
Selang dua pekan berlalu, Razka menunjukkan perubahan. Sebenarnya, Razka memang irit berbicara, tapi sekarang cowok itu mengurangi debat dengan Papanya. Perubahan Razka ini tentu bisa dirasakan oleh Papa Allister. Selain itu, sang Papa juga menyambut baik perubahan Razka.
Sama seperti hari ini, Razka tak menolak ketika harus les tambahan Matematika karena besok akan ada ujian pengulangan Matematika. Padahal, biasanya Razka akan menolak jika itu berkaitan dengan belajar.
"Raz, nanti lesnya lebih tiga menit yah. Besok kamu ada ujian pengulangan Matematika, kerjakan dengan baik, Raz. Jangan kecewakan Papa lagi," kata Papa Allister.
"Hmm, ya," jawab Razka dengan begitu irit.
"Bagus, Raz. Papa seneng. Semoga kali ini, nilaimu tidak kebakaran," balas Papa Allister lagi.
Sampai akhirnya, tiba saatnya Alona tiba. Razka walau enggan, dia tetap mendengarkan penjelasan dari Alona. Kali ini, Alona menjelaskan dengan Linearitas.
"Sebenarnya gue udah tahu," kata Razka tiba-tiba.
"Yakin? Kalau begitu, coba kerjakan soal ini," balas Alona. Cewek itu menunjuk soal nomor dua di buku yang dia bawa.
Tidak banyak bicara, Razka kemudian diam dan mulai mengerjakan. Ternyata, benar hanya kurang lebih tujuh menit, Razka sudah bisa menyelesaikan soal.
"Nih," kata Razka menyerahkan bukunya.
Alona pun menarik buku itu dan mulai mengoreksi pekerjaan Razka. Benarkah Razka bisa mengerjakan secepat itu?
"Persamaan dua garis yang menentukan titik potong?" tanya Alona.
"Tuh, memakai y-y1\=m (x-x1)," jawab Razka.
Setelah itu, Razka berbicara kepada Alona, "Gue cari persamaan titik potong, terus membuat persamaan garis, nih hasil titik potong kedua garis. Nilai maksimum tercapai saat x \= 6 dan y \= 10 yaitu 102. Cek deh, langkah dan rumusnya bener kok."
Alona heran, darimana cowok seperti Razka bisa menyelesaikan Fungsi Linear seperti ini. Razka bisa mengerjakan satu soal aja rasanya sudah seperti keajaiban. Biasanya, nilai yang didapat Razka lebih banyak dari upah menulis jawaban saja. Bukan nilai karena jawabannya memang tepat.
Alona justru heran, sampai bertanya demikian. Razka bisa mengerjakan satu soal saja sudah keajaiban.
"Kenapa, mau kasih soal sepuluh, gue juga bisa," balas Razka.
"Gini aja, besok kalau ujian nilai loe minimal tujuh, gue kasih hadiah," balas Alona.
Razka melirik sekilas Alona yang duduk berhadapan dengannya hanya berbatasan dengan meja kayu itu. Akan tetapi, Razka terlalu yakin bahwa Alona tidak akan bisa memberikan apa yang dia mau. Minta makanan enak dan mahal pun, Alona tidak bisa memberikannya.
"Gak usah menjanjikan apa-apa," balas Razka.
"Intinya nilai loe harus bagus," balas Alona lagi.
Akhirnya Razka pun menganggukkan kepalanya. "Oke," jawabnya begitu singkat.
Sementara ada senyuman di wajah Alona. Dia tentu akan menantikan besok. Jika memang Razka bisa mengerjakan ulangan, artinya Alona tidak perlu repot-repot untuk memberikan les untuk Razka. Itu artinya Razka memang sebenarnya pintar.
Apa sebenarnya loe memang siswa yang pinter ya, Al? Buktinya program linear aja, kamu bisa selesaikan. Lalu, kenapa berpura-pura, jika kamu sebenarnya bisa? Ayolah, Al ... jadilah dirimu sendiri. Jangan mau direndahkan karena nilaimu jelek. Kamu memiliki banyak kesempatan, Al. Tidak seperti aku, yang harus bekerja ini itu sepulang sekolah agar aku bisa melanjutkan kuliah nanti.
Alona hanya menatap Altharazka sesaat. Dengan monolog dalam hatinya. Mulai timbul banyak pertanyaan dalam diri Alona.
"Ya sudah, gue balik, Al ... besok kerjakan dengan baik yah. Bukan untuk Papa, capailah sesuatu untuk dirimu sendiri," balas Alona.
Usai itu, Alona benar-benar berpamitan untuk pulang. Sementara Razka masih tertegun di tempatnya. Ucapan Alona barusan seolah menyadarkan Razka pada sesuatu.
Ck, emang apa yang pernah gue capai untuk diri sendiri. Gak ada, dan mungkin gak akan pernah ada. Sampai kapan pun.
Usai itu, Razka berpaling dan juga memilih naik ke kamarnya. Urusan nilai biarkan besok saja. Toh, Razka juga tak yakin akan benar-benar mengerjakan apa tidak.