Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Bertemu Orang Tua Alona



Setelah beberapa pekan berlalu, Altharazka mengantarkan Alona pulang ke rumah. Motor balap sudah Altharazka tinggalkan. Sekarang, Altharazka cukup mendengar sepeda motor Max milik Papanya. Sebenarnya mobil juga tersedia, tapi Altharazka selalu menolak. Selain itu, Alona juga tak keberatan berangkat dan pulang sekolah dengan dibonceng sepeda motor.


"Al, mulai besok ... kalau jemput aku di gang saja yah, Al," kata Alona sembari membonceng Razka pulang sekolah.


"Hm, kenapa memangnya?" tanya Razka.


Cowok itu melirik sekilas Alona, dari spion sepeda terkadang menjadi tempat bagi Altharazka melirik Alona. Pun sekarang, Razka berusaha menatap Alona walau hanya melalui spion sepeda motornya.


"Enggak, Al ... ada beberapa tetangga yang cerita ke Ibu kalau aku sering diantar jemput cowok. Ibuku mulai curiga, Al. Apalagi sekarang, aku selalu pulang lebih cepat. Biasanya kan kalau naik bus, aku pulangnya sore. Nunggu sampai dapat bus. Yah, begitu, Al," kata Alona sekarang.


"Emang kalau kepergok Ibu kenapa?" tanya Altharazka.


"Ibu gak ngebolehin aku pacaran sama anak motor, Al. Dulu, kan kamu sering make motor balap, tetanggaku jadinya cerita sama Ibu," balas Alona.


Oh, sekarang Altharazka tahu mungkin inilah jawaban kenapa Alona tak memberikan jawaban atau kepastian kepadanya. Padahal, Altharazka sudah menganggap bahwa Alona adalah pacarnya. Semua itu tentu karena Alona tak boleh berpacaran dengan anak motor.


"Walau, aku sudah bukan anak motor loh," balas Altharazka.


"Ya, tetap saja, Al. Daripada dimarahin Ibu nanti."


"Emang kamu suka aku, Al? Sampai sekarang saja, kamu belum memberikan jawaban apa pun kepadaku," kata Altharazka.


Sekarang Alona tak bisa memberikan jawaban. Seketika Alona merasa bersalah, dia seolah menggantung semuanya. Tidak memberi kepastian, tapi bergantung kepada Altharazka. Perasaannya sendiri memang aneh, tapi untuk memutuskan pacaran agaknya Alona harus mempertimbangkan dengan lebih matang.


"Sebaiknya begitu dulu, Al ... yah," balas Alona.


"Terserah kamu saja, Lona."


...🍀🍀🍀...


Keesokan Paginya ....


Keesokan paginya, Altharazka sudah menunggu di gang sebelum menuju ke rumah Alona. Altharazka melepas helm fullface miliknya dan kemudian mengambil handphone guna memberitahu Alona bahwa dia sudah tiba.


Belum sempat pesannya terbaca oleh Alona, rupanya sosok gadis yang dia tunggu tengah berjalan ke arahnya. Sayangnya, Alona tak sendiri, melainkan ada sosok wanita yang Altharazka tahu bahwa itu adalah Ibunya Alona.


"Al," sapa Alona dengan berhenti beberapa meter di depan Alona.


"Kok," sahut Altharazka lirih dan juga bingung.


Lantas wanita yang Razka yakini adalah Ibunya Alona itu pun berbicara kepada Altharazka. "Oh, jadi kamu yang sering menjemput Alona yah?" tanyanya.


"Iya, Tante ... kenalkan saya adalah temannya Alona, Razka," ucap Razka dengan sopan. Bahkan sekarang Razka turun dari sepeda motornya supaya lebih sopan di hadapan Ibu dari gadis impiannya itu.


"Saya berterima kasih karena kamu sudah menolong Alona selama ini. Akan tetapi, sekarang biarkan Alona pergi dan pulang dari sekolah sendiri saja. Bukan karena apa, para tetangga berkata kamu adalah anak motor, jadi tidak boleh memboncengkan Alona lagi. Makasih," kata Ibunya Alona.


Seketika Altharazka menjadi bingung kenapa dirinya ditolak mentah-mentah oleh Ibunya Alona. Pun kala itu, Alona sendiri yang hanya bisa menundukkan wajahnya. Alona juga tidak bisa memberikan sanggahan kepada Ibunya.


"Sudah, Alona ... berangkatlah ke sekolah sebelum terlambat."


Usai berkata itu, Ibunya Alona pun pergi. Sementara Alona menganggukkan dan melangkahkan kakinya. Dia meninggalkan Razka yang masih berdiri di dekat sepeda motornya. Alona adalah anak yang taat dan berbakti dengan orang tuanya, karena itu Alona memilih berjalan menuju ke halte bus dan menunggu Bus Trans Jakarta akan datang. Walau Alona tidak enak hati dengan Razka. Akan tetapi, sudah ada penegasan dari Ibunya. Yang Alona lakukan adalah hanya bisa melakukan apa yang diucapkan kedua orang tuanya.