Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Membuntuti Seperti Penguntit



Walau Alona menolak, tapi Altharazka tak kekurangan akal. Cowok itu sengaja melakukan penyamaran dan berusaha untuk mencari tahu di mana Alona tinggal. Tidak segan-segan, Altharazka rela menaiki Bus Trans Jakarta untuk kali pertama dalam hidupnya. Semua itu tentu upaya untuk tahu di mana Alona tinggal.


Dengan mengganti jaketnya dan mengenakan topi, Altharazka turut memasuki bus. Sengaja berjaga jarak dan tidak terlalu dekat dengan Alona, tujuannya tentu untuk mengintai Alona. Selain itu ketika bahaya datang dengan tiba-tiba atau ada yang sengaja menjadikan Alona sebagai umpan, mata tajam Altharazka akan melihatnya. Di dalam hatinya, Altharazka berjanji tidak akan membiarkan musuh melukai Alona.


"Jadi, inikah kebiasaanmu, Lona? Kamu datang dan pulang dari sekolah menaiki bus ini? Berdesak-desakan dengan para penumpang yang lain untuk pulang?"


Kebiasaan Alona itu tentu berbeda sekali dengan Altharazka yang diantar oleh Papanya dengan mengenakan mobil pribadi. Altharazka bisa merasakan bahwa naik transportasi umum seperti ini sesak, gerah, tidak mendapatkan tempat duduk, dan selain itu bisa macet di jalan.


"Apa setiap harinya, kamu seperti ini Lona? Kenapa kamu bisa tahan?"


Dalam diam, Altharazka hanya bergumam di dalam hati. Dia sejujurnya sedih ketika tahu kenyataan yang dialami Alona sekarang. Altharazka melihat kepada dirinya sendiri, betapa kadang dia tidak bersyukur jadinya.


Cowok itu menunduk, sementara matanya yang setajam elang melirik ke kiri dan ke kanan, sembari tetap melihat Alona supaya tidak terlalu jauh dari jangkauan matanya. Hampir 20 menit menaiki bus dan sekarang Altharazka ikut turun ketika Alona juga turun. Jika Alona turun dari pintu depan bus, sementara Altharazka melewati pintu belakang.


"Aneh, Lona. Aku seperti seorang penguntit sekarang. Hanya demi memastikan kamu baik-baik saja," gumam Altharazka dalam hati.


Rupanya, Alona berjalan melewati perkampungan demi perkampungan. Hingga, ada kerumunan Abang Ojek dengan jaket hijau yang menyapa Alona.


"Pulang, Neng?" tanya abang-abang ojek di sana.


"Ayahnya baru narik, moga rejekinya Neng yah, bisa buat kuliah."


Alona menganggukkan kepalanya. Ya, memang ayahnya menarik ojek. Tidak peduli panas atau hujan, ayahnya berusaha mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah untuk menghidupi keluarganya dan juga untuk sekolahnya. Itulah pengorbanan seorang ayah. Bekerja apa pun tidak menjadi masalah, asalkan halal dan keluarga di rumah bisa makan.


"Benar ternyata, ayah kamu tukang ojek yah, Lon ... kehidupan kamu sangat memprihatinkan. Kenapa kamu sangat kuat, Lona?"


Dari jarak sekian meter, Altharazka menghela napas panjang. Di hadapannya benar-benar seseorang yang tidak peduli dengan mata pencaharian ayahnya. Harusnya memang Sisca and the genk tidak membully Alona. Toh, ayahnya Alona juga melakukan pekerjaan mulia. Dia adalah pahlawan dalam keluarga Alona.


Melanjutkan untuk mengikuti Alona, Altharazka menyusuri gang demi gang. Di mana rumah berdempetan satu sama lain. Lingkungan tempat tinggal di sini pasti tidak bersih dan tidak sekondusif lingkungan tempat tinggalnya yang dari kompleks perumahan elit.


Hingga akhirnya, Alona memasuki sebuah rumah berwarna hijau. Rumah kecil dan terlihat warna cat temboknya saja sudah memudar. Dari cara Alona memasuki rumah dan mengucapkan salam, Altharazka yakin bahwa itu adalah rumah milik Alona.


"Baiklah, ini rumah kamu, Lona. Aku akan sering-sering ke sinu. Aku akan mengintaimu dari jauh. Biarkanlah aku menjadi penguntit asalkan kamu aman. Perkataan Arsenio tadi mengusikku. Aku gak akan ngebiarin kamu menjadi umpan mereka yang tak bertanggung jawab."


Usai itu, Altharazka memilih untuk kembali pulang. Sekaligus dia akan menghafal lagu rutenya supaya lain kali dia bisa mengikuti Alona. Sudah menjadi keputusan Altharazka untuk melindungi Alona. Sehingga, apa pun yang terjadi Altharazka akan berusaha melindungi Alona.