
"Nah, lukanya sudah dibersihkan. Tidak akan terinfeksi nanti," kata Razka sekarang.
Alona perlahan menarik punggungnya untuk mundur. Jujur saja, dia begitu gugup berada sedekat ini dengan Altharazka. Sebab, tidak pernah sebelumnya Alona begitu dekat dengan cowok. Bisa dikatakan Altharazka adalah cowok yang begitu dekat dengannya. Cowok impulsif yang tiba-tiba menggenggam tangannya, cowok yang dulu sangat menyebalkan, tapi sekarang Altharazka yang menyelamatkannya.
"Makasih, Al," balas Alona dengan membuang mukanya.
"Sama-sama. Mau makan dulu tidak, Lon? Pulang malam dimarahin Ayah dan Ibu kamu tidak?" tanya Razka.
"Sebelumnya, aku belum pernah pulang malam sih. Jadi, tidak tahu bagaimana nanti," jawab Alona.
Sejak sekolah, Alona selalu pulang tepat waktu. Sekarang untuk kali pertama Alona pulang malam. Kalau takut, ya pasti takut. Yang ditakutkan Alona adalah bila ibunya itu cemas. Sebab, sejak tadi Alona tidak sempat memberikan kabar kepada ibunya.
"Nanti gue yang pamitkan ke Ibu," kata Razka sekarang.
"Tidak usah, Al ... aku bisa menjelaskan kepada Ibu kok."
Hanya beberapa menit Alona berada di sana, kemudian Alona ingin untuk pulang. Sebenarnya, Alona ingin pulang sendiri. Dia mengatakan masih ada Bus Transjakarta di jam segini. Akan tetapi, Altharazka menolaknya. Dia bersikeras untuk mengantar Alona pulang.
Dengan sepeda motornya, Razka kembali mengantar Alona. Cowok itu masih memakaikan jaketnya dan sekarang Razka juga mengenakan helm full face yang ada di rumahnya untuk Alona.
"Pakai helm, Lona," kata Altharazka.
"Kebesaran, Al," balas Alona.
"Gak apa-apa, pakai aja dulu."
Semua itu tentu karena ukuran kepala mereka yang berbeda. Namun, lebih baik tetap memakai helm, supaya aman berkendara saat mengendarai sepeda motor. Tidak akan menunggu terlalu lama, kemudian Razka memboncengkan Alona lagi untuk pulang.
Masih sama seperti tadi, Alona tidak berpegangan kepada Razka. Dia hanya menunduk saja. Namun, sesekali Razka melirik Alona dari kaca spionnya.
"Lona, pegangan," kata Razka.
"Gini aja," balas Alona.
Baiklah, untuk kali ini Altharazka membiarkan Alona tak berpegangan padanya. Kondisinya berbeda, karena tadi Alona usai menangis dan ketakutan sehingga Altharazka membawa kedua tangan Alona untuk melingkar di pinggangnya. Sekarang, Altharazka tak melakukannya. Namun, nakalnya Altharazka yang sesekali menekan gas dan mengerem mendadak. Praktis, Alona seolah lebih maju ke depan. Dadanya nyaris saja mengenai punggung Altharazka.
"Al, pelan-pelan dong," pinta Alona sekarang.
Namun, Alona menggelengkan kepalanya. Ada alasan khusus kenapa dia tak mau berpegangan dengan Razka. Sebab, Alona merasakan jantungnya berdebar-debar lebih kencang kala bersentuhan dengan cowok itu.
Kali ini, akhirnya Alona berpegangan kepada Altharazka. Akan tetapi, Alona hanya memegangi ujung jaket yang dikenakan Razka saja. Seketika Razka tersenyum. Namun, karena mengenakan helm full face, sudah pasti senyumannya tidak terlihat.
Alona sampai lupa bahwa sejak tadi dia tidak mengarahkan kemana jalan yang diambil Altharazka. Saking tegangnya sampai Alona tidak bisa memandu cowok itu. Akan tetapi, yang membuat Alona terkejut karena sejauh ini jalan yang diambil Altharazka itu sudah benar.
"Arahnya tahu, Al?" tanya Alona.
"Hm," jawab Razka singkat.
Hingga akhirnya jalanan ibukota dia lalui, Altharazka mengambil jalan dengan memasuki wilayah perkampungan. Sampai akhirnya sepeda motornya sampai di rumah Alona.
"Al, kok bisa tahu sih?"
Alona benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Altharazka tahu di mana rumahnya? Seingat Alona, tak pernah sebelumnya Alona memberitahu di mana rumahnya.
"Tahu, benar kan?" tanya Altharazka.
Altharazka dan Alona turun dari sepeda motor, kemudian Razka berinisiatif untuk melepaskan helm yang dikenakan Alona. Saat Alona hendak melepas jaketnya, Altharazka menahannya.
"Pakai aja, Lona. Bawa saja," katanya.
"Eh, tapi ...."
"Sudah, bawa saja. Helmnya juga simpen aja," kata Razka. Usai itu Altharazka bertanya kepada Alona. "Perlu aku memberikan penjelasan ke Ibu gak?"
"Gak usah, Al ... thanks banget yah," jawab Alona.
Altharazka mengikuti saja apa yang dimaui Alona. "Ya udah, besok gue jemput. Jangan coba-coba berangkat sendiri," kata Altharazka sekarang.
"Gak u ...."
"Gak boleh nolak."
Altharazka tidak menerima penolakan dari Alona. Dia akan tetap menjemput Alona esok pagi. Setelah apa yang terjadi hari ini, Altharazka ingin memastikan Alona tetap aman di dalam pengawasannya.