Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Kembali ke Markas ARC



Keesokan harinya ketika motor sudah kembali di tangan, yang Razka lakukan adalah mengunjungi teman-temannya ke Markas ARC. Semua itu, juga karena sudah cukup lama bagi Razka tidak mengunjungi Markas yang dulu hampir setiap hari dia kunjungi. Terlebih kini dengan mengendarai lagi kuda besinya membuat Razka sangat senang.


Suara knalpot, berpadu dengan kepulan asap, seolah menjadi kebebasan sendiri untuk Razka. Setiap kali tangannya menggas, rasanya adrenalinnya ikut terpacu. Jiwanya benar-benar bebas sekarang.


"What's app, Bro ... baru ngapain?" sapa Razka kepada teman-temannya yang sedang berkumpul ke Markas ARC.


"Wah, akhirnya nongol juga. Gue kira, loe gak akan balik ke Markas lagi, Raz," balas Raga.


"Pasti balik sih, cuma menunggu saat yang tepat," balas Razka.


"Anak-anak mau buat tatto, Raz. Loe ikutan enggak? Tanda loyalitas kita kepada ARC," kata Raga sekarang.


Berbicara mengenai tatto sebenarnya Razka malas. Belum lagi kalau itu membuat masalah dengan Papanya. Bisa-bisa nanti dia kehilangan motornya lagi.


"Kagak deh, gue gak ikutan," balas Razka.


"Ah, loe ini gak supportif. Gak loyalitas ke ARC. Cuma tatto saja. Toh, semua yang ada di sini juga sudah tattoan," balas Raga.


Razka menggelengkan kepalanya perlahan. "Sorry, Bro. Ini prinsip gue. Kalau minuman keras, ngobat, dan tatto gak deh," balas Razka.


Baginya sudah cukup mendapatkan kesenangan dengan balap motor. Namun, untuk minum, obat, dan tatto, Razka menolaknya.


"Gak loyal loe," cibir Raga.


"Bukan gak loyal. Tatto di kulit gak memastikan apa pun," balas Razka.


Sampai akhirnya ada anak baru yang datang ke Markas ARC. Rupanya, selama beberapa pekan Razka tidak ke Markas, sudah ada member baru di ARC.


"Gue Tegar."


"Razka," sahut Razka.


"Sebatas yang loe perlu tahu, Raz. Sekarang Tegar banyak supplai kita. Jangan khawatir. Hanya beer. Minum?" tawar Raga.


Dengan cepat Razka menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau minum. Bahkan ketika melihat Papanya memberikan uang untuk wanita lain, Razka juga tidak lari ke minuman keras dan beralkohol. Alih-alih ke minuman keras, Razka lebih suka menggeber sepeda motornya.


"Gue cabut dulu aja, Ga," balas Razka.


"Ngapain sih, Bro. Baru aja datang, udah mau cabut aja. Nge-beer dulu lah," tawar Raga.


"Gak, Bro. Gue gak minum begituan."


"Beer gak bikin mabuk, Bro. Aman kok. Bokap loe juga gak akan tahu. Lagian cemen amat sih jadi orang," balas Raga.


"Bukan masalah cemen, Bro ..., tapi ini masalah prinsip. Cukup dulu sekali cobaan beer dan sekarang tidak akan lagi. Gue cabut yah. Thanks," balas Raga.


Anak-anak ARC tampak tak peduli. Mereka menenggak beer dengan semangat. Justru tertawa ketika Razka memilih untuk pergi. Toh, beer juga tidak akan membuat mabuk. Beer tidak ada bedanya dengan cola, bagi mereka.


Usai itu, Razka memilih pergi. Di dalam hatinya ada pertentangan. Kenapa hanya beberapa pekan berlalu, ARC sudah berbeda. Walau hanya sekadar melihat, Razka bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres.


Oleh karena itu, Razka memilih untuk menyusuri jalanan di Ibukota dengan memacu kuda besinya. Menyelip di antara beberapa mobil yang lewat. Rasanya kebebasan untuk Razka cukup demikian. Tidak terkait dengan minuman keras dan alkohol.