DRAGON

DRAGON
Chapter 29 : Waktu yang akan mengubah segalanya



"Kau serius dengan ucapanmu hah? Jadi Alan dan Elshe adalah saudara kandung?" Tuan Imanuel nampak terkejut mendengar penjelasan Charles mengenai hubungan persaudaraan Alan dan Elshe. Sama seperti para penerus dragon, mereka juga sulit mempercayainya.


"Iya ayah. Kalau seperti ini kita akan semakin sulit untuk menyingkirkan mereka." Charles nampak gelisah, dengan adanya hubungan persaudaraan diantara Alan dan Elshe tentu membuat Alan akan mendapat dukungan dari Tuan Glend selaku ayah yang merawat dan membesarkan Elshe selama ini, dan yang lebih membuat Charles kesal adalah ruang gerak mereka semakin terbatas.


"Hahaha. Kalian ini benar-benar bodoh ya. Ini peluang besar untuk kita, dangan begini kita akan semakin mudah menyingkirkan mereka semua." Charles dan Tuan Imanuel mengerutkan dahinya menatap kearah Celvin yang sibuk memainkan senjata apinya.


"Maksudmu?"


"Astaga kalian ini tolol sekali. Kalian tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada didepan mata hah. Kalian lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk menyingkirkan mereka." cibir Celvin


"Lakukan saja pa yang ingin kau lakukan. Keinginanku hanya satu menguasai dragon." ujar Charles.


🍁🍁🍁🍁🍁


Entah sudah berapa lama mereka berada dimakam ini, memperhatikan Elshe yang tidak berhenti menangis memeluk makam kedua orang tuanya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain berdiam diri, membiarkan Elshe melepaskan rindu pada orang tua kandungnya. Mereka semua hanya bisa melihat kesedihan diwajah Elshe tanpa bisa berbuat sesuatu.


"Kita harus kembali sekarang." ujar Danil's


Alan mendekati Elshe, mencoba menenangkannya, Alan memang ingin menemukan saudaranya dan membawa mereka menemui kedua orang tuanya. Tapi demi tuhan bukan ini yang Alan inginkan. Dia tidak pernah ingin melihat saudaranya menangis, meratapi kepergian kedua orang tuanya. Jauh dilubuk hati Alan, dia berharap adiknya tidak pernah mengingat kejadian tragis yang meregut nyawa orang tua mereka.


"Kakak, aku masih ingin disini." Seville tidak ingin meninggalkan Elshe dalam keadaan seperti ini, tapi Hart's terus memaksanya untuk pulang membiarkan Elshe bersama keluarganya.


"Seville, kita harus segera kembali. Masih banyak yang harus kami selesaikan."


"Bagaimana dengan Elshe?"


"Biarkan Elshe disini bersama keluarganya.  Elshe harus mengenal siapa dirinya. Untuk sementara ini kita tidak perlu menganggunya. Alan kami pergi dulu."


"Ya. Aku akan menyusul nanti."Alan menatap mereka semua satu persatu.


Danil's memukul pundak Alan pelan. "Tidak perlu. Kau disini saja temani Elshe. Saat ini keluargamu lebih membutuhkanmu. Biar kami yang menyelesaikan semuanya."


Mereka semua bergegas meninggalkan tempat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kakek mendekati Elshe."Orang tuamu pasti sedih melihatmu seperti ini."


"Aku ingin bersama mereka, Kek." lirih Elshe


"Kakek juga sama sepertimu. Dengar nak, walaupun orang tua kalian sudah tidak ada lagi didunia ini tapi mereka akan hidup dihati kita."


"Ayah? Ibu? Aku berhasil membawa Livia pulang menemui Kalian. Maaf aku belum bisa menemukan Aldric. Tapi aku janji akan terus mencarinya, membawa Aldric pulang kerumah menemui kalian." batin Alan


...🍂🍂🍂...


"Aku senang kau bisa menemukan adikmu." Seville memainkan kembang api bersama Alan diatas jembatan, tempat mereka pertama kali bertemu.


"Ya. Akhirnya aku bisa menemukan Livia dan membawanya pulang meskipun aku belum berhasil menemukan Aldric."


"Aku yakin kau pasti menemukan kakakmu. Tidak mudah melupakan orang yang pernah kita cintai. Tidak mudah bagi Elshe menerima-mu sebagai kakaknya." Seville mendekati Alan, mengambil tempat duduk tepat disamping Alan.


"Cepet atau lambat Elshe pasti bisa menerima kenyataan ini."Alan mendongakkan kepalanya menatap langit malam.


"Bagaimana denganmu?" Alan memalingkan wajahnya kearah Seville saat mendengar pertanyaan Seville.


"Apa?"


"Apa kau bisa menerimanya sebagai adikmu? Bukankah kau juga mencintainya." Alan tertawa mendengar pertanyaan Seville. Entah apa yang dipikirkan Seville sampai bisa membuat kesimpulan konyol seperti itu. "Kenapa kau tertawa?"


Alan mendorong kepala Seville dengan jarinya. "Apa kau pikir aku sudah gila Ah? Jatuh cinta pada adik kandungku sendiri."


"Jadi kau?Aku pikir kau?" Seville memasang wajah blank miliknya, membuat Alan tertawa kecil.


"Otakmu benar-benar bodoh sampai kau berpikiran seperti itu. Aku sudah mengetahui kalau Elshe adalah adikku. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahunya." Alan mendekatkan wajahnya pada Seville, sebuah seringaian mulai terlihat diwajahnya. "Atau jangan-jangan-"


"Apa?"


Seville langsung memukul kepala Alan, "Aeish. Kau pikir aku sudah gila mencintai pria sepertimu."


"Uh. Kau pikir aku suka dicintai wanita keras kepala sepertimu?" ujar Alan tidak kalah sewot.


"Aku akan senang jika itu benar. Kenapa kau melihatku?"


"Aku tidak melihatmu."


"Matamu melihatku?"


"Justru kau yang melihatku."


"Aeish. Aku mau pulang." teriak Seville geram


"Pulang saja sendiri." Alan menghidupkan sepeda motornya. "Kau bisa pulang naik taxi."


"Alan kau sangat menyebalkan." teriak Seville.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kenapa? Kenapa harus dia yang menjadi kakakku?" teriak Elshe frutasi disebuah club malam.


Fernando yang saat sedang bercumbu bersama wanita malam langsung mendorong tubuh wanita itu ketika mendengar suara seseorang yang dia kenal. Fernando bergegas mencari kebaradaan orang tersebut, mata elangnya menyusuri setiap sudut club mencari sosok yang dia kenal dan benar saja dia melihat Elshe disana.


Fernando pikir setelah bertemu dengan keluarga kandungnya dan tinggal bersama mereka, Elshe sudah bisa melupakan perasaannya pada Alan tapi nyatanya tidak. Lihatlah bagaimana keadaan Elshe saat ini? Dia begitu berantakan, melihat Elshe yang tidak berhenti minum membuat Fernando berdecak kesal. Fernando langsung merampas minuman keras itu dari tangan Elshe.


"Fer-nan-do??"


"Apa yang kau lakukan ditempat seperti ini?"


"Mene-nangkan pikiran. Kau pernah mengatakan padaku bahwa ada adik yang mencintai kakaknya sendiri. Cih ternyata kau sudah mengetahuinya ya?" Dengan kasarnya Elshe mencengkram pakaian Fernando."Kau... sudah mengetahuinya bukan? Kau senang sekali mempermainkan perasaan orang lain ya, bajingan?"


"Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Aku akan mengantarmu pulang. Alan akan sangat marah melihat kau mabuk seperti ini."


Elshe mendorong tubuh Fernando menjauh. "Aku sama sekali tidak mabuk, Fernando. Kemarilah minum bersamaku."


"Berhenti, kau sudah mabuk." Fernando menahan tangan Elshe untuk tidak meneguk minumannya, Fernando mengumpat kesal saat indera penciumnya mencium aroma alkohol yang begitu kuat dari mulut Elshe. "Sebenarnya berapa banyak kau minum? Owh aromamu membuatku mual."


"Hei brengsek, kenapa harus Alan yang menjadi kakakku?"


"lah mana ku tahu!"


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kelihatannya Elshe sudah bisa menerima Alan sebagai saudaranya." Tuan Gerald menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan merangkul istrinya yang sudah lebih dulu berada disana. "Jujur saja aku tidak percaya kalau Alan adalah saudara kandung Elshe."


"Sayang tidak ada didunia ini manusia yang tau apa yang akan terjadi pada dirinya juga orang lain. Hidup ini penuh dengan sandiwara bukan? Kita hanya tokoh dalam sandiwara kehidupan. Tuhan penulis skenario dalam kehidupan kita dan kita memainkan peran sesuai skenario yang dibuat olehnya." terang Nyonya Anna


"Biar bagaimanapun Elshe adalah bagaian dari keluarga kita. Walaupun Elshe bukan putri kandung kakak, tapi dia adalah putri Edward dan Angel." Nyonya Hanna mengangguk setuju, mereka adalah anak-anak sahabat baik mereka dan itu artinya Alan dan Elshe juga anak mereka secara tidak langsung.


"Aku harap tidak ada lagi kebenaran setelah ini. Kalaupun ada aku ingin kebenaran itu tetap di rahasikan saja dari pada membuat keadaan berubah." Nyonya Hanna menatap kosong kearah dinding kamarnya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terajdi jika kedua putrinya sampai mengetahui rahasia mereka.


"Suamiku, jika Elshe adalah putri Edward dan Angel, kenapa kita tidak bisa mengenalinya? Seharusnya kita orang pertama yang mengetahuinya bukan.? Apa kakak tidak mengatakan apapun padamu soal ini?"


"Tidak. Kakak mengenalkan Elshe pada kita ketika beranjak remaja. Baik aku, kau maupun anak-anak tidak ada yang mengenalnya saat kecil. Kalau saja Elshe mengingat kita sebagai paman dan bibinya mungkin keadaan tidak akan serumit ini. Sudahlah tidak perlu memikirkan masalah ini."


Yang dikatakan Tuan Gerald memang benar, Elshe pertama kali bertemu dengan mereka saat usianya masih lima belas tahun dan tidak ada satupun yang mengetahui masa kecil Elshe. Mereka bahkan tidak memiliki foto masa kecil Elshe, yang mereka tahu Tuan Glend membawa seorang anak prempuan yang tidak lain adalah putrinya dari hasil hubungannya diluar nikah. Ditambah lagi Elshe sendiri tidak mengingat masa lalunya sama sekali.


To Be Continued ....