
Bergandengan tangan untuk kali pertama dengan lawan jenis jujur saja membuat Alona menjadi panas dingin. Sebenarnya ini adalah paksaan. Sebab, Alona sama sekali tak berniat untuk menggandeng tangan Altharazka.
"Padahal gak harus gandengan tangan," kata Alona lirih.
"Biarin aja," balas Altharazka.
Mau tidak mau, Alona terus membiarkan Altharazka untuk menggenggam tangannya. Keduanya berjalan bersama memasuki kelas. Tidak hanya itu, Alona pun membantu Razka untuk duduk dan menggeser sedikit meja milik Razka.
"Al, kakinya hati-hati. Kaki kamu luka kan," kata Alona sekarang.
"Thanks, Lon," balas Razka.
"Hm, iya."
Usai itu, Alona memilih untuk duduk di belakang Razka. Diam-diam Alona memperhatikan punggung Razka yang memang bidang. Hanya saja timbul pertanyaan dalam hati, bagaimana seorang bad boy seperti Razka sampai bisa jatuh dari motor? Bukankah Razka sangat handal jika sudah mengendarai motor? Namun, Alona berusaha menyimpan pertanyaan itu dalam otaknya. Dia tidak akan bertanya kepada Altharazka karena Alona tahu bahwa hubungannya tak seakrab itu dengan Razka.
Hingga akhirnya Ujian Pengulangan mata pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Sebelumnya, Razka menoleh ke belakang dan berkata kepada Alona.
"Dapatkan nilai terbaik, Lon," katanya.
"Iya, kamu juga," balas Alona.
Sekarang Razka menganggukkan kepalanya. Kembali menghadap ke depan, Razka mengulum senyuman sendiri. Dia pikir dekat dengan Alona tidak ada salahnya. Toh, selama ini Alona juga sudah membantunya untuk belajar dan meningkatkan nilainya. Bahkan, kala mengerjakan soal Bahasa Inggris saja, semua penjelasan dari Alona seolah keluar sendiri. Altharazka sampai tidak mengalami kesusahan sama sekali saat mengerjakan.
Pengulangan usai, Sisca berjalan ke depan. Sama seperti biasa, gadis itu menggebrak meja Alona. "Heh, loe ... beliin gue air mineral dong," perintah Sisca.
"Gak, beli aja sendiri," balas Alona.
"Heh, belagu banget loe. Anak tukang kue dan tukang ojek aja sok-sokan banget. Loe itu gak layak sekolah di sini!"
Ketika Alona hendak menjawab, Razka sudah berdiri dan menatap Sisca yang sekarang berdiri di meja Alona.
"Loe punya tangan dan kaki kan? Kenapa loe gak beli sendiri?" tanya Razka.
Mendengar Altharazka yang terlihat membela Alona, Sisca bingung. Biasanya Altharazka tidak tertarik sama sekali dengan urusan orang lain. Akan tetapi, sekarang Altharazka terlihat membela Alona.
"Altharazka, loe belain Lona? Gadis Misquen ini?" tanya Sisca.
Altharazka lantas mengambil uang sepuluh ribu rupiah itu dan menyerahkannya kepada Sisca. "Mulai sekarang, jangan nyuruh-nyuruh Alona lagi. Ingat, kalau loe nyuruh-nyuruh Alona dan mengatakan hal yang enggak-enggak tentang dia. Loe berurusan dengan gue."
Alona saja sampai heran. Sudah menjadi hal yang biasa untuk Alona ditindas oleh Sisca and the genk. Akan tetapi, baru sekarang ada Altharazka yang membelanya. Rasanya seperti tidak mungkin.
"Altharazka, kok loe ikut-ikutan sih?"
"Ya, mulai sekarang masalah Alona adalah masalah gue," jawab Altharazka.
Usai itu, Altharazka menarik tangan Alona. Dia ingin membawa Alona pergi dari kelas. Tidak ada gunanya menanggapi Sisca dengan mulut pedasnya.
"Ikut gue, Lona," ajak Razka.
Sementara Sisca yang kesal, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "Altha ... Altharazka, loe gak boleh kayak gini ke gue yah. Gadis Misquen itu gak sepadan sama loe."
Sementara Alona jujur merasa bingung. Tidak biasanya Altharazka membelanya. Lagipula, Alona sendiri tidak mengharap dibela oleh siapa pun. Hidup dengan ditindas dan direndahkan oleh orang lain sudah Alona rasakan cukup lama, sehingga Alona sudah terbiasa.