DRAGON

DRAGON
Chapter 42 : Jangan pergi



Sudah satu minggu berlalu sejak Elshe tidak sadarkan diri di rumah sakit, tapi hingga saat ini Elshe masih belum juga membuka matanya. Fernando dengan setia berada disisinya, tidak pernah sekalipun Fernando meninggalkan sang istri. Elshe menggerakkan jemari tangannya, tidak lama kemudian Elshe membuka matanya memperhatikan sekelilingnya, bibirnya tersenyum ketika melihat sang suami tertidur pulas disampingnya.


“Elshe?”Fernando yang merasakan usapan pada kepalanya segara membuka matanya, betapa senangnya ia ketika melihat sang istri tersenyum padanya.


“Apa aku membangunkanmu?”


“Tidak.”


“Syukurlah kau sudah siuman. Aku akan memanggil dokter, tunggu sebentar,” Shena yang terlampau senang bergegas berlari keluar, melupakan fungsi tombol yang berada disisi ranjang Elshe.


“Sepertinya dia lupa fungsi benda di sisi ranjang, Elshe.” Mereka semua tertawa kecil mendengar ucapan Seville. “Elshe, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?”


“Tidak ada. Aku baik-baik saja, maaaf sudah membuat kalian khawatir,” Elshe meraba perutnya yang tiba-tiba mengecil. ”Perutku? Apa yang terjadi pada kandunganku?”


Mereka semua hanya saling menatap satu sama lain. Tidak ada satupun diantara mereka yang berani menatap kearah Elshe termasuk Fernando.


“Kenapa kalian semua diam? Dimana bayiku?” Elshe semakin takut melihat semua orang diam, Elshe menggelengkan kepalanya, menyingkirkan segala pikiran buruk mengenai kandungannya. "Jangan diam saja, jawab pertanyaanku? Apa sekarang kalian semua bisu hah?"


Fernando menarik Elshe kedalam pelukannya, ”Kau harus kuat. Maafkan aku, aku tidakn bisa melindungimu dan bayi kita.”


“Fernando apa yang terjadi? Kenapa kau minta maaf padaku? Kandunganku? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada bayiku?” teriak Elshe frustasi.


“Maafkan aku. Bayi...ki-ta tidak bisa diselamatkan.” Fernando menunduk sedih, ia tidak bisa melihat kesedihan Elshe karena kehilangan bayinya.


“Apa? Itu tidak mungkin!” Elshe memukuli suaminya. ”Fernando kembalikan bayiku. Di mana bayiku, brengsek? Kembalikan bayiku.”


“Elshe, kau harus bisa mengikhlaskan kepergian bayimu,” kata Danil’s dengan nada pelan


“Apa? Mengikhlaskan? Kau ini bicara apa Danil’s? Ini sama sekali tidak lucu, aku mohon kembalikan bayiku. Aku ingin bayiku!” tangis Elshe pecah.


Alan mengempalkan tangannya melihat adiknya yang menangis histris seperti itu. Elshe mencoba untuk turun dari atas tempat tidur, kaki Elshe tidak kuat menompang tubuhnya sehingga membuatnya terjatuh. Fernando membantu Elshe, namun Elshe mendorong tubuhnya menjauh .Elshe tertawa kecil menatap kakinya.


“Kakiku? Ke-napa kaki tidak bisa digerakkan?” Elshe berusaha untuk mengerakkan kakinya. Setiap kali ia hendak berdiri dia selalu terjatuh. ”Ini tidak mungkin! Apa yang terjadi pada kaki ku? Tidak! Aku tidak mungkin lumpuh.”


Fernando menggendong tubuh istrinya dan meletakkannya kembali ke atas tempat tidur. Alan yang tidak sanggup melihat penderitaan adiknya, segera pergi meninggalkan tempat itu. Seville yang melihat kepergian Alan langsung menyusul Alan.


“Alan kau mau kemana? Alan tunggu aku,” Seville mempercepat langkahnya, menarik tangan Alan dan kemudian menamparnya. ”Apa yang akan kau lakukan hah? Kau tidak dengar kau berteriak memanggilmu?”


“Bukan urusanmu! Sebaiknya kau kembali kesana.”


Seville menatap tajam kedalam mata Alan. ”Kau ingin balas dendam?”


“Mereka harus membayar mahal atas penderitaan adikku. Aku tidak bisa membiarkan mereka tertawa senang diatas penderitaan adikku.”


“Apa kau pikir dengan membunuh mereka semua keadaan akan kembali seperti semula? Setelah kau balas dendam apa Elshe akan bisa berjalan dengan kedua kakinya lagi? Apa bayi Elshe akan hidup kembali?”


Tanpa memperdulikan ucapan Seville, Alan melangkah pergi. Seville kembali mengejar Alan hingga keluar


rumah sakit. Seville terjatuh diatas jalanan yang kasar membuat Alan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara ringgisan kesakitan Seville.


“Alan, aku mohon jangan pergi,” tangis seville “Saat ini Elshe lebih membutuhkanmu, aku mohon tetaplah disisi adikmu.”


Alan menghela napas berat, lalu dia menghampiri seville yang menangis seperti anak kecil dijalanan. “Berhentilah menangis. Kau bahkan tidak pantas menangis,” bentak Alan yang kesal mendengar suara tangisan Seville.


“Kalau aku berhenti menangis, a-pa kau tidak akan pergi?” Seville mengusap hidungnya melihat Alan menganggukan kepalanya.