba di sana, segera sampai juga Altharazka kepada Alona.