DRAGON

DRAGON
Chapter 20 : Aku Tidak Bisa Melibatkannya.



"Paman hal penting apa yang ingin kau bicarakan? Sampai memaksaku menemuimu disini?" Alan menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Tuan Victor.


"Wanita itu bukan dia putri Gerald? Uh apa hidup bersama dragon membuat akal sehatmu rusak, Alan? Apa kau sudah gila membawa putri musuhmu pulang kerumahmu?" Tuan Victor tidak bisa menyembuyikan amarahnya mengetahui Alan membawa putri musuh mereka kerumahnya.


"Paman, Ketua adalah sahabat ayahku jika paman lupa. Dan aku tidak pernah menjadikan ketua sebagai musuhku." Alan menatap Tuan Victor dari ujung ekor matanya.


Alan sedikit tidak suka saat Tuan Victor menjadikan Tuan Gerald sebagai musuhnya. Walaupun mereka sudah terpisah selama bertahun-tahun tapi Alan masih menghormati Tuan Gerald sebagai paman sekaligus sahabat baik ayahnya.


"Terserah kau saja. Wanita itu? Kita bisa memanfaatkannya untuk menyelidiki dragon." Demi Tuhan Alan ingin sekali memukul kepala atasannya ini. Bisa-bisanya dia memaki Alan kehilangan akal sehatnya sedangkan dia sendiri tidak waras.


"Hah? Maksud paman? Aku tidak mengerti apa yang paman bicarakan. Memanfaatkan?" Jujur saja Alan terkejut mendengar ucapan atasannya ini. Namun sebisa mungkin Alan mengendalikan keterkejutannya agar Tuan Victor tidak curiga dan menayakan hal yang tidak-tidak padanya.


"Nikahi saja wanita itu, dengan begitu kau lebih bebas melakukan tugasmu."


"Haha. Tsk paman lelucunmu sama sekali tidak lucu. Seville tidak ada hubungannya dengan ini, dia bahkan tidak tahu kalau ayah dan kakeknya adalah seorang mafia. Bagaimana bisa kau menariknya kedalam masalah ini? Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu."


Tuan Victor menatap tidak suka pada Alan, meski idenya sedikit egois kerena menarik orang tidak bersalah tapi dia melakukan ini demi keselamatan Alan sendiri. Tuan Victor tidak ingin Alan berada ditempat itu terlalu lama dan melupakan tujuannya.


"Cih. Kau? Ternyata kau sudah jatuh cinta pada putri musuhmu."


"Ini tidak ada hubungannya dengan cinta atau apapun. Aku hanya tidak ingin melibatkan Seville kedalam masalah ini dan?" Alan mengepal tangannya, dia berusaha untuk tidak terpancing emosi dengan perkataan Tuan Victor, Alan menghela nafas kasar. "Sudah berapa kali aku katakan, Paman Gerald bukan musuhku. Dia adalah pamanku sama sepertimu."


"Baik-baiklah lakukan saja semaumu. Aku harap kau bisa membedakan urusan pribadimu dengan percintaanmu. Jangan sampai wanita itu merusak semuanya. Ada kabar mengenai keberadaan adikmu dan aku yakin kau akan mempertimbangkan ideku untuk menikahi wanita itu."


Tuan Victor memberikan sebuah amplop coklat kepada Alan dimana didalamnya terdapat foto dan informasi mengenai adik yang selama ini Alan cari. "Adikmu adalah putri Tuan Glend, saudara laki-laki Tuan Gerald."


🍁🍁🍁🍁🍁


Alan meremas dokumen itu, dia teringat akan sosok Elshe dan entah kenapa dia merasa yakin kalau Elshe adalah Livia, adiknya. Setelah bertemu dengan Tuan Victor, Alan bergegas masuk kedalam rumah.


Melihat kemunculan Seville buru-buru Alan menyembuyikan dokumen di tangannya kedalam baju. Seville sedikit heran melihat sikap gugup Alan tapi dia lebih memilih tidak mengubrisnya.


"Kenapa kau masih memakai pakaian kotor itu?" Alan memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Seville seharian ini. Alan mengusap kasar wajahnya. Dia tidak akan perduli kalau saja pakaian yang dikenakan oleh Seville tidak kotor.


"Ini bukan rumahku dan aku tidak memiliki pakaian disini. Aku tidak akan memakai ini kalau saja aku memiliki pakaian ganti." Seville mengembungkan kedua pipinya sebagai tanda protes akan perkataan Alan.


Alan bergegas masuk kedalam kamarnya, mencari pakaian didalam lemari pakaiannya lalu tidak lama kemudian dia keluar menemui Seville dan memberikan pakaian tersebut pada Seville.


"Ada apa lagi? Kenapa kau tidak segera mengantikannya?"


"Yak gigolo murahan, aku tidak mungkin menganti pakaian disini didepanmu."


"Tidak tahu! Mereka tidak mengatakan apapun padaku. Jika kau lapar. Kau makan saja aku sudah menyiapkannya untukmu." teriak Seville dari dalam kamar Alan.


"Aku tidak lapar. Kau makan saja sendiri. Jika kau sudah selesai bisakah kau keluar? Aku lelah dan aku ingin istirahat." Seville segera keluar dari kamar Alan.


"Ini sudah larut malam. Kau menginap saja disini, aku akan memberitahu Hart's. Kau bisa tidur dikamar itu."


Seville hendak membuka mulutnya namun jari manis Alan lebih dulu menemepl dibibir Seville membuatnya mengatup mulutnya kembali.


"Tolong kali ini saja biarkan aku tidur dengan tenang. Aku tidak memiliki tenaga untuk berdebat denganmu."


Seville menyingkirkan jari Alan dari bibirnya." Aku juga tidak ada niat menganggumu. Kau bisa tidur selama yang kau mau."


"Bagus. Kebetulan sekali aku sudah lelah." Alan mendorong tubuh Seville dan masuk kedalam kamarnya, belum sempat Seville protes Alan lebih dulu menutup pintu kamarnya.


"Yak gigolo, kecoa sialan.Β  Kau benar-benar menguji kesabaranku. Aku tidak mengerti kenapa ada manusia sepertimu didunia ini. Woh tuhan dosa apa yang aku lakukan dimasa lalu sampai kau mempertemukan aku dengan makhluk sepertinya." teriak Seville sambil menendang pintu kamar Alan. Alan sama sekali tidak perduli dengan teriakan Seville.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Perkataan Tuan Victor berapa hari lalu mengenai adiknya terus mengiang dibenak Alan. Alan bahkan tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaan karena memikirkan perkataan Tuan Victor.


Bagaimana jika Elshe adalah adiknya? Apa yang harus dia katakan pada Elshe nantinya? Dia tidak mungkin menemui Elshe dan mengatakan kalau dia adalah saudaranya? Bisa-bisa Elshe akan berpkiran buruk mengenainya. Fernando yang baru saja masuk kedalam ruangan nampak heran melihat sikap Alan, seharian ini Alan lebih banyak melamun.


"Hei ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?"


Alan menoleh kearah sumber suara, Alan terlalu larut dalam pikirannya sampai dia tidak menyadari keberadaan Fernando didekatnya. "Fernando? Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa Elshe satu-satunya putri Paman Glend?"


Alan bukannya menjawab pertanyaan Fernando mala balik bertanya. Fernando hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban." Kau yakin Paman Glend tidak memiliki putri lain selain Elshe?"


"Aku yakin dan aku sangat yakin. Kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan langsung pada orangnya." FernandoΒ  membenarkan posisi duduknya, Fernando sama sekali tidak mengerti kenapa Alan tiba-tiba menanyakan soal Elshe. "Hei apa kau menyukai Elshe? Kenapa kau tiba-tiba penasaran dengannya?"


"Aku yakin Elshe adalah Livia, adikku. Aku harus mencari tahu kebenarannya, jika benar dia adalah adikku. Aku harus membawanya pulang bagaimanapun caranya." batin Alan


"Fernando, aku pergi dulu. Hubungi aku jika kalian memerlukan bantuanku." Alan mengambil kunci motornya yang ada diatas meja dan bergegas keluar dari ruangan dragon.


"Yak Alan, kau mau kemana, Sialan. Aku belum selesai bicara." teriak Fernando frustasi. "Tsk. tidak mungkin dia menyukai Elshe? Tidak, tidak! Alan tidak mungkin suka pada wanita seperti Elshe."


Fernando menampar pelan wajahnya, kemudian dia tertawa membayangkan pikirannya benar.


To Be Continued ...