Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Dengan Satu Syarat



"Gue mau berhenti ... dengan satu syarat."


Altharazka mengatakan itu dengan melirik Alona yang duduk di sebelahnya. Seketika, Alona menatap kepada Altharazka. Sebenarnya syarat apa, hingga Altharazka memberikan satu syarat kepadanya?


"Syarat apa, Al?" tanya Alona.


"Janji, loe bakalan menurutinya," balas Razka.


"Ya apa dulu, gue gak bisa nurutin kalau itu syarat yang aneh-aneh," balas Alona.


Altharazka terdiam, dia ingin mengutarakan syarat yang dia minta. Akan tetapi, Razka sendiri tak tahu bahwa Alona bisa mengabulkannya. Akan tetapi, karena Razka sudah mengatakannya, maka dia tidak akan mundur lagi.


"Syaratnya ..., loe mau enggak jadi pacar gue?"


Alona membelalakkan matanya. Dia benar-benar tidak salah sekarang? Tidak mungkin Altharazka memintanya untuk menjadi pacar? Alona mengira bahwa dirinya salah dengar, karena tidak mungkin gadis sepertinya menjadi pacar Altharazka.


"Al, gue gak salah denger kan?" tanya Alona.


"Gak, gue serius kok," balas Razka.


Alona menghela napas panjang, kemudian dia menatap Altharazka lagi. "Gak mungkin, Al ... kita berbeda. Loe juga tahu bagaimana jauhnya perbedaan kita," balasnya.


"Gue gak peduli dengan perbedaan itu, Lon. Gue tanya... loe khawatir enggak kalau terjadi apa-apa sama gue? Loe nangis gak, kalau gue jatuh dari motor? Loe pengen gak gue jadi pribadi yang lebih baik?"


Altharazka benar-benar memberondong Alona dengan berbagai pertanyaan. Itu adalah pertanyaan pancingan supaya Alona bisa jujur dengan perasaannya. Yang Razka rasakan bahwa Alona juga peduli dengannya. Hanya saja, perasaan itu diwujudkan Alona dengan sikap peduli. Oleh karena itu, Razka meminta Alona menjawab pertanyaannya.


"Loe diem kan, Lona? Loe gak bisa jawab kan? Sebab, jawabannya sudah pasti bahwa loe care sama gue," kata Razka.


Alhasil, jam belajar les itu justru menjadi tarik-ulur. Altharazka ingin mengetahui jawaban yang akan Alona berikan sekarang juga. Dia tidak mau menjadi cowok yang tidak mendapatkan jawaban.


Jauh di luar prediksi, Alona justru menganggap Razka hanya sebagai teman. Ya, hanya teman dan tidak lebih.


Maaf, Al ... pacaran gak pernah ada dalam kamusku. Banyak hal yang ingin ku raih, salah satunya mengubah nasib keluargaku. Untuk itu aku harus fokus, Al. Tidak ada waktu untuk pacaran.


Terdiam, Alona hanya mampu bermonolog dalam hatinya. Dia hanya merasa bahwa banyak mimpi dan angan yang akan dia raih di masa depan. Oleh karena itu, Alona memilih mengesampingkan pacaran.


"Loe bohong, Lona. Gue bisa merasakan bahwa loe care sama gue. Loe gak pengen terjadi apa-apa sama gue. Selain itu, loe ingin gue menjadi sosok yang lebih baik. Sadar atau tidak sadar, perasaan loe yang tersirat itu bisa gue lihat dan rasakan, Alona."


Walau Alona menyangkal, tapi Altharazka mengatakan argumen yang seolah memaksa Alona untuk bisa berkata jujur. Sebab, jauh yang Altharazka rasakan tidak seperti yang Alona sampaikan.


"Enggak, Al. Gue care karena kita temen," balas Alona.


Lagi-lagi, Alona masih menyanggah dan menyangkal. Dia ingin berbicara bahwa itulah perasaannya. Akan tetapi, Altharazka tidak akan menerima begitu saja.


"Bohong."


"Gue gak bohong, Al," balas Alona.


"Jujur pada hati dan diri loe sendiri, Lona."


Alona tersenyum, ya dia berusaha tersenyum ketika Altharazka sedang sangat serius sekarang. Alona ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa dia benar-benar jujur.


"Gue jujur, Al."


Usai mengatakan itu, Altharazka beringsut. Dia sangat tidak percaya dengan apa yang Alona katakan. Kepedulian dan sikap Alona selama ini sudah membuktikan semuanya. Altharazka akan berusaha membuat Alona untuk jujur dengan perasaannya.