DRAGON

DRAGON
Chapter 34 : Pernikahan berdarah



Malam ini adalah malam bahagia bagi Fernando juga Elshe, dimana mereka berdua akan resmi menjadi sepasang suami istri. Dihadapan para tamu undangan yang hadir mereka berdua meresmikan pernikahan mereka.


Elshe terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih sementara Fernando terlihat tampan dengan jas tuxedo putihnya. Kebahagian mereka belum lengkap tanpa restu Tuan Glend, selaku ayah yang selama ini merawat dan membesarkan Elshe.


Nyonya Andin bermaksud untuk mebawa Tuan Glend kepesta pernikahan Elshe, Nyonya Andin pergi mengunjungi kediaman Tuan Glend. Setibanya disana, Nyonya Andin bergegas mencari keberadaan Tuan Glend. Nyonya Andin tidak menemukan keberadaan sang kakak dilantai dasar, kemudian Nyonya Andin mencoba mencari sang kakak di lantai atas.


"Apa yang kalian kerjakan selama ini? Belasan tahun aku menunggu kesempatan ini. Menunggu untuk menghancurkan Gerald, menguasai dragon. Kaerna kebodohan kalian aku harus menunggu lebih lama lagi." bentak Tuan Glend sambil melemparkan gelas kelantai.


"Menghancurkan mereka bukanlah pekerjaan yang muda," kata Tuan Immanuel


"Untuk itulah kalian disini. Aku sudah banyak membunuh orang dengan tangan ini demi kemenanganku. Aku akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalanku termasuk kalian. Orang tua Alan, Ali juga Elshe mati ditangan ini. Jangan sampai tangan ini juga yang akan menghabisi nyawa kalian." Tuan Glend menyodorkan pistolnya kekening Tuan Immanuel.


Nyonya Andin tidak sengaja menjatuhkan pas bunga. Ketiga orang itu melihat Nyonya Andin buru-buru Ayonya Andin bergegas meninggalkan tempat itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Sekarang bagaimana? Andin sudah mendengar semuanya." ujar Tuan Imanuel


"Bunuh Andin!"


"Kau yakin? Dia adik kandungmu sendiri!?"


"Perduli setan. Tidak perduli meski dia adik kandung atau bahkan anak kandungku. Jika dia menjadi halangan, aku harus menyingkirkannya."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Cepat bunuh Andin sekarang juga." Tuan Immanuel meninggikan suaranya. "Kalian harus membunuhnya sebelum Andin memberitahu Gerald mengenai ini."


Celvin dan pengikutnya mengejar Nyonya Andin, mereka mencari Nyonya Andin disepanjang jalan. Ketika mereka berhasil menemukan Ayonya Andin mereka tidak langsung membunuhnya malainkan menyiksa Nyonya Andin. Gemo salah satu tangan kanan Celvin berulang-kali menghantamkan pukulan ketubuh Nyonya Andin, Ia bahkan dengan kejamnya memperkosa Nyonya Andin kemudian memukuli dengan balok kayu hingga terluka parah.


"Tubuh wanita tua ini tidak terlalu buruk, kalian bisa menikmatinya." Gemo melempar Nyonya Andin kearah bawahannya. Teriakan dan tangisan Nyonya Andin sama sekali tidak membuat mereka berhenti, mereka justru dengan kejamnnya menyiksa Nyonya Andin.


🍁🍁🍁🍁🍁


Charles memberikan minuman pada Seville. Mereka tersenyum memperhatikan sepasang pengantin baru itu. "Kenapa tidak kau katakan saja perasaanmu padanya?"


"Maksudmu?"


"Jangan berpura-pura dihadapanku. Aku tahu kalau kau mencintai Alan."


"Kau ini bicara apa? Kau bicara jauh dari kebenaran. Aku sama sekali tidak menyukai Alan. Aku justru membencinya."


"Benarkah.Aku tidak melihat kebencian dimatamu."


🍁🍁🍁🍁🍁


Gemo melempar Nyonya Andin turun dari dalam mobil. Dengan kekuatan yang tersisa Nyonya Andin mencoba untuk bangkit memberitahu Tuan Gerald yang sebenarnya. Melihat Nyonya Andin yang semakin dekat dengan keramaian pesta pernikahan Fernando. Gemo langsung menembak Nyonya Andin, mendengar suara tembakan mereka semua bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi diluar.


"Andin?"


"Tante?"


Hart's memeluk Elektra membawa Elektra menjauh. Tuan Gerald memeluk tubuh sang adik yang berlumuran darah, Nyonya Andin mengenggam jas Fernando dan memasukan sesuatu kedalam saku jas Fernando tanpa ada yang menyadarinya.


"Andin bertahanlah!"


"Ka-kak.?Ka-Ka-k?Aku?" Nyonya Andin menahan rasa sakitnya, sebelum sempat mengatakan hal yang sebenarnya Nyonya Andin menutup mata untuk selama-lamanya. Danil's mengendong tubuh Nyonya Andin membawanya masuk kedalam.


🍁🍁🍁🍁🍁


Semua orang menangisi kepergian Nyonya Andin, mereka tidak percaya bahwa Nyonya Andin akan pergi secepat ini meninggal dengan cara tragis. Tuan Gerald menaburkan bunga diatas makam adiknya.


"Andin, kakak bersumpah diatas makammu adikku. Kakak akan menemukan pembunuh itu dan membalaskan kematianmu. Dia harus merasakan sakit seperti yang kau rasakan. Bajingan itu harus membayar mahal kematianmu. Jangan Khawatir kakak akan membunuhnya untukmu."


"Istrimu benar. Tidak ada gunanya menangisi kepergian Andin itu hanya akan membuat Andin semakin menderita disana." tutur Tuan Glend tanpa merasa bersalah sedikitpun atas kematian adiknya.


"Siapapun orang yang membunuh Andin dengan keji seperti ini akan mati ditanganku." Tuan Gerald mengepal tangannya. "Aku bersumpah atas nama adikku! Aku akan membalas kematiannya!"


Tuan Immanuel, Celvin dan Gemo saling melempar bertukar pandang.


"Gerald bukan ini yang Andin inginkan. Andin tidak ingin kau hidup penuh dendam seperti ini." Nyonya Hanna mengusap lembut bahu Tuan Gerald.


"Hanna, aku tidak bisa membiarkan pembunuh adikku hidup dengan tenang. Andin harus menjadi korban atas sesuatu yang dia tidak ketahui."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mau sampai kapan kita berdiam diri seperti ini? Kita tidak bisa membiarkan mereka melakukan ini pada kita." Fernando menatap mereka satu persatu. "Kita harus menangkap Celvin secepatnya sebelum terlambat."


"Kami tahu. Kita harus bersabar, sekali saja salah melangkah nyawa kita taruhannya." ujar Shena


"Sekarang bagaimana?" tanya Fernando frustasi.


"Untuk sementara ini kita hanya bisa menunggu perkembanganya. Jangan melakukan apapun diluar perintahku. Lagi pula kita harus membicarakan ini dengan, Hart's." Alan menatap kosong ke luar jendela memperhatikan Celvin bersama pengikutnya yang baru saja keluar dari dragon.


"Ya. Saat ini kita tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu dengan sabar." sambung Danil's.


"Shena apa sudah ada kabar mengenai Hart's?" tnya Fernando


"Belum ada. Sampai sekarang Hart's belum menghubungiku." jwab Shena


"Hubungi terus sampai dia mau menerima telfonya. Aku pergi dulu, hubungi aku jika sudah ada kabar dari Hart's." tutur Danil's. "Kematian Nyonya Andin merupakan pukulan berat untuk Hart's dan Ketua."


Danil's keluar dari dalam ruangan meninggalkan mereka disana. Sementara itu?


*****


Hart's mengujungi Elshe dirumah barunya. Rumah itu terlihat sederhana namun cukup nyaman untuk pengantin baru yang baru menikah. Hart's butuh waktu untuk menerima kepergian Nyonya Andin, tante yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini. Setidaknya dengan berada disini, dia bisa melupakan kematian tragis sang tante meski hanya sebentar.


"Kau bahagia?"


'Tentu saja aku bahagia. Fernando suami yang baik. Ya walaupun terkadang sedikit menyebalkan."


Hart's tertawa mendengar ucapan Elshe. "Sulit baginya untuk mengubah kebiasaan buruknya itu. Kau harus bisa bersabar menghadapinya. Semoga kau bisa bertahan hidup dengannya."


"Kakak!"


"Haha. Kakak hanya bercanda."


"Apa kakak tidak ingin hidup bersamanya?"


"Apa? Huh. Apa kau pikir kakak sudah tidak normal?"


"Bukan itu maksudku. Apa kakak tidak ingin hidup bersama Shena sebagai suami istri."


"Kakak akan menikahi Shena jika kau dan mata keranjang itu bisa menjaga keponakanku dengan baik." Hart's mencium kening Elshe. "Kakak harus pergi. Jaga dirimu dengan baik, jangan memikirkan sesuatu yang berat."


"Ya. Kakak juga harus menjaga diri kakak dengan baik. Aku tahu kakak kehilangan Tante andin tapi kakak tidak boleh terpuruk. Kami semua membutuhkan kakak."


"Tidak perlu mencemaskan kakak. Kau urus saja suami-mu itu dengan baik. Obatmu sudah kakak siapkan. Jangan lupa untuk meminumnya."


"Ya.Hati-hati!" Hart's mengecup pelan pucuk kepala Elshe. Elshe memperhatikan kepergian Hart's hingga sosok tersebut menghilang bersama laju mobil. "Aku harap kakak selalu baik-baik saja. Sekarang aku mengerti alasan kalian merahasiakan semua ini dari kami."


To Be Continued ...