Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Curiga dengan Arsenio



Selang satu bulan berlalu, luka di kaki dan tangan Altharazka sudah pulih. Namun, cowok itu masih bersikap absurd dan impulsif kepada Alona. Ya, ada kalanya Razka menyebalkan. Namun, ada kalanya Razka begitu peduli dengan Alona. Selain itu, di sekolah setiap kali Sisca membully Alona, Razka selalu turun tangan.


"Loe suka, Al ... sama Alona?" tanya Arsenio tiba-tiba kepada Altharazka.


Saat itu tengah jam olahraga. Keduanya duduk bersama di lapangan, menunggu nama mereka dipanggil untuk berlari. Tentu saja, Altharazka menoleh kala Arsenio tiba-tiba bertanya kepadanya.


"Bukan urusan loe, Sen," balas Razka. Sama seperti biasa, Altharazka berubah menjadi begitu cool. Dia tidak mau, ketika orang lain ikut campur dengan ranahnya. Lebih suka melakukan semuanya sendiri. Termasuk untuk perasaannya, juga tidak penting jika ada yang tahu.


"Walau loe gak menjawab, mata loe jelas menyiratkan semua, Al ... pesan gue, kalau loe benar-benar cinta ke Lona, kejar dia. Dia adalah gadis baik-baik. Gadis impian. Cantik, baik hati, pinter, apa lagi yang loe cari?"


Mendengarkan apa yang disampaikan oleh Arsenio, Altharazka sesaat melirik ke Alona. Benarkah bahwa sosok Alona adalah gadis impian? Namun, sebelumnya Altharazka harus mencari arti dari perasaannya sendiri. Benarkah itu perasaan suka atau sebatas simpati saja dengan Alona?


Sejauh ini yang Altharazka tahu bahwa belajar bersama dengan Alona terasa menyenangkan. Lantas, Altharazka juga merasa tidak suka ketika ada yang merendahkan Alona. Sama seperti Sisca yang terus-menerus membully Alona, membuat Altharazka merasa sangat kesal. Apakah itu cinta? Agaknya ini masih menjadi PR besar untuk Razka.


"Diem aja, gak usah ikut campur," balas Altharazka.


"Gue cuma ngingetin saja. Gini-gini, gue tahu masa lalu loe, Al ... kamu punya musuh yang selama ini membuntuti loe. Jangan sampai Alona menjadi targetnya. Musuh yang bakalan datang tanpa loe sangka-sangka," kata Arsenio.


Deg!


Seketika jantung Altharazka berpacu kian cepat. Dia mencoba mengingat siapa musuh yang tidak pernah dia sadari. Apakah itu anak Thunderbolt, atau seseorang yang menabraknya tempo hari. Ucapan Arsenio seakan mengingatkan Altharazka dengan siapa penabraknya beberapa pekan lalu.


"Loe sebenarnya siapa?" tanya Razka.


"Hanya kawan loe, saja ... gue bukan musuh loe," balas Arsenio.


Usai mengatakan itu, Arsenio berdiri dan pergi meninggalkan Altharazka. Sementara, Altharazka mulai merasa tidak tenang. Dia merasa harus menjaga dan melindungi Alona. Jangan sampai terjadi sesuatu kepada Alona. Sebab, jika terjadi sesuatu dengan Alona, Razka tidak akan membiarkannya.


"Lon, loe mau langsung pulang?" tanya Altharazka.


"Ya, mau bantu ibu jualan kue," balasnya.


"Gue antar aku, Lon," balas Altharazka.


Alona tersenyum tipis. Gadis itu lantas menggelengkan kepalanya. "Gak usah repot-repot, Al ... gue bisa pulang sendiri kok," balasnya.


"Gimana kalau sekarang, setiap pulang sekolah biar gue yang antar, Al?" tanya Altharazka.


"Gak usah, gue terbiasa sendiri dan bisa sendiri. Tidak usah panik dan khawatir, Al," balas Alona.


Sama seperti biasa, Alona pun sangat gigih. Dia juga adalah gadis yang mandiri. Tidak suka mendapatkan bantuan dari orang lain. Jika bisa sendiri, Alona akan melakukannya sendiri.


"Gak aman, Lona," kata Razka lagi.


"Aman, siapa juga yang mau menculik gadis miskin kayak gue."


Alona hanya berusaha untuk menjelaskan fakta. Dirinya hanya seorang gadis miskin, tidak menarik. Kalau pun diculik, tidak ada yang bisa memberikan uang tebusan. Orang tuanya juga tidak sekaya itu untuk menebusnya.


"Lona, jangan bicara begitu," balas Razka.


"Sudah, Al ... kamu pulang saja. Thanks untuk kebaikan loe."


Alona memilih menolak. Walau Altharazka mengatakan bahwa kondisi sedang tidak aman. Alona memilih santai. Tidak akan terjadi apa-apa. Lebih memilih santai dan menjalani hidup seperti air yang mengalir saja.