
"Bos bukankah itu putri ketua? Aku yakin itu putri ketua. Aku pernah melihatnya bersama ketua di Milan tahun lalu.”
Seorang pria berkulit pucat sibuk memainkan ponsel pintar miliknya, pria berkulit pucat itu adalah Celvin Marvel salah-satu orang kepercayaan dragon.
Berapa tahun lalu Celvin mengutus orang untuk menyelidiki keberadaan kedua putri Tuan Gerald, tentu saja dia mengenal wajah putri ketua dragon.
Celvin mengalihkan atensi pada seorang wanita yang sibuk bicara pada seorang pelayan seperti memesan sesuatu, "Ya. Elektra Scharllet? Ternyata mereka sudah kembali.”
"Akan kita apakan wanita itu, bos?”
"Mereka sudah kembali dan itu merupakan keutungan besar untuk menghancurkan dragon. Hart's sangat mencintai kedua adiknya, kita bisa mengunakan mereka berdua untuk menyingkirkan Hart's." Celvin menatap lurus kearah Elektra. Wajahnya begitu datar tanpa ekspresi, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria pucat berwajah datar itu.
"Dengan begitu permainan akan berlangsung seru. Mereka tidak akan menyangkah kalau wanita yang selama ini mereka lindungi akan berbalik membunuh mereka."
"Permainan baru saja dimulai, sebuah kejutan besar sedang menanti mereka. Mereka tidak akan percaya bahwa orang yang menghancurkan dragon adalah keluarga mereka sendiri. Gemo awasi kedua putri ketua. Jangan lakukan apapun tanpa perintahku."
"Danil's?" Gemo dan Celvin memperhatikan Danil's yang baru saja masuk kedalam kafe, berjalan menghampiri Elektra. "Apa yang dia lakukan disini?”
*****
"Kau? Mau apa lagi kau kemari pria pendek?" Elektra nampak tidak suka melihat sosok Danil's yang tiba-tiba muncul dihadapannya. "Apa masih belum cukup kau menghina Kakakku hah?”
"Aku kemari atas permintaan, Hart's. Hart's tidak bisa menemuimu karena itu dia meminta bantuanku untuk menjemputmu pulang. Ah satu hal lagi Namaku Danil's Willsky bukan pria kaki pendek."
"Aku tidak tertarik dengan namamu. Sekalipun kakak memintamu datang, kau seharusnya tidak datang. Aku tidak mau melihat wajahmu itu. Apa kau tahu setiap kali melihatmu membuat perutku mual.”Sarkas Elektra. Danil's merollkan matanya jengah.
"Apa semua orang dikeluarga Scharllet sangat menyebalkan? Wah dia sangat mirip sekali dengan Hart's." cibir Danil's dalam hati.
Danils terpaksa tersenyum untuk mencairkan ketegangan diantara mereka berdua, "Ok baiklah, aku minta maaf karena sudah bicara buruk mengenai Hart's. Aku mengatakan itu karena aku sama sekali tidak tahu kalau kau adalah adiknya."
"Apapun alasanmu, aku tidak akan memaafkanmu. Kalaupun aku bukan adiknya Kak Hart's, apa menurutmu kau pantas bicara buruk mengenai saudara orang lain?”
🍁🍁🍁🍁🍁
Alan terus melihat arlojinya, sudah dua jam lebih dia berdiri disana tanpa melakukan apapun. Alan sudah mulai kehilangan kesabaran menunggu Seville yang sejak tadi hanya berdiam diri memperhatikan sepasang angsa bermain didanau.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan ditempat seperti ini?"
"Menikmati pemandangan. Waktu kecil aku sering ketempat ini bersama Ayah." Seville menghela nafas lega karena bisa bernostalgia mengingat masa kecilnya."Ah... setelah bertahun-tahun akhirnya aku bisa datang ketempat ini lagi.”
"Cih! Haha... bagus sekali. Hei yang benar saja. Dua jam aku menunggumu hanya untuk mengenang masa kecilmu? Kau membuang waktu berhargaku, Nona Scharllet." Alan berkacak pinggang.
"Hups Sory. Kalau begitu kenapa kau masih disini? Kau bisa pergi dari tadi Tuan Gigolo. Tidak ada yang ingin menahanmu disini." Sarkas Seville tanpa menatap kearah Alan.
Alan mencengkram lengan Seville. "Kita pergi sekarang, aku tidak ada waktu untuk menemanimu bermain."
Seville melepaskan cengkraman Alan dengan kasar, entah hubungan seperti apa yang mereka berdua miliki dimasa lalu sampai membuat mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu, "Yak kau pergi saja sendiri. Aku masih ingin berada disini. Sana hus, hus, pergi sejauh mungkin. Waktu terus berjalan bukankah waktumu sangat berharga, Tuan?"
"Baiklah. Terserah kau saja! Ingatlah jika sampai terjadi sesuatu padamu jangan pernah menyalahkanku. Salahkan dirimu sendiri, kau bukan lagi tanggung jawabku."
Seville menatap kepergian Alan. "Wah dia benar-benar pergi. Dasar pria tidak punya hati. Tsk dia memiliki mulut yang manis."
Tidak lama setelah kepergian Alan muncul seorang pria bertubuh jangkung. Jika dilihat dari penampilannya nampaknya pria ini berasal dari kelangan atas. Lihat saja pakaian dan barang mewah yang melekat ditubuhnya, semuanya berasal dari merk terkenal.
"Sendirian saja, Nona?" Charles mengambil tempat tepat disamping Seville.
"Apa matamu buta? Kau tidak lihat, tidak ada orang lain disini selain aku hah?" cetus Seville tanpa melirik kearah Charles sedikitpun. Mood-nya sedang tidak baik hari ini, cukup Alan yang membuatnya kesal jangan sampai pria asing ini juga menambah kekesalannya.
"Nona, wanita secantik dirimu tidak pantas bicara sekasar itu. Bagaimana jika tidak ada pria yang tertarik padamu selain aku?”
Seville tersenyum kecil menatap Charles. "Katakan saja apa maumu? Aku tidak punya waktu untuk meladeni sampah sepertimu."
Charles menyeringgai mendengar pertanyaan tajam Seville. Charles memainkan jari jemari tangannya diwajah mulus Seville. Tidak lama kemudian Charles mendekatkan bibirnya ketelinga Seville, membisikan sesuatu dan plakk. Sebuah tamparan mendarat diwajah Charles.
"Brengsek, berani sekali kau menamparku." teriak Charles penuh amarah.
"Pria brengsek sepertimu pantas mendapatkannya. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku berteriak."
"Dengar kau akan menyesal nanti!”
"Aku harap begitu, Tuan!" Seville meriksa saku pakaian Charles mencari ponsel milik Charles, begitu mendapatkannya Seville langsung selca mengunakan ponsel milik Charles dan memberikan ponsel itu pada Charles. "Aku harap kau tidak akan melupakan penghinaan ini, setiap kali kau melihat wajahku di ponselmu.
...🍂🍂🍂...
Seperti biasanya para penerus dragon mengawasi club malam milik mereka yang ada didaerah Golden Sky. Nampaknya malam ini sedikit ada perubahaan dimana biasanya hanya ada mereka disana, sekarang ada Shena yang bergabung bersama mereka.
"Shena, kami senang kau datang.” Danil's memberikan pelukan hangat pada Shena, menyambut baik kedatangan Shena.
"Kau benar-benar menyukainya?” Fernando mendekat kearah Hart's.
"Berhenti menanyakan hal itu atau aku akan merusak wajahmu." Hart's mendorong Fernando menjauh. Fernando menggigit bibirnya menahan tawa. Dia nampak senang bisa mengoda Hart's apa lagi saat wajah pemilik lesung pipi ini merona menahan malu.
Shena memperhatikan keadaan disekitarnya, sebuah club malam mewah yang ramai di kunjungi tamu dari kalangan atas. Tidak semua orang bisa masuk keclub ini dengan bebas, tempat ini selain terkenal karena fasilitas mewah dan pelayanannya juga terkenal karena wanita penghiburnya.
Untuk menjadi wanita penghibur di club ini saja harus melewati banyak seleksi yang cukup berat, selain harus memiliki wajah cantik dan tubuh seksi juga harus memiliki kelebihan lain misalnya saja menyanyi dan manari untuk menghibur tamu.
Selain itu syarat lainnya mereka bekerja atas kemauan mereka sendiri tanpa paksaan, mereka bisa berhenti kapanpun mereka mau. Para pekerja disini juga mendapatkan hak istimewa, mereka benar-benar dijaga oleh dragon.
"Dimana Alan? Aku tidak melihatnya sejak tadi?"
Para penerus dragon saling bertukar pandang, mereka sama sekali tidak menyadari kalau Alan tidak ada disana bersama mereka.
"Aku bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Aku akan menghubunginya.” Danil's beranjak dari tempatnya, menjauh dari keramaian untuk menghubungi ponsel Alan.
Sementara diluar club, salah-satu orang kepercayaan Hart's belari menghampiri Alan yang sedang memparkirkan sepeda motornya, "Tuan gawat.”
"Apa yang kau bicarakan?" Alan menaikkan alisnya menatap heran pada anak buahnya.
"Kami baru saja mendapatkan informasi kalau sedang terjadi keributan ditaman kota."
"Taman? Ah sial.”Alan langsung memakai helm-nya kembali
dan pergi begitu saja dengan mengendarai sepeda motornya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Alan menyusuri jalanan sekitar taman untuk mencari keberadaan Seville. Alan langsung menghentikan motornya begitu melihat seorang pria memaksa Seville masuk kedalam mobil.
"Maaf Tuan, bisakah anda melepaskan wanita gila itu?" Alan turun dari motornya dan berjalan mendekati mereka. Kalau saja dia tidak dalam genggaman Charles, Seville sudah belari menerjang Alan. Seenaknya saja dia menyebutnya wanita gila. Tidak ada wanita gila secantik dirinya.
"Kau pikir siapa dirimu? Berani sekali kau merintahku seperti itu."
"Siapa aku itu sama sekali tidak penting. Yang jelas aku ingin kau menjauhkan tangan kotormu dari... wanita gila itu."
Mendengar nada bicara Alan yang terdengar angkuh membuat Charles marah dan langsung menyerangnya. Lagi-lagi pengikut dragon saling melukai satu sama lain, banyaknya pengikut dan luasnya daerah kekuasaan membuat mereka tidak saling mengenali satu sama lain.
Charles yang babak beluru dihajar oleh Alan berjalan mendekati Seville, "Pikirkan tawaranku. Hubungi aku kapapun jika kau berubah pikiran, Nona. Aku selalu siap menerimamu." Charles masuk kedalam mobilnya dan pergi begitu saja.
🍁🍁🍁🍁🍁
Alan mengehentikan motornya disebuah kios bensin. Alan turun dari motornya dan bergegas menuju supermarket yang ada didekat kios. Tidak lama kemudian dia kembali menemui Seville dengan membawa minuman dingin.
"Minumlah. Aku membelinya untukmu.” Alan memberikan minuman dingin pada Seville." Tidak perlu berterima kasih karena aku tidak ingin mendengarnya, terlebih lagi dari mulutmu."
Seville memperhatikan wajah Alan yang terluka. "Hei kau terluka?"
Alan menyentuh wajahnya yang terluka. "Ini hanya luka kecil.”
"Luka sekecil apapun sebaiknya jangan dianggap remeh. Bagaimana jika sampai infeksi?”
"Yak! Apa kau mencemaskanku eoh? Jangan lakukan itu, kau membuatku merinding. Dari mana saja kau seharian ini mmh? Kenapa kau tidak menghubungiku atau Hart's untuk menjemputmu?" Alan bukannya menjawab pertanyaan Seville malah balik bertanya. Seville hanya mengelangkan kepala melihat sikap kekanak-kanakan Alan.
"Haruskah aku menjawab semua pertanyaanmu? Sedangkan kau sudah tahu jawabannya. Kenapa kau menanyakan hal bodoh seperti itu sih?”
"Jawab saja pertanyaanku Seville!" suara Alan terdengar dalam dan berat membuat Sevile tidak bisa berkutik.
"Aku... tidak pergi kemanapun selain taman." jawab Seville sedikit emosi, bagaimana dia tidak emosi sejak tadi Alan menekannya, membuatnya kesal.
"Siapa pria yang bersamamu tadi?”
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Hei berhentilah bertanya. Kau membuatku kesal tahu tidak."
"Apa?Kau tidak mengenalnya?" ujar Alan yang terus mengalih informasi dari Seville mengenai Charles.
"Apa kau ini seorang raporter? Apa kau seorang polisi hah? Aku bukan tersangkah yang harus kau introgasi seperti ini. Aku sudah katakan aku sama sekali tidak mengenalnya, lalu kenapa kau masih menekanku? Kau tahu kata-katamu terdengar tajam ditelingaku." Protes Seville. Ok katakan-lah dia berhutang budi pada Alan yang sudah menolongnya tapi ayolah. Itu bukan berarti Alan berhak atas dirinya.
"Apa yang pria itu katakan padamu?” Manik kelam Alan menatap Manik biru laut Seville, mengunci manik itu.
"Tidak ada!”
"Jika tidak ada yang dia katakan padamu, dia tidak mungkin memintamu memikirkan tawarannya. Jawab pertanyaanku dengan benar Nona Scharllet, pria itu menemuimu ditaman bukan?”
"Ya Tuhan... ada apa denganmu eoh? Bisakah kau membunuhku saja? Kenapa kau terus-terusan menyerangku seperti ini hah? Ya, pria itu memang menemuiku ditaman tapi mengenai tawarannya itu sama sekali tidak penting."
"Tidak penting? Mana mungkin dia mengingatkanmu untuk memikirkan tawarannya lagi."
"Astaga kau ini sangat menyebalkan. Kalau saja tidak ada hukum untuk seorang pembunuh, aku sudah membunuhmu sejak tadi, gigolo sialan." Dada Seville naik turun menadakan betapa marah dan emosinya dia saat ini menghadapi sikap Alan.
"Beritahu aku apa yang dia katakan padamu?" Alan terus mendesak Seville untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Ini sudah larut, aku mau pulang. Berurusan denganmu lebih lama membuatku darah tinggi. Kau membuatku sakit kepala."
"Hei aku belum selesai bicara.”
"Dengar Tuan gigolo, aku lelah dan aku ingin istirahat. Aku tidak ingin membahas sesuatu yang tidak penting seperti ini."
"Kau masih sama saja seperti dulu. Begitu keras kepala, aku heran bagaimana Hart's bisa bertahan menjadi kakak dari wanita gila sepertinya?" Alan memperhatikan kepergian Seville yang semakin menjuah darinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Brengsek. Kalian semua tidak berguna." Tuan Imanuel memukuli anak buahnya dengan tongkat bisbol. "Bagaimana Max bisa mengetahui semuanya."
"Maafkan kami, bos. Kami sama sekali tidak menyadari keberadaan Max. Max berhasil mengikuti kita sampai dermaga."
"Semuanya berantakan karena kebodohan kalian. Keluar kalian sebelum aku membunuh kalian semua disini." Anak buah Tuan Imanuel bergegas keluar dari ruangan.
"Tsk. Anak buah Ayah tidak ada satupun yang berguna. Mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan semudah ini." Charles menatap remeh sang Ayah.
"Tutup mulutmu! Kau sama tidak bergunanya seperti mereka. Posisimu sedang terancam dan kau mala berkelahi dengan orang yang tidak dikenal." Tuan Imanuel melempar botol bir kelantai, Charles hanya memasang wajah datar melihat kemarahan ayahnya.
"Tidak ada gunanya melampiaskan kemarahanmu. Sebaiknya Ayah hubungi Celvin sebelum Hart's dan teman-temannya menemukan sesuatu ditempat itu.”
To Be Continued ....