Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Donat Rasa Cinta



Ketika jam istirahat tiba, barulah Altharazka memakan donat dengan taburan gula yang Alona berikan untuknya. Mengamati kue sederhana itu Altharazka tersenyum sendiri. Namun, hatinya sangat senang. Apakah itu karena Alona benar-benar membalas perasaannya.


"Sering-sering aja kamu bawain Donat, Alona. Aku tidak akan menolak. Dulu, memakan donat dengan taburan gula seperti ini mengingatkanku pada sosok Mama. Mulai sekarang, aku akan selalu mengingatmu ketika memakan donat ini."


Menggigit kue yang berbentuk bulat itu dan merasakan rasa manisnya, lagi-lagi Altharazka tersenyum. Manisnya gula ini serasa kala kemarin dia mencium bibir Alona. Manis, ya itu adalah rasa yang Altharazka ingat. Sangat manis malahan.


Semanis ini bibir Alona kemarin. Altharazka saja sampai mengulum senyuman sendiri di bibirnya. Lima buah donat yang hanya bertabur gula putih itu pun tandas.


"Kamu makan donatnya, Al?" tanya Alona kepada Altharazka.


"Makan dong, katamu harus dimakan," balas Altharazka.


Alona kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. Dia senang ketika kuenya yang sederhana rupanya dimakan dan dihabiskan oleh Altharazka. Alona pikir, orang kaya seperti Altharazka tidak menyukai kue donat. Akan tetapi, Alona salah justru Altharazka terlihat begitu menyukai donat itu.


"Padahal itu hanya kue sederhana dan hanya ada rasa manis dari gulanya. Kenapa kamu habiskan, Al?" tanya Alona.


"Bukan hanya sekadar rasa gula, Alona. Akan tetapi, donat ini memiliki rasa lainnya," jawab Altharazka.


"Hm, rasa apa itu?" tanya Alona.


Altharazka tersenyum tipis. Sejak kapan si bad boy itu bisa bermulut manis. Sudah pasti Altharazka bingung dengan sikapnya sendiri. Akan tetapi, itu jawaban langsung tak tidak perlu Altharazka pikirkan.


Sementara, Alona sendiri menunjukkan wajah memerah. Alona sendiri juga tak pernah menyangka seorang bad boy seperti Altharazka nyatanya justru bermulut manis. Semanis gula tabur di kue donat.


"Ke kantin yuk, Alona," ajak Altharazka kemudian.


"Hm, ngapain. Aku belikan minuman untuk kamu. Sebagai tanda terima kasih karena donat buatanmu sungguh enak," kata Altharazka.


"Tidak usah, Al. Itu tidak seberapa, hanya dari sisa adonan di rumah tadi. Aku membuatnya sebagai bentuk terima kasih karena selama ini, kamu sudah sangat baik kepadaku. Lagipula, donat buatanku dan Ibu itu harganya sangat murah, hanya dua ribu rupiah saja."


Alona menceritakan semuanya dengan panjang lebar. Walau sebenarnya Altharazka sendiri tahu bahwa kue donat buatan Ibunya Alona itu dijual dengan harga yang sangat murah. Sebab, Altharazka sendiri pernah membelinya waktu membuntuti Alona. Sehingga, sekarang Altharazka hanya tersenyum dalam hati.


Tanpa kamu menyebutkan harganya, aku sudah tahu, Alona. Hanya saja kue ini adalah makanan kesukaanku. Makanan yang dulu selalu dibuatkan Mama untukku. Akan tetapi, ketika perpisahan Mama dan Papa, aku tidak pernah lagi memakannya. Aku juga kehilangan kasih sayang dari Mamaku begitu saja. Hidupku layaknya kue donat itu, Alona. Tidak sempurna. Terdapat lubang di tengah-tengahnya yang menjadikanku tumbuh tanpa kasih sayang Mama dan Papaku. Ya, sejak tiga tahun yang lalu bagian dalam hidupku tak sempurna. Lalu, kamu datang dengan sendirinya dalam hidupku. Mungkinkah satu potongan bulat kecil akan melengkapiku, Alona?


Altharazka hanya bisa bergumam dalam hati. Sebenarnya sejak perceraian kedua orang tuanya, tak pernah Altharazka memakan kue donat itu. Kue itu mengingat kerinduan, dambaan kasih sayang, tapi juga kesedihan di waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, Altharazka sekarang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan mengingat Alona ketika melihat dan menikmati kue donat itu.