
Sementara anak-anak Thunderbolt berlarian untuk menolong Max, Altharazka memeluk Alona untuk sesaat. Hingga akhirnya, Altharazka mengurai pelukannya. Dia lihat wajah Alona yang masih berderai air mata dengan sedikit luka di sudut bibirnya.
"Kita pulang," ajak Altharazka sekarang.
Altharazka kembali menaiki kuda besinya, dan kemudian meminta Alona untuk membonceng dirinya. Bahkan sekarang, Altharazka melepaskan jaket yang dia kenakan dan memakaikannya untuk Alona.
"Pakai dulu, dan ... pegangan," kata Razka.
Bila biasanya mengendarai kuda besi, Altharazka akan memacu motornya dengan kencang. Akan tetapi, sekarang Altharazka hanya memacu sepeda motornya dengan lambat. Semua itu tentu karena dia memboncengkan Alona.
"Pegangan, Lon ...."
Kedua tangan Alona masih luruh. Gadis itu sesekali masih terisak. Jujur, diboncengkan sepeda motor seperti ini membuat Alona takut. Itu bukan motor biasanya seperti milik ayahnya. Melainkan motor besar seperti milik pebalap.
"Gue takut, Al," kata Alona perlahan dengan masih menangis.
Razka lalu membawa kedua tangan Alona melingkari pinggangnya. Hanya satu tangan saja yang memegangi gas. Sementara satu tangan Altharazka yang lain, menahan tangan Alona untuk tetap melingkari pinggangnya.
"Jangan takut, ada gue," kata Altharazka.
Tangisan Alona perlahan mereda. Menembus jalanan di ibukota dengan angin yang cukup kencang. Alona tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Altharazka. Mungkinkah ini adalah cara untuk mengusir rasa takut? Mungkinkah ini adalah cara untuk meredam ketakutan yang sejak tadi dia alami?
"Mampir ke rumah gue sebentar," kata Altharazka sekarang.
Tidak memberikan jawaban, Alona mengikuti saja cowok itu membawanya. Di dalam hatinya Alona merasa lebih percaya kepada Altharazka daripada kepada Arsenio yang memiliki tampang good boy.
Hingga akhirnya, Razka sekarang sudah tiba di rumahnya. Cowok itu menggandeng tangan Alona, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu, Lon," kata Altharazka.
Razka menuju ke dapur, dia mengambilkan sendiri air minum untuk Alona. Selain itu, dia membawa kotak P3K. Dia ingin mengobati luka di bibir Alona.
"Minum dulu," kata Razka.
Alona memegang gelas kaca itu dengan tangan yang bergetar. Masih takut dengan semua yang dia alami. Hingga Altharazka membantu Alona memegangi gelas itu. Cowok itu tahu mungkin saja Alona masih merasa takut.
Wajahnya terlihat dingin, biasa saja. Auranya cool pada umumnya. Namun, itu adalah bentuk seorang Razka memberikan perhatian. Sementara Alona hanya terdiam.
"Loe selalu balapan seperti itu, Al?" tanya Alona kemudian.
"Ya, tapi tidak setiap hari," balas Razka.
"Jangan balapan lagi, Al ... aku takut," kata Alona.
Atas dorongan apa gadis itu meminta Altharazka untuk tidak balapan lagi. Bahkan ketika meminta kepada Razka, Alona kembali menitikkan air matanya.
"Udah gak usah nangis. Sekarang, gue udah jarang banget balapan," balas Razka.
"Please, Al ... kamu bisa jatuh seperti cowok itu tadi. Luka di kaki kamu dulu pastilah karena sepeda motor kan, Al?" tanya Alona.
"Cowok gak takut luka, Lon."
"Orang-orang yang sayang sama loe yang takut kalau loe kenapa-napa," balas Alona.
Sekarang, Altharazka mengulum senyuman di wajahnya. Dia kemudian mengambil tissue dan pembersih luka, lalu dia menyeka darah di sudut bibir Alona.
"Sorry, sebentar, Lon ...."
Cowok itu memegang dagu Alona. Sorot matanya sepenuhnya tertuju ke luka di sudut bibir Alona. Jarak yang begitu dekat. Dengan jarak sedekat ini saja, Alona bisa merasakan terpaan hangat napas Razka.
Gadis itu membeku, gugup ketika tangan Razka memegang dagunya. Terlebih ketika Razka sekarang kian mendekat. Namun, pembersih luka itu membuat rasa perih tiba-tiba datang.
"Sshhhsss," desis Alona dengan memejamkan mata karena sakit.
"Sebentar yah. Harus dibersihkan lukanya, supaya tidak infeksi," kata Altharazka.
Menyelesaikan semuanya, Altharazka kemudian menjauh perlahan. "Sudah, Al ... loe juga sudah tidak takut kan? Jangan takut lagi. Usai ini gue akan mengantar loe pulang ke rumah. Besok gue jemput ke rumah loe."
Cara orang menunjukkan bentuk perhatiannya itu bermacam-macam. Altharazka sebagai bad boy, dengan aura yang dingin itulah caranya memenangkan Alona. Walau begitu, Altharazka ingin Alona selalu aman dan tidak terluka lagi.