
Selang beberapa pekan kemudian, di sekolah rupanya sikap Altharazka sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Pemuda itu masih terlihat ogah-ogahan untuk belajar. Selain itu, ada peraturan baru dari Papanya yaitu, Altharazka hanya diperbolehkan memakai sepada motor di kala akhir pekan saja. Itu pun selesai les. Di hari biasa, Altharazka akan benar-benar dilarang untuk mengendarai sepeda motor.
"Razka, nanti siang Papa yang akan menjemput kamu," pesan Papa Allister kepada putranya itu.
Jujur saja Razka paling tidak suka sekolah dengan cara diantar dan dijemput seperti ini. Membuatnya terlihat seperti anak kecil saja. Terbiasa sendiri ke sekolah dengan motor gede dan sekarang diantar membuat Razka kesal.
Kayak anak kecil aja, sekolah dianterin. Kayak anak TK aja. Gak ada keren-kerennya.
Memasuki gerbang sekolah, Razka sangat kesal. Bahkan dia menghiraukan tatapan beberapa teman ke arahnya. Sebab, sangat malas ketika dia dipandang aneh oleh teman-temannya.
Di saat yang bersamaan, Altharazka berpapasan dengan Alona yang sama-sama hendak memasuki ruangan kelas. Terlihat Altharazka cuek, seakan tak kenal dengan Alona. Walau sebenarnya sudah beberapa kali mereka belajar bersama di saat les.
Datanglah anak-anak rese di kelas yang merundung Alona, dan menyuruh Alona yang bukan-bukan.
"Hei, Lona ... loe aja yang bersihkan kelas. Cewek kayak loe mana pantas sekolah di tempat kayak gini. Bokap loe aja cuma tukang ojek," kata Sisca yang begitu kesal dengan Alona.
Kekesalan Sisca itu dipicu karena dia selalu kalah dari Alona. Sisca itu termasuk siswa yang pinter juga, tapi selalu mendapatkan rangking di bawah Alona. Lebih dari itu, keduanya selalu satu kelas dalam tiga tahun belakangan. Jiwa kompetensi yang tinggi, tapi justru membuat Sisca selama ini selalu kalah.
"Bukan jadwal gue, Sis," balas Alona.
"Jangan sok jadwal-jadwal. Loe di sini cuma karena beasiswa yah ... dan itu cuma biasanya Gakin alias Keluarga Miskin," balas Sisca.
Alona terdiam. Gadis itu menghela napas panjang. Selama ini, dia selalu mengalah dengan Sisca. Namun, yang ada Sisca justru selalu menindasnya. Mencari-cari salahnya bahkan tak jarang Sisca mengatai latar belakang keluarga Alona yang tidak punya.
Cewek itu menganggap bahwa semua bisa dia beli dengan uangnya. Sebab, Sisca sendiri berasal dari keluarga kaya raya. Papanya memiliki perusahaan finance.
"Gak semua bisa loe beli dengan uang, Sisca," balas Alona.
Itu adalah kalimat yang pernah Alona katakan kepada Razka sebelumnya. Memang dia dari keluarga tidak punya. Namun, bukan berarti orang-orang boleh merundungnya begitu saja. Banyak hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang.
"Banyak b*cot loe!"
Sisca menjadi marah, cewek itu lantas melemparkan sapu ke arah Alona. Tepat ketika gagang sapu itu mengenai pergelangan tangan Alona.
"Ssshhhs, aduh ...."
Alona mengaduh karena pergelangan tangannya terkena gagang sapu yang terbuat dari kayu itu. Bahkan pergelangan tangannya menjadi merah.
"Rasain loe. Udah miskin, banyak b*cot!"
Usai itu, Sisca dan beberapa genknya pergi begitu saja. Sementara di tempatnya Alona hanya mengusapi pergelangan tangannya. Tidak, Alona tidak akan menangis. Dia tidak mau terlihat lemah.
Lahir dari keluarga tidak punya dengan ekonomi di bawah rata-rata bukan salahnya. Dengan nilai UAN SMP yang tinggi juga bukan salahnya ketika berhasil diterima di SMA Favorit ini. Atau, mendapatkan beasiswa dari keluarga miskin juga bukan salahnya. Namun, mereka yang tidak suka hanya akan mencari-cari di mana letak kesalahannya dan juga merundungnya hanya karena dia berasal dari keluarga miskin.
Sementara Altharazka yang duduk di depan Alona memilih diam. Cowok itu tidak bereaksi sama sekali. Sosok tidak mau ikut campur dan cuek, membuat Altharazka hanya diam. Seorang bad boy seperti Razka memang tidak akan pernah tertarik dengan urusan orang lain.