Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Kejadian Buruk yang Terjadi



Beberapa pekan kemudian, Alona pergi ke sekolah seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, Alona menjalani harinya seperti biasa. Jika ada yang berubah itu adalah karena sosok Altharazka yang sekarang lebih baik kepadanya.


"Tumben baru datang, Lon?" tanya Razka.


Biasanya Alona dahulu yang akan tiba di kelas. Akan tetapi, sekarang justru Razka terlebih dahulu yang tiba di kelas.


"Iya, bus nya selalu penuh, Al. Aku menunggu lama di halte tadi," balas Alona.


Salah satu yang tidak bisa Alona prediksi dengan transportasi publik adalah ketika bus selalu penuh. Hal itu wajar karena banyak pengguna transportasi umum di pagi hari. Antrian di halte pun bisa mengular.


"Besok bareng gue aja, Lon," kata Razka.


"Besok libur, Al. Yang gue justru ke rumah loe," balas Alona.


Alona duduk di kursinya sambil tertawa. Sebab, Altharazka sampai lupa hari. Padahal besok adalah hari Sabtu di mana dia yang akan ke rumah Altharazka dan memberikan les untuk temannya itu.


"Ah, gue sampai lupa," balas Altharazka.


Senyuman terbit di wajah Alona. Gadis itu pun mengangguk perlahan. "Ya sudah, intinya loe gak perlu repot-repot. Gue baik-baik saja kok," balas Alona.


Walau Alona sudah mengatakan baik-baik, tak seperti biasanya karena Altharazka merasa harus lebih menjaga Alona. Tidak peduli dengan apa yang terjadi, Altharazka hanya tak ingin terjadi kejadian buruk kepada Alona.


Jam demi jam di sekolah berlalu. Hingga tiba saatnya untuk pulang sekolah. Alona menunggu semua siswa sudah keluar kelas, barulah dia pulang.


"Gue anter, Lon."


"Gak usah, Al. Rumah gue jauh, mobil atau motor loe kalau masuk jalan di sana juga gak akan bisa lewat," balas Alona.


"Rumah loe mana emangnya?" tanya Razka pura-pura tidak tahu.


"Jauh, Al ... udah loe pulang aja. Gue bakalan baik-baik saja kok."


Alona terus melangkahkan kakinya dengan menggendong tas di punggung. Alona hanya meyakinkan pada hatinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Biarlah Altharazka yang berusaha baik kepadanya, tapi ada satu titik di mana Alona tidak ingin jika Altharazka tahu siapa dirinya.


Lantas, Alona terus berjalan. Dia sudah berdiri di gerbang. Hingga akhirnya sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba berhenti di hadapan Alona, dan ada seorang pria bertopeng yang menarik Alona dengan paksa.


"To ...."


Baru saja Alona hendak berteriak meminta tolong, tetapi sudah ada sapu tangan berukuran panjang yang diikatkan di bibir Alona. Praktis Alona tidak bisa berteriak lagi. Usai itu, tangannya diikat, membuat Alona pun tidak bisa melawan.


Hanya air mata yang tercetak jelas di wajah Alona, disertai dengan gelengan kepala. Sungguh, Alona benar-benar tidak tahu siapa pria yang menculiknya sekarang. Menurut Alona, dia sama sekali tidak memiliki musuh. Jika ada orang yang membencinya, hanya Sisca saja. Akan tetapi, akhir-akhir ini Sisca tidak banyak berulah kepadanya. Mungkin juga karena ada Altharazka yang selalu membelanya sekarang.


"Diam loe ... gak usah nangis terus. Cengeng!"


Suara seorang pria berkata demikian karena tahu bahwa Alona menangis dan terisak-isak sekarang. Laju mobil pun kian cepet menembus jalanan ibukota. Sementara, Alona sama sekali tidak tahu ke mana arah yang mereka tuju.


Ya Tuhan ... selamatkan Alona. Siapa mereka ini, Alona benar-benar tidak tahu. Selamatkan Alona.


Ibu ... Ayah ....


Tuhan, tolong selamatkanlah Alona. Alona takut ....


Seluruh air mata Alona tumpuh. Dia terus menangis dan berusaha memberontak, walau sapu tangan mencengkram mulutnya hingga perlahan keluar darah dari sudut bibirnya dan tali yang mengikat pergelangan tangannya sangat kuat. Dalam keadaan begini, ada satu hal yang Alona sesali yaitu dia tidak mau diantar Altharazka tadi. Jika Altharazka mengantarkannya, mungkin saja ada Altharazka yang menolong dia sekarang.