
Agaknya masih terjadi tarik ulur antara Altharazka dan Alona. Bagaimana tidak, Altharazka merasa bentuk sikap Alona selama ini adalah bukti bahwa Alona peduli dan bahkan memiliki perasaan dengannya. Altharazka bahkan tak segan untuk mengungkapkan semuanya kepada Alona.
"Kita berteman saja, Al," kata Alona sekarang.
Seakan mengambil jeda, Altharazka tidak memberikan jawaban sama sekali. Sejujurnya, Altharazka tak suka dengan penolakan terlebih ketika dia merasa bahwa Alona sebenarnya memiliki perasaan dengannya.
Diamnya Altharazka rupanya membuat Alona serba salah. Ingin melanjutkan belajar pun menjadi tak kondusif jadinya. Sebab, atmosfer di ruang tamu menjadi hening. Ingin membuka pembicaraan juga sungkan. Namun, Alona berusaha untuk mengajak Altharazka belajar bersama.
"Al, kita lanjutkan belajar yuk," ajak Alona.
"Ntar," jawab Altharazka dengan singkat.
Alona melirik Altharazka sesaat. "Walau berteman, gue akan selalu care sama loe kok, Al. Loe juga boleh anter jemput gue. Semuanya akan berjalan normal," kata Alona.
"Gak, Lon. Untuk apa semua kepedulian itu kalau gue hanya menempati posisi sebagai teman loe. Padahal, gue mulai suka sama loe, Lon. Gue care, gue peduli sama loe."
Altharazka menegaskan semuanya dengan emosi. Altharazka berkata jujur bahwa perasaannya untuk Alona itu adalah perasaan suka. Jika menjadi pacar Alona, Altharazka berpikir untuk bisa melindungi Alona. Bahkan Altharazka akan memastikan Alona tetap aman bersamanya.
Sekarang, giliran Alona terdiam. Lidahnya seketika menjadi kelu kala Razka jujur mengakui perasaannya. Siapa sangka juga si bad boy yang dulu menyebalkan itu justru akan jatuh cinta pada Alona? Altharazka sendiri juga tak tahu kapan mulai suka dan tertarik dengan Alona. Namun, bagi Altharazka setiap kali melihat bola mata Alona, Altharazka ingin selalu melindungi Alona.
"Gue tahu, Al," jawab Alona.
"Cukup tahu kan Lon? Sakit ketika gue jujur dan loe berkata tahu. Cinta hanya dibalas dengan terima kasih. Menyebalkan," balas Razka.
"Alona, kalau gue keterlaluan ..., tampar aja gue."
Belum sempat Alona memberikan jawaban. Altharazka sudah menarik Alona kian dekat dengannya, tangan Altharazka menelusup di tengkuk Alona, dan sangat Impulsifnya Altharazka mencium bibir Alona. Sungguh, bibir itu bukan sekadar bertengger saja. Akan tetapi, Altharazka didorong dengan dorongan emosi mulai menggerakkan bibirnya. Bibir itu bergerak lembut dan menghisap dua belah lipatan bibir Alona. Walau Alona terdiam dan membalas sama sekali, Altharazka tak menghiraukannya.
Itulah perasaannya. Dia tidak ingin Alona menolak. Toh, usai ini jika Alona akan benar-benar menamparnya, Altharazka akan bersiap. Mendapatkan tamparan keras dari Alona pun, Altharazka siap.
Namun, beberapa detik bibir Razka mengecup dan memagut bibir Alona tak ada balasan atau ronta dari Alona. Maka, Altharazka semakin yakin bahwa Alona sesungguhnya mencintainya. Alona sesungguhnya memiliki perasaan serupa dengannya.
Merasa kian yakin, Altharazka memiringkan wajahnya. Sekarang, cowok itu memperdalam ciumannya dengan membawa lidahnya untuk menerobos masuk. Untuk kali pertama, Altharazka memberanikan dirinya untuk mencium seorang gadis. Bukan sekadar ciuman di pipi atau kening, tapi ciuman di bibirnya. Cowok itu kehilangan akal sehatnya mana kala merasakan manis dan hangatnya kedalaman rongga mulut Alona.
Altharazka seolah berada di dalam labirin, di mana dia terhisap masuk. Walau tak memberikan jawaban, Alona tak menolak. Reaksi Alona ambigu, tapi Altharazka tak akan membuang waktu. Dengan lebih berani, cowok itu melu-mat bibir Alona dengan napas yang memburu. Sangat panas, darah Altharazka pun berdesir begitu hebat.
Sungguh, Altharazka tak menyangka bahwa ciuman bisa membangkitkan adrenalinnya. Sensasinya melebihi memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Altharazka kian memejamkan matanya. De-sah napas pun keluar dari mulutnya.
"Hh."
Altharazka tahu, di sini saatnya dia berhenti. Jika tidak, apa pun bisa terjadi. Biarkanlah Altharazka berhenti layaknya prajurit yang kalah dalam peperangan, tapi tindakan impulsifnya berakhir sampai di sini. Altharazka mengakhiri dengan hisapan yang kuat dan dalam. Lantas, pria itu menarik wajahnya.
"Fixed, kamu juga punya perasaan kepadaku, Alona. Hari ini, kita resmi jadian."
Biarkan hanya Altharazka yang menganggap hari itu adalah hari pertamanya dengan Alona. Satu ciuman menggebu cukup jadi bukti Alona memiliki perasaan dengannya. Kalau merangkai kata-kata puitis, Altharazka tidak akan bisa. Namun, memastikan perasaan Alona, dia bisa.