
Susah payah, Alona menahan supaya tidak menangis di hadapan Razka. Rasanya juga aneh, sebelumnya Alona begitu kesal dengan Razka, tapi sekarang dia khawatir dengan kondisi Razka. Bahkan Alona sendiri beberapa kali melirik luka-luka di tangan Razka.
Walau Razka tak mengakui sakit, tapi terlihat jelas bahwa Razka sekarang tengah menahan rasa sakit. Oleh karena itu, Alona pun memberi kelonggaran untuk Razka. Selain itu, Alona juga tak berbicara yang menimbulkan perdebatan dengan Razka.
"Tumben loe diem?" tanya Razka tiba-tiba.
"Gak apa-apa kok," jawab Alona singkat.
"Nanti diem-diem nangis lagi," kata Razka dengan melirik Alona.
Gadis manis itu terdiam. Mungkin tadi adalah hal yang salah ketika dia menangis di hadapan Razka. Seharusnya dia bersikap biasa saja dan tak menunjukkan air matanya.
"Udah, Al ... kerjakan lagi aja dulu," balas Alona.
Razka mengulum senyuman kecil. Walau Alona berkepribadian keras, mandiri, dan kerap berani dengan Sisca and the genk. Akan tetapi, Alona juga adalah gadis yang manis dan tentunya pinter. Cowok itu masih mengulum senyuman dan terus mengerjakan soal yang diberikan oleh Alona.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya Alona menyudahi lesnya. Dia sudah membereskan buku-buku dan memasukkan ke dalam tas.
"Al, hari ini sampai di sini yah. Kita lanjutkan lagi besok. Cepet sembuh ya, Al," pamit Alona.
Altharazka kembali tercengang, baru kali ini ada orang lain yang mengharapkan dia untuk cepat sembuh. Jujur, mendapatkan perhatian kecil seperti ini seolah menghangatkan hati Razka yang semula sedingin es. Cowok itu sampai mematung dan tidak mampu menjawab ucapan Alona.
...🍀🍀🍀...
Hari Senin Kemudian ....
Alona dan Altharazka kembali bertemu di sekolah. Dengan kaki yang masih luka, tentu saja jalannya Razka sedikit berbeda. Anehnya, apa pun yang Razka lakukan selama ini mengundang perhatian dari teman-teman sekolahnya.
Termasuk Arsenio, murid baru yang baru saja pindah. Cowok itu menanyai Razka.
"Jalan loe kok aneh? Loe baik-baik aja?" tanya Arsenio.
"Bukan urusan loe," jawab Razka dan berlalu pergi.
Arsenio yang dasarnya memang cowok baik-baik, terheran melihat kelakuan teman sekelasnya itu. Niat hati bertanya, lagipula mereka berteman. Justru, Razka bersikap seperti itu.
Hingga akhirnya, Sisca yang berlari-lari dan ingin mengejar Razka.
"Al ... Altharazka, astaga jalan kamu aneh banget. Gue bantuin yah My Boy," kata Sisca dengan begitu centilnya.
Didekati oleh Sisca, Razka menolak. "Minggir loe, gak usah deket-deket gue!"
Akan tetapi, Altharazka menolak. Dia memilih terus berjalan. Hingga tidak jauh di depannya ada Alona. Melihat Alona, Altharazka justru memanggil Alona.
"Lon, Lona ...."
"Hmm?"
Cewek itu menyahut. Dia berusaha menahan perasaannya. Melihat Altharazka sontak saja teringat dengan luka di kaki cowok itu. Alona hanya berusaha untuk tidak menangis lagi. Dia terlalu iba setiap kali melihat orang lain kesakitan.
"Bantuin gue ke kelas," pinta Altharazka.
"Bantuin gimana maksud loe?" tanya Alona bingung.
Altharazka mengulurkan tangannya ke hadapan Alona. Lantas cowok itu pun menjawab. "Genggam tangan gue, Al ... Bantu gue berjalan."
Tindakan Altharazka yang sangat impulsif. Bahkan cowok itu dengan sendirinya mengulurkan tangannya. Sementara Alona menanggapi dengan bingung.
"Altharazka, loe apa-apaan sih? Gadis misquen kayak dia yang loe mintain tolong?"
Sisca yang berdiri di belakang Altharazka benar-benar tidak habis pikir mendengarkan Altharazka. Bagaimana mungkin pemuda bad boy yang tampan dan tajir seperti Altharazka justru meminta tolong kepada Alona yang notabene hanyalah seorang gadis tidak punya.
"Kenapa, gue berhak minta tolong kepada siapa pun?" balas Altharazka.
Usai itu Altharazka mengulurkan satu tangannya kepada Alona. "Ayo, bantuin gue ...."
"Al, tapi ...."
Menurut Alona, membantu tidak harus menggandeng tangan pria itu ke kelas juga. Seumur-umur juga belum ada seseorang yang menggandeng tangan Alona. Toh, keduanya tidak sedekat itu untuk berpegangan tangan.
Belum sempat Alona bertindak, Altharazka menautkan tangannya dan menggenggam tangan Alona di sana. Cowok itu merasakan telapak tangan yang ukurannya jauh lebih kecil daripada tangannya. Pun, dengan tangan yang terasa kecil dan hangat itu.
"Yuk, jalan ...."
Atensi anak-anak di sekolah pun tertuju kepada keduanya. Baru kali ini, seorang Bad Boy seperti Altharazka bergandengan tangan dengan seorang gadis dan itu adalah Alona.
"Jalan, gak usah pedulikan yang lain," perintah Razka.
Gadis itu memilih diam dan tidak menjawab apa pun. Bagaimana pun, ini justru bukan permintaan tolong, melainkan pemaksaan. Apakah ini cara seorang Altharazka meminta tolong?