
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar. Elshe membuka matanya memperhatikan sekelilingnya. Elshe meringgis saat pusing menyapanya, semlam dia terlalu banyak minum hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Pantas saja jika kepalanya terasa sakit dan pusing.
Kedua mata Elshe membesar begitu dia melihat sosok pria tertidur pulas di sampingnya dan ... tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Butuh waktu dua detik buat Elshe menyadari perbuatannya, suara teriakan mengawali pagi mereka. Pria yang berada tertidur itu sontak saja terbangun saat mendengar teriakan Elshe.
"Apa yang terjadi? Hah.. kau?'" Fernando terkejut bukan main melihat Elshe berada diatas tempat tidur yang sama dengannya.
Fernando meraba tubuhnya sendiri, begitu menyadari pakaian yang dia kenakan tidak ada ditubuhnya, Fernando berteriak kencang. Fernando menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, "Kau? Apa... yang kau lakukan padaku? Kau memperkosaku!"
"Tutup mulutmu! Siapa yang memperkosa siapa hah? Apa yang sudah kau lakukan padaku? Tega sekali kau melakukan ini padaku." Fernando hanya tertegun mendengar ucapan Elshe.
Sumpah, otak pas-pasan Fernando masih mencerna apa yang terjadi diantara mereka berdua. Elshe yang kesal melihat wajah blank Fernando langsung memukuli Fernando dengan batal. Mereka berdua mencoba mengingat kejadian semalam. Elshe menangis mengingat perbuatannya dan Fernando.
"Kita sudah melakukan kesalahan besar fernando." Elshe memukul kepalanya sendiri.
"Elshe, aku minta maaf? Aku tidak bermaksud melakukan ini padamu. Semalam? Kita.. mabuk berat." Fernando merasa bersalah telah menodai Elshe terlebih lagi gadis itu adalah adik kandung sahabatnya sendiri.
"Bagaimana kalau aku sampai hamil?Tidak! aku... tidak mau hamil. Aku tidak mau menjadi ibu di usia seperti ini." Elshe memukuli kepalanya sendiri, meratapi kebodohannya. Kalau saja dia bisa menerima kenyataan, dia tidak akan menyentuh alkohol dan berakhir seperti ini.
"Aku akan bertanggung jawab atasmu. Aku... akan menikahimu."
"Kakak akan membunuhmu jika dia tahu kau yang menghamiliku." teriak Elshe
"Aku tidak perduli hal itu. Aku bukan pencundang yang lari dari tanggung jawab." Fernando sedikit meninggikan suaranya. "Sekalipun Alan membunuhku aku tetap harus menikahimu. Ini semua salahku dan aku tidak mungkin membiarkanmu menanggung kesalahan ini sendirian."
"SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI KALAU KAU BISA MENAHAN DIRI. BRENGSEK!" jerit Elshe
"Apa? Apa kau pikir aku mau ini terjadi hah? Ya, kau benar ini semua salahku. Kalau saja aku mengabaikanmu, kalau saja aku tidak perduli padamu maka semua ini tidak akan terjadi." Fernando menghela nafas berat. Elshe semakin menangis tersedu-sedu. "Maaf. Aku akan tetap bertanggung jawab untuk semua ini. Bersihkan dirimu, aku akan mengantarmu pulang."
🍁🍁🍁🍁🍁
Di akhir pekan seperti ini, Shena akan berkunjung kerumah Scharllet sekedar untuk menemani dan membantu Tuan Hanna. Shena belum resmi menjadi menantu di keleuarga Scaharllet tapi semua anggota keluarga dirumah ini memperlakukan Shena dengan baik bahkan tidak ada perbedaan antara Shena dan putri keluarga ini.
Shena nampak sibuk membersihkan kebun mawar milik Nyonya Hanna. Kehadiran Shena membuat Nyonya Hanna tidak merasa sepi saat suami dan anak-anaknya tidak berada dirumah. Oh lihatlah betapa dekat dan hangatnya hubungan mereka berdua.
"Sepertinya Nyonya sangat menyukai mawar?" Shena mengali tanah yang akan dia tanam dengan bunga mawar.
"Ya. Aku menyukai semua jenis mawar. Semua mawar yang ada disini adalah pemberian suami dan anak-anakku." Nyonya Hanna memberikan pohon mawar yang akan ditanam. Shena menerima tanaman itu dan langsung menanamnya.
"Pantas saja anda merawat mawar ini dengan baik."
"Mawar-mawar ini seperti bagaian dari hidupku. Melihat tanaman disini aku seperti melihat suami dan anak-anakku."
"Anda ibu yang baik. Mereka beruntung memiliki ibu seperti anda, Nyonya."
Nyonya Hanna tersenyum kecil memperhatikan Shena. "Dan kamu adalah wanita yang baik untuk putraku. Kau seperti malaikat untuk keluarga ini, Shena. Kau membawa warna baru dalam keluarga kami. Nak, seperti apapun masa depan tolong jangan tinggalkan putraku."
"Aku sangat mencintai putramu, Nyonya. Aku tidak akan mungkin meninggalkannya."
🍁🍁🍁🍁🍁
"Andin?"
"Aku hanya bercanda." Nyonya Andin tertawa kecil melihat ekspresi kakak iparnya. "Shena apa kau sudah siap menerima segala kemungkinan buruk? Kau tahu tidak mudah menjadi istri seorang mafia." Nyonya Andin menatap Shena dan Nyonya Hanna bergantian.
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Tapi aku percaya akan kekuatan cintaku untuk Hart's. Asalkah kami terus bersama. Kami pasti bisa melewati semuanya."
"Shena, pikirkan lagi semuanya baik-baik. Setelah menikah kau akan kehilangan hidupmu, hidupmu tidak akan sama lagi seperti dulu. Akan banyak bahaya yang mengintari keluarga kalian lagi."
🍁🍁🍁🍁🍁
Elektra tertawa lepas mendengar lelucon Celvin, perutnya bahkan sampai kram karena terlalu banyak tertawa. Danil's yang melihat kedekatan mereka berdua hanya menatap dingin kearah mereka. Baik Elektra maupun Celvin tidak ada yang menyadari keberadaan Danil's didekat mereka.
"Aku rasa kalian sudah cukup tertawa!" Suara berat dan dingin menyapa rungu mereka berdua.
"Danil's?"
Danil's mengabaikan Celvin dan berdiri dihadapan Elektra. Danil's bersedekap dada. "Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk menjauhi bajingan ini."
"Bajingan?Siapa yang kau maksud?Celvin?" Elektra melirik kearah Celvin, Cevin hanya tersenyum pada Elektra.
"Elektra dengarkan aku-"
"Tidak! Kau yang seharusnya mendengarkan aku baik-baik. Celvin bukan bajingan seperti yang ada dipikiranmu." Elektra menyela perkataan Danil's. Elektra lelah dengan segala sikap Danil's yang memaksanya untuk menjauhi Celvin tanpa alasan.
"Celvin kita tinggalkan tempat ini! Elektra menarik tangan Celvin membawanya menjauh dari Danil's. "Kita tidak perlu mendengarkannya."
"Elektra seharusnya kau mendengarkan ucapan Danil's. Kau tidak perlu bersikap seperti ini untuk membelaku." kata Celvin
"Aku tidak perlu mendengarkannya. Danils tidak pernah menyukaimu dan aku tidak tahu kenapa."
"Danil's hanya ingin melindungimu. Itu saja."
"Melindungiku? Melindungiku dari apa? Darimu? Kau tidak menyakitiku, jadi untuk apa dia harus melindungiku darimu?"
Elektra menekuk wajahnya, dia benar-benar kesal hari ini. dia bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan orang baik dan orang jahat. Elektra menepuk pelan kedua pipi Celvin hingga bibir Celvin maju.
"Dengar...kau bukan orang jahat. Jujur aku tidak mengerti kenapa Danil's memperlakukanmu seperti seorang penjahat. Baik kau maupun Danil's tidak ada yang mau menjelaskannya padaku. Aku benar-benar kesal!"
"Tapi-"
"Sudahlah lupakan saja. Kita tidak perlu membahas ini lagi. Celvin, kau sudah ku anggap seperti temanku. Aku tidak suka jika ada yang menghina temanku."
"Bagus Elektra. Kau sudah mulai masuk perangkapku. Aku akan membuktikan padamu bahwa ucapan Danil's benar. Hart's... saatnya telah tiba." batin Celvin
To Be Continued ....