
Sepulang dari sekolah, Alona berinisiatif untuk mengajak bicara Altharazka. Tentu itu terkait dengan tugas yang diberikan Bu Heny. Setakut apa pun Alona kepada Altharazka, tapi untuk tugas dan tentu karena nilai, Alona sampai mencoba mengajak bicara Altharazka.
"Hei, kamu ... Altharazka. Kapan kamu punya waktu untuk mengerjakan tugas?" tanya Alona.
"Gak punya," balas Altharazka dengan menunjukkan reaksi yang dingin.
Alona sampai menundukkan wajahnya. Menggigit bibirnya sendiri, baru sekadar mendengar jawaban dari Altharazka saja rasanya Alona sudah menyerah. Apakah mungkin lebih baik.
baginya untuk mengerjakan sendiri, tanpa melibatkan Altharazka. Dari sikapnya selama mengikuti pelajaran, Alona saja bisa menyimpulkan bahwa Altharazka sama sekali tak tertarik dengan sekolah dan pelajaran. Di dalam hatinya, Alona tentu ingin mendapatkan nilai yang bagus. Tidak mau hanya bergantung kepada siswa yang tidak memiliki motivasi belajar, jika itu hanya menguntungkannya sendiri.
"Jadi kamu gak mau mengerjakan tugas?" tanya Alona lagi.
"Gak, gue gak butuh nilai," jawab Altharazka.
Usai itu, Alona menganggukkan kepalanya samar. Di dalam hatinya, sudah jelas motivasi keduanya berbeda. Alona selalu ingin mendapatkan nilai terbaik. Dia ingin membuktikan kepada orang tuanya, harus hidup dengan ekonomi rendah bukan berarti membuat seseorang kehilangan masa depan dan juga tidak memiliki peluang untuk memperbaiki nasib. Namun, dengan nilai yang baik, dengan sekolah yang baik, Alona ingin menggapai cita-citanya.
"Baiklah," jawab Alona.
Usai itu, Alona menyandang tas di bahunya. Dia berjalan begitu saja melewati Altharazka. Jika memang temannya itu tidak peduli. It's oke. Tidak masalah untuk Alona. Sebab, Alona memiliki cita-cita sendiri. Dengan atau tanpa Altharazka pastilah dia akan mendapatkan nilai yang baik.
Sementara itu, Altharazka perlahan mengalihkan pandangannya. Dia menatap punggung yang perlahan bergerak menjauh. Bisa Altharazka lihat tas ransel warna biru yang terlihat lusuh itu. Tidak ada gumaman dalam hati, hanya saja Altharazka merasa kesal bertubi. Pertama, hari pertama masuk kelas dan mendapatkan wali kelas yang menyebalkan. Kedua, baru hari pertama sekolah sudah ada tugas kelompok. Rasanya sangat menyebalkan.
Beberapa saat setelahnya, Altharazka berjalan keluar dari kelasnya. Dia berjalan menuju ke parkiran motornya. Helm full face dia kenakan, lantas dia memanasi sepeda motor besarnya terlebih dahulu. Bahkan di sekolah saja, Altahrazka beberapa memacu gas di tangannya.
Usai itu, dengan kuda besinya dia menuju ke markas ARC. Masih dengan seragam putih abu-abu, dan juga jaket hitam yang membungkus wajahnya. Tidak dengan kecepatan sedang, kuda besi itu melaju begitu kencang, kadang dia menyelip ke kanan dan ke kiri. Altharazka tak memikirkan lalu lalangnya jalan raya. Yang pasti dia terus menggeber motornya. Begitu sudah tiba di ARC, rupanya ada tantangan balap motor.
"Wis, jagoan kita datang. Mau tanding, Raz?" tanya Raga kepada Razka begitu Razka sudah sampai di sana.
"Kagak, males gue," balas Razka dengan menaruh helm full face miliknya.
"Cuma balapan biasa aja, Bro. Buat pemanasan," balas Raga lagi.
Altharazka menghela napas panjang. Pemuda itu justru menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang ada di markas ARC. Bukan tak mau, tapi Altharazka enggak untuk balapan di siang hari yang sangat terik seperti ini.
Raga dan beberapa anak ARC pun menganggukkan kepalanya. Dari celana abu-abu yang Razka kenakan saja memang terlihat bahwa Razka usai pulang sekolah.
"Anak geng motor, sekolahnya rajin juga ya, Pak?" canda Dicky, salah seorang anggota ARC yang lain.
"Gak, ngisi waktu aja. Daripada di rumah," balas Razka.
Hahahah!
Dicky dan Raga pun tertawa. Tidak menyangka bahwa Razka menganggap sekolah hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu saja. Terlihat dari tas milik Razka yang ringan, pastilah Razka hanya membawa satu buku tulis saja.
"Udah loe pada! Jangan berisik. Yuk, adu balap," balas Razka.
Akhirnya di sana, Razka, Raga, dan beberapa anak ARC mulai menunggangi kuda besinya. Suara knalpot yang bising terdengar di sana. Namun, tangan kanan masih terus-menerus menekan gas.
Sampai pada akhirnya. Balapan yang katanya untuk pemanasan saja itu dimulai.
Satu ... Dua ... Go!
Mulailah Razka memacu motornya. Ketika sudah di atas sepeda motor, dan tangan mengendalikan gas dan rem, rasanya sudah tidak lagi yang Razka takutnya. Balapan bukan sekadar memacu adrenalinnya, tapi juga memberikannya kebebasan. Jarum yang bergerak di spedometer pun tidak Razka hiraukan. Dia terus memacu dan memacu. Sampai di batas, dia berada di posisi pertama.
Ya, Razka berhasil mengasapi dengan knalpotnya untuk anggota ARC yang lain. Kepercayaan dirinya pun meningkat.
Vrooom ... Vroom ....
Tikungan berhasil Razka melewati. Yang Razka pikirkan hanya apa yang ada di hadapannya saja. Memacu motornya sampai finish. Tinggal beberapa tikungan, jarak Raga dan kawan-kawan masih tertinggal jauh di belakang. Sementara di depan garis finis sudah terlihat.
Razka tersenyum kecil di sudut bibirnya. Yap, dia berhasil memenangi lagi adu balap siang itu.
Razka! Razka! Razka!
Beberapa anggota ARC yang melihat pun meneriakkan nama Razka. Agaknya kemampuan balapan Razka harus diacungi jempol. Dia tidak hanya berhasil melawan Thunderbolt, tapi sekarang dia berhasil memenangkan adu balap dengan kawan-kawannya itu.