Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Intimidasi Arsenio



Hampir setengah jam perjalanan dari rumah Alona menuju ke sekolah. Setibanya di sekolah, Alona pun turut dari motor Altharazka. Gadis itu berpegangan di bahu Altharazka sejenak, barulah turun.


"Makasih, Al," kata Alona.


"Sama-sama, Lona," balas Altharazka.


Cowok itu kemudian menaruh helm mereka terlebih dahulu. Intinya Altharazka sudah senang. Bisa mengantar Alona dan sekaligus menjaga supaya Alona baik-baik saja. Setelah itu, keduanya juga berjalan bersama-sama untuk masuk ke dalam kelasnya.


Ada Sisca yang sangat kesal melihat keduanya datang bersama ke sekolah. Cewek itu pun mengomel tidak jelas kepada Alona.


"Ganjen banget sih," cibir Sisca.


Alona memilih diam. Malas sebenarnya, hari masih pagi, tapi sudah bertemu dengan Sisca. Asal tidak membawa-bawa orang tuanya, Alona memilih untuk diam.


"Heh, Mis Queen ... harusnya loe itu sadar diri. Siapa loe, sampai deket-deket sama Altharazka," kata Sisca lagi.


"Emang loe siapanya gue? Loe juga bukan siapa-siapa gue," sahut Razka.


Sisca semakin kesal. Dia tidak suka ketika dia berusaha menjatuhkan Alona, tapi justru Altharazka selalu membela Alona. Untuk Sisca itu adalah hal yang menyebalkan.


"Al, gak seharusnya loe deket-deket sama dia," balas Sisca.


"Gue mau deket sama siapa aja, itu hak gue. Loe gak perlu ikut campur, Sisca. Minggir loe!"


Altharazka dengan impulsif menggandeng tangan Alona, dia kemudian mengajak Alona untuk masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Sisca yang sama sekali tidak jelas. Lebih baik untuk meninggalkan saja.


"Al," suara Alona lirih mana kala cowok itu kembali menggenggam tangannya.


Hingga akhirnya, baru masuk ke dalam kelas sudah ada Arsenio yang menghadang Razka. Cowok berpenampilan good boy yang diam dan rapi itu menatap Razka dan Alona dengan tatapan tidak suka.


"Kemarin loe boleh menang, tapi ingat Thunderbolt gak akan menyerah gitu aja," kata Arsenio.


"Heh, pecundang. Kalau berani hadapi gue sendiri. Gak usah bawa-bawa Thunderbolt. Gue aja gak bawa anak-anak ARC. Kalau mau nantangin gue, jangan jadi pecundang," balas Razka.


"Bukan gue yang jadi pecundang, tapi loe. Ya, loe, Al ... pria bad boy yang munafik sok nolak ngobat dan miras. Cemen loe. B*nci!"


Walau direndahkan Altharazka justru tersenyum. "Kalau gue cemen, masalah buat loe? Lihat tuh b*ncong pada ngisap rokok, pada ngobat, pake tatto. Kalau gitu, loe juga b*ncong dong. Intinya, kalau loe gatal mau tanding, ayo di atas kuda besi. Kita selesaikan semua di jalanan!"


Hingga akhirnya, kala Razka berjalan di belakangnya Arsenio diam-diam hendak memukul kepala Razka. Namun, Razka sigap. Kurang sedikit saja, Razka menoleh ke arah Arsenio. Tangannya segera menangkap kepalan tangan Arsenio.


"Cowok selesaikan semua dari depan. Ya itu kalau loe cowok. Kecuali kalau loe udah belok!"


Usai itu, Altharazka menghempaskan tangan Arsenio. Walau diintimidasi, walau Arsenio mencoba memukul dari belakang, Altharazka tidak akan lengah. Dia akan berjaga-jaga dan tentunya menjaga Alona.


"Al," suara Alona lirih kembali bersuara.


Di saat bersamaan Altharazka menatap gadis yang berdiri di sampingnya itu. "Kenapa?"


"Jangan balapan lagi, Al," pintanya.


Sungguh, Alona tidak ingin jika Altharazka kembali balapan di jalan dengan kecepatan seperti itu. Sekadar meminta saja, Alona sudah menunjukkan kedua matanya yang berkaca-kaca. Dia sungguh tak ingin Altharazka balapan. Sebab, balapan motor menggoreskan luka sendiri untuk Alona dan keluarganya. Luka apa itu?