
Tak butuh waktu lama bagi Altharazka untuk sampai di titik lokasi. Justru, dia berusaha untuk tiba secepatnya. Untuk keselamatan Alona, Razka tidak ingin mengulur-ulur waktu. Semakin cepat dia bisa menemukan Alona dan menolongnya justru semakin baik.
Hingga sampailah Altharazka di sebuah bangunan tua. Terlihat beberapa sepeda motor yang berada di sana. Bagi Altharazka sudah menunjukkan bahwa itu adalah markas sebuah genk motor. Dari luar juga terdengar alunan musik rock yang memekakkan telinga. Razka sampai enggan untuk melepas helm full face yang sekarang dia kenakan. Sebab, bisa sedikit meredam suara bising itu.
Tak mengatakan permisi, Altharazka hanya membunyikan bel sepeda motornya dan menggeber knalpot motornya sekeras mungkin. Suara knalpot motor Razka pun membuat kaca jendela saja bergetar. Hingga, perlahan musik rock itu berhenti mengalun.
Tidak lama kemudian, keluarlah beberapa anak genk motor di sana. Dari orang-orang yang mengelilingi Razka sekarang, Razka sudah sangat tahu siapa musuhnya dan kenapa mereka mengincar Alona. Tidak lain dan tidak bukan karena dendam kepadanya.
"Woi, ini dia hero kita ... Altharazka Allister!"
Suara sang pemimpin genk terdengar begitu keras. Diikuti oleh anak-anak yang tertawa keras-keras. Tawa syarat ejekan yang tentunya merendahkan Razka.
Hahahaaaa ....
Hahahaaaa ....
Di telinga Razka, suara itu terdengar sumbang. Justru itu adalah tawa penuh ketakutan. Oleh karena itu, Razka tidak gentar sedikit pun. Dia justru semakin berani. Yang dia hadapi hanyalah para pecundang yang hanya berani menangkap gadis. Ya, hanya pria pecundang yang berani menyekap seorang gadis.
"Loe datang sendirian?" tanya sang leader yang tak lain adalah Max.
Itu adalah markas Thunderbolt, dan yang melakukan semua itu terhadap Alona tidak lain dan tidak bukan adalah Max. Si pemimpin Thunderbolt yang dulu pernah kalah adu balap dengan Altharazka.
"Mata loe juga bisa melihat siapa saja yang ada di sini," jawab Razka.
"B*cot, loe!"
Razka kemudian melepas helm full face miliknya dan melihat Max yang berdiri di hadapannya. Di keliling anak-anak Thunderbolt sekaligus, Razka tidak takut sama sekali. Justru, dia ingin mengepuli Max lagi dengan asap knalpot sepeda motornya.
Altharazka memang tipe orang yang tak suka membuang-buang waktu. Sehingga, dia datang memang hanya untuk Alona saja. Malas jika harus meladeni Max dan anak-anak Thunderbolt lainnya.
"Oh, cewek itu namanya Alona. Nama yang bagus dan cantik, seperti orangnya," balas Max dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Gak usah banyak bicara, berikan Alona!"
Max akhirnya memberi isyarat dengan bertepuk tangan tiga kali. Hal yang tak terkira, Alona dibawa keluar dari dalam markas dengan seseorang yang Altharazka kenal. Rupanya ada Arsenio di sana.
"Anj*nk loe. Ternyata loe biang keladinya!"
"Kenapa, Al? Loe kaget? Jauh-jauh hari, gue udah memperingatin loe. Hahahaha ... rupanya seorang Altharazka ada lengahnya juga."
Sebenarnya Altharazka tidak mengira bahwa Arsenio adalah salah satu dari anak Thunderbolt. Cowok yang berimage good bay itu sekarang di mata Altharazka hanya sebuah sampah saja. Cowok pecundang yang hanya berani menyusup, mengenakan topeng. Namun, Altharazka tidak takut. Terlebih untuk menyelematkan Alona, sudah hilang semua rasa takut.
"Brengsek! Cemen loe. Jadi, musuh yang sebenarnya itu loe!"
Altharazka tak menerka sebenarnya. Dia pikir yang berurusan dengannya adalah Max atau Sisca and the gank. Akan tetapi, sekarang yang berdiri di hadapannya adalah Arsenio, teman baru di kelasnya.
"Congratz, masuk jebakan. Loe bahkan gak sadar kalau Arse ini adalah sepupu gue, Raz ... loe tertipu dengan penampilannya yang seorang good boy. Loe salah, Raz ... musuh loe sebenarnya ada sangat dekat dengan loe!"
Bukan sepenuhnya salah Razka, tetapi memang Razka adalah orang yang cuek dan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Apalagi dekat dengan teman baru, tak ada guna baginya. Sekarang, setelah mengetahui semua, Razka tak akan gentat.
"Hanya makhluk cemen, yang menguntit dengan menempatkan orang terdekatnya. Berani hadapi sendiri, atau gak usah sama sekali," balas Razka.
Walau Max menertawakannya, termasuk anak-anak ARC. Akan tetapi, Altharazka tak gentar. Justru dia menilai bahwa tindakan Max sangat cemen. Hanya berani menempatkan pengintai di dekatnya. Sungguh, di mata Altharazka, pemimpin Thunderbolt itu hanyalah seorang pecundang!