
Tidak ingin banyak beradu mulut. Altharazka menanyai secara langsung, apa yang Thunderbolt inginkan sekarang. Jika hanya sekadar berpacu di atas kuda besi, Altharazka sama sekali tidak takut. Dia justru akan meladeni Thunderbolt dengan tangan terbuka.
"Udah gak usah banyak b*cot. Sekarang mau loe, apa!"
"Balapan. Untuk nyelamatin dia, loe harus menang," jawab Max.
"Kalau gue gak menang?" tanya Altharazka.
Hahahahha ....
Hahahahha ....
Tawa anak-anak ARC menggema. Justru menunjukkan ketakutan Razka yang bisa saja kalah. Itu membuat Max merasa jumawa.
"Cemen loe! Belum bertanding sudah kalah. Cemen!"
Max mengejek Altharazka habis-habisan. Di mata Max, Altharazka begitu cemen. Sudah berpikir untuk kalah, padahal belum berpacu sama sekali.
"Gak usah banyak bicara loe pada! Gue akan menangin pertandingan ini, buat Alona!"
Usai itu, mulailah mereka bersiap di landasan pacu. Aspal jalanan yang tidak begitu mulus. Petang yang sudah menyapa. Sementara Alona menangis tanpa bisa bersuara. Sebab, ada sumpalan di bibirnya. Membuat Alona tak bisa bersuara sama sekali.
Ini pun menjadi kali pertama bagi Alona melihat adu balap seperti ini. Suara knalpot yang memekakkan telinga, dengan kepulan asap putih. Arsenio yang berdiri di samping Alona, tertawa melirik siswi terbaik di sekolahnya itu.
"Loe lihat sendiri. Si bodoh itu akan mempertaruhkan semuanya untuk loe," kata Arsenio.
Jangan mempertaruhkan apa pun demi gue, Al ....
Alona hanya bisa bersuara dalam batinnya saja. Dengan air mata yang terus berlinang. Dia tak ingin siapa pun berkorban atau mempertaruhkan apa pun untuk dirinya.
"Baik mulai!"
Altharazka dan Max sama-sama bersiap di atas motornya. Selain itu, Altharazka sudah menutup helm full facenya. Dia akan berjuang sekarang, untuk Alona yang pasti Altharazka akan mempertaruhkan semuanya.
Bergerak melaju dari start sekarang, Altharazka memacunya gasnya dengan penuh. Dia bukan sekadar ingin mengasapi Max, tapi ingin membuktikan bahwa cowok penyuka Amer dan musik rock itu hanya seorang pecundang.
Menuju tikungan pertama, Altharazka yang memimpin, diikuti Max yang ada di belakangnya. Hingga, akhirnya Altharazka ingin memacu motornya. Asalkan fair play dan supportif, Razka yakin bisa memenangi pacuan ini.
Gue akan berjuang, Lona. Buat nyelamatin loe ....
Mengingat tangisan Alona dan wajahnya yang sembab terlihat jelas bahwa Alona kesakitan dan bahkan ketakutan di sana. Sementara jika melihat wajah penuh muslihat Arsenio, Razka sangat muak, marah rasanya. Hingga tangannya mengepal dan terus melakukan sepeda motornya.
Tak ada lagi rasa takut. Adrenalinnya kian terpacu. Darahnya mendidih. Pacuan terbaik untuknya dengan balap motor seperti ini. Di saat bersamaan, jaraknya dengan Max semakin jauh. Ketika Altharazka sudah menikung di tikungan, Max tertinggal jauh di belakangnya.
Sekarang, hanya beberapa meter garis finish di depan. Altharazka kian memacu gasnya.
Untuk loe, Alona ... kemenangan ini buat loe.
Akhirnya, ban sepeda motor Altharazka berhasil menggapai finish terlebih dahulu. Dia menggeber knalpotnya. Kepulan asap itu sampai terlihat. Sementara di belakang ban sepeda motor Max aus, dan cowok itu kehilangan kendali.
Brakkk ....
Max kembali jatuh kali ini. Seluruh anak-anak Thunderbolt berlarian menolong Max, sementara Altharazka menuju ke gadis impiannya. Ya, dia menuju ke Alona. Cowok itu turun dari sepeda motornya.
Persetan dengan Max! Persetan dengan Thunderbolt!
Yang pasti yang Razka sekarang lakukan adalah Alona. Dia berlari dan melepaskan jerat tali yang membelit tangan Alona, melepaskan sapu tangan di mulut Alona. Tak banyak bicara, cowok itu merengkuh Alona dalam pelukannya.
"Loe sudah aman, Lon. Ada gue ...."
Isakan terjadi begitu saja, kaki Alona bergetar seakan tulang-tulangnya melunak. Disertai dengan wajah gadis itu yang menceruk di dada Altharazka.
...Inilah aku bersama passion sejatiku. Aspal, jalanan, kuda besiku, serta Tuhan yang selalu ada di sampingku....