Dreamy Girl Vs Bad Boy

Dreamy Girl Vs Bad Boy
Amukan Papa



Setibanya di rumah kala pulang sekolah, rupanya Altharazka kembali mendapatkan amukan dari Papanya. Tentu karena ada sesuatu yang membuat Papanya begitu kesal. Hingga Papa Allister marah dengan putranya itu.


"Razka, mau kemana?" tanya Papa Allister yang baru pulang dari perusahaannya.


Dia berpapasan di ruang tengah dengan putranya yang sudah membawa Helm Full Face dan mengenakan jaket balap kesukaannya. Dari penampilannya saja, sudah bisa dipastikan bahwa Altharazka akan pergi ke markas ARC atau ingin melakukan balapan lagi.


"Mau keluar sebentar, Pa," balasnya.


"Balapan lagi?" tanya Papa Allister.


"Enggak, Pa. Cuma mau keluar sebentar kok," balas Altharazka.


Tentu itu hanya sekadar berdalih. Dalam dua tahun belakangan, Razka tidak memiliki tujuan lagi. Kalaupun dia pergi keluar rumah, tempat yang dia tuju adalah markas ARC. Kegiatan yang Razka lakukan juga adalah balapan motor.


"Dari helm yang kamu bawa bukankah sudah menunjukkan bahwa kamu akan balapan lagi. Kali ini kamu tidak boleh balapan, Razka!"


Papa Allister benar-benar membentak Razka dan tidak membiarkan anaknya itu balapan. Menurut Sang Papa, balapan motor sangat tidak baik. Hanya akan membahayakan diri sendiri saja.


"Kenapa sih, Papa selalu memarahi Razka? Kenapa Papa selalu mengekang Razka dan membuat Razka tidak bisa melakukan apa pun yang Razka mau?" tanyanya.


"Sekolah, Razka. Baru sekolah beberapa hari saja, kamu sudah berulah. Terlambat datang di hari pertama dan tadi tidak mengerjakan tugas dari wali kelasmu," ucap Papa Allister.


Razka berpikir apakah wali kelasnya sengaja mengadu kepada Papanya sampai Papanya tahu setiap kegiatannya di sekolah. Bagi Razka sama saja, dia dimata-matai tidak merasakan merdeka belajar. Yang ada justru sekolah pun hanya akan menjadi hal membosankan untuknya.


"Gak usah ikut campur, Pa," balas Razka.


"Papa harus ikut campur, karena kamu anaknya Papa. Melakukan apa yang baik saja kamu tidak bisa, Razka!"


"Kamu tumbuh jadi anak yang gak tahu sopan santun, Raz. Papa gak mau tahu bahwa kamu harus lulus SMA dan masuk ke perguruan tinggi," kata Papa sekarang.


Razka akhirnya menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Papanya. Rasanya masih begitu sebal dengan Papanya itu.


"Gak usah mengatur Razka, Pa! Lebih baik Papa urusin diri Papa sendiri. Urusin wanita yang Papa hidupi setiap bulannya itu!"


Geramlah Papa Allister. Putranya berkata yang benar-benar keterlaluan. Hingga sekarang, Papa Allister mengangkat tangannya dan menampar wajah Razka.


Plak!


"Tutup mulutmu, Razka!"


"Kenapa? Papa pikir, Razka tidak tahu? Papa sangat tahu, Pa. Wanita miskin yang mendapatkan uang dari Papa setiap bulannya. Itu alasan Mama menceraikan Papa kan? Itu alasan Mama pergi ke London kan?" teriak Razka dengan memegangi satu sisi wajahnya yang terasa panas.


Hingga akhirnya, Papa Allister menggelengkan kepalanya. Begitu kesal dengan Razka yang sudah berbicara bukan-bukan.


"Mulai sekarang, kamu tidak boleh balapan lagi," kata Papanya.


Tidak menunggu lama, Papa Allister merebut kunci sepeda motor milik Razka. Puncak dari kekesalan dan juga Razka yang seolah kian tidak bisa dikendalikan. Satu-satunya cara adalah merebut dan menahan sepeda motor milik Razka.


"Jangan motor, Razka, Pa!"


"Tidak akan ada balapan sampai kamu belajar dan mendapatkan nilai yang baik, Razka. Besok kamu akan les di rumah. Satu jam setiap harinya. Tidak ada bantahan, Raz!"


Walau marah dan sempat menampar Razka, Papa Allister berharap putranya bisa memaknai hidupnya dengan lebih baik. Tidak menjalani hidup seenaknya saja. Banyak hal, banyak target yang bisa dikejar dalam hidup ini.