Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Dijemput Anak Motor



Keesokan harinya, Altharazka benar-benar memenuhi ucapannya. Berangkat lebih pagi dari rumah, hingga akhirnya Altharazka menuju ke daerah rumah Alona. Usai apa yang terjadi dengan Alona, Altharazka ingin menjaga gadis itu.


Lebih-lebih di mata Razka memang Alona adalah sosok yang perlu untuk dilindungi. Oleh karena itu, Razka memilih untuk menjemput Alona. Dia ingin memastikan keselamatan Alona sendiri.


Mendengar suara sepeda motor besar, Alona segera keluar dari rumah dan berpamitan dengan kedua orang tuanya. Dia tidak mengatakan bahwa dijemput oleh temannya, karena pikir Alona bahwa Razka hanya menjemputnya hari ini saja. Tidak untuk seterusnya.


"Al," sapa Alona kepada Altharazka, kala cowok itu hendak melepaskan helm full face di kepalanya.


"Berangkat sekarang?" tanya Altharazka.


"Iya," balas Alona.


"Pamitan dulu enggak sama Ibu dan Ayah?" tanya Altharazka.


Altharazka merasa tetap harus pamit. Sebab, di rumahnya sendiri saja seberapa kesalnya dia dengan Papanya, Razka juga selalu pamit setiap kali berangkat ke sekolah. Kecuali, jika Papanya sedang perjalanan bisnis, praktis Razka tidak berpamitan dengan Papanya.


"Tidak usah. Gue kira loe gak jadi jemput, Al," kata Alona sekarang.


"Kalau gue udah janji, pasti gue tepati, Lon. Yuk, naik," kata Razka.


Alona pun kembali menaiki kuda besi milik Razka. Jika kemarin, dia mengenakan jaket dan helm milik Razka. Sekarang, Alona memakai jaket dan helmnya sendiri. Mungkin memang tidak matching dengan motor Razka yang bagus dan besar. Namun, helm miliknya sendiri itu lebih nyaman ketika dipakai.


"Luka loe bagaimana?" tanya Altharazka sembari melajukan sepeda motornya.


"Sudah sembuh. Gue gak apa-apa," balas Alona.


"Syukurlah, gak mau pegangan?"


Namun, memang kadang Altharazka nakal, dia menekan gas dalam-dalam dan kemudian menginjak rem. Praktis, Alona yang duduk di belakangnya maju ke depan. Dada Alona sampai mengenai punggung Altharazka. Gadis itu mendelik kesal.


"Al, loe sengaja?" tanyanya.


"Enggak, tadi kan ada kucing," balas Razka asal.


Padahal tidak ada kucing yang menyebrang jalan sama sekali. Akan tetapi, Razka memberikan jawaban secara absurd. Jawaban yang membuat Alona menjadi kesal.


"Gak ada kucing sama sekali, Al."


"Makanya pegangan, Alona."


Beberapa kali keduanya terlibat perdebatan kecil. Namun, Altharazka justru merasa senang berdebat dengan Alona. Itu tanda bahwa Alona adalah cewek yang hebat, tidak menyerah begitu saja. Memiliki karakter yang kuat. Namun, ada sisi lembut seorang Alona yang sudah Altharazka lihat.


Sementara itu, di rumah ada Alona, ada tetangga yang berbicara dengan Ibunya Alona pagi itu.


"Alona dijemput anak motor loh, Bu ... mana motornya besar dan gede lagi," katanya.


Bu Sani, Ibunya Alona juga merasa bingung siapa anak motor yang menjemput putrinya. Selama ini yang Bu Sani tahu tidak pernah ada orang atau temannya Alona yang menjemput Alona untuk pergi ke sekolah. Alona selalu berangkat dan pergi ke sekolah seorang diri.


"Siapa yah, Bu ... setahu saya gak ada temannya Alona yang anak motor," balas Bu Sani.


"Ya, pacarnya mungkin, Bu. Secara anak SMA kan sudah mulai berpacaran. Udah lumrah kalau anak-anak SMA sekarang pacaran," balas sang tetangga itu.


Sementara Bu Sani semakin bingung. Kalau pacaran tidak mungkin Alona memiliki pacar. Sebab, Bu Sani sangat yakin bahwa Alona fokus untuk sekolahnya dan tidak berniat untuk pacaran.