
"Kirimkan barang ini pada Tuan Likie Chen dicina." Celvin mengawasi setiap pergerakan anak buahnya yang sibuk memindahkan kotak kayu kedalam mobil. Entah apa yang ada didalam kotak itu, tidak ada yang tahu selain Celvin dan orang kepercayaannya.
"Baik bos!"
"Kirim tepat waktu. Tuan Chen tidak suka menunggu terlalu lama, jika sampai Tuan Chen mengeluh kalian akan berakhir seperti dia."
Celvin menarik pelatuknya dan menembak seorang pria yang berada tidak jauh darinya. Anak buah Celvin yang lain menelan saliva mereka melihat kekejaman Celvin, menghilangkan nyawa orang lain dengan mudah tanpa merasa bersalah sama sekali.
Setelah memastikan orang-orangnya berkeja dengan baik, Celvin kembali masuk kedalam ruangannya dimana sudah ada Charles disana menunggunya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Kapan kau akan bergerak? Aku tidak bisa menunggu lama lagi untuk menghancurkan tua bangkah itu." Charles menghembuskan asap rokoknya keudara.
"Tsk.! Kau sudah tidak sabar rupanya. Bersabarlah sedikit lagi, tua bangkah itu akan mati sesuai keinginanmu. Dan kau akan menguasai dragon." Celvin menuangkan alkohol kegelas miliknya dan menenguk habis alkohol itu.
"Sebaiknya kau bergerak cepat sebelum mereka menyadari pergerakan kita," Charles mematikan rokoknya, menatap nanar kearah Celvin yang tersenyum menikmati alkohol ditangannya. "Tolong jangan tersenyum seperti itu setelah mengotori tanganmu dengan darah orang lain. Kau terlihat menakutkan."
"Itu urusanku. Kau lakukan saja bagaianmu."
"Kau tidak perlu khawatir, untuk itu aku punya rencanaku sendiri. Aku bisa memanfaatkan salah-satu putrinya, kau sendiri tahu betapa berharganya kedua putrinya itu bagi dia dan Hart's."
Mendengar perkataan Charles, Celvin langsung menghempaskan gelasnya kemeja hingga hancur tak berbentuk lagi, dia bahkan tidak perduli dengan telapak tangannya yang berdarah.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh mereka tanpa perintahku! Lakukan saja sesuai rencana."
Charles speechless mendengar ucapan Celvin.
...🍂...
...🍂...
...🍂...
"Kamar mandinya ada disana!" Alan melempar handuk tepat diwajah Seville.
"Yak apa kau tidak bisa sedikit lebih lembut pada wanita hah?"
"Bisa tapi tidak denganmu. Sebentar lagi jam makan malam, jangan membuat semua orang kelaparan karena menunggumu." Alan mendekatkan wajahnya berapa centi pada wajah Seville, Seville menelan salivanya. Owh sial jantungnya kembali berdetak kencang.
"Aku ragu kalau kau ini seorang wanita. Wanita seperti apa yang tidak memiliki dada? Bokongmu bahkan tidak berbentuk."
Seville mengapal tangannya menahan marah, dia sadar kalau tubunya tidak seseksi wanita di luar sana tapi itu bukan berarti Alan bisa seenaknya menghina gendernya.
Seville menendang tulang kering Alan lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi. Alan meringgis kesakitan, tidak lama kemudian terdengar teriakan Seville dari dalam, karena khawatir Alan langsung mendobrak paksa pintu kamar mandi.
"Ada apa? Kenapa berteriak?"
"I-tu? Disana ada kecoa." Seville menujuk kecoa yang ada dilantai dengan tangannya.
"Wah kau ini wanita aneh. Kau memiliki tenaga untuk menendangku tapi kau tidak memiliki keberanian mengusir seekor kecoa?"
🍁🍁🍁🍁🍁
"Alan ada apa? Nana mendengar Seville berteriak, apa yang kau lakukan padanya?" Alan salah tingkah mendengar pertanyaan neneknya, dia tidak melakukan apapun pada Seville tapi kenapa pertanyaan nana membuatnya tersudut dan merasa bahwa dia telah melakukan dosa besar.
"A-ku tidak melakukan apapun. Bagaimana bisa nana berpikiran seburuk itu padaku? Wah aku tidak percaya." Nana tertegun mendengar jawaban Alan, Alan menjawabnya dengan kecepatan bicara seorang rapper kelas dunia.
"Ada apa denganmu? Nana hanya bertanya kenapa kau sekesal ini?"
Seville yang mendengar perdebatan Alan dan nenek diluar bergegas keluar, Seville sudah memakai pakaiannya kembali.
"Tidak terjadi apapun. Tadi didalam kamar mandi ada seekor kecoa makanya aku berteriak. Maaf sudah membuat keributan, Nana." Spontan Seville menyilangkan kedua tangannya didada ketika melihat Alan melihat kearah dadanya.
"Ada apa dengannya? Dadanya tidak sebesar semangka untuk apa dia menutupinya seperti itu." batin Alan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hart's berusaha keras menyakinkan Shena untuk segera pulang. Hart's tidak bisa membawa Shena bersamanya dalam menjalankan tugas namun Shena bersikeras ingin ikut menemaninya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Hart's mengenggam erat tangan Shena. Namun, Shena tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya. "Shena, tolong jangan bersikap seperti ini."
"Aku tidak akan pergi kemanapun tanpamu. Kau tidak bisa menahanku, Hart's."
"Sayang untuk kali ini saja, aku mohon mengertilah. Aku tidak bisa membahayakan dirimu. Kami semua mempertaruhkan nyawa kami untuk ini. Aku mohon jangan membuatku berada diposisi sulit seperti ini."
Hart's membelai lembut surai hitam kekasihnya, sungguh dia bukan tidak ingin membawa Shena bersamanya tapi Hart's tidak ingin membahayakan nyawa kekasihnya.
"Bagaimana bisa aku berdiam diri sementara kau dalam bahaya? A-ku? A-ku hanya ingin membantu." Raut wajah Shena terlihat sedih dan kecewa, dia merasa tidak berguna. Dia hanya ingin membantu Hart's tidak lebih, tapi Hart's dengan tegas mengusirnya.
"Aku mengerti niat baikmu. Dengan kau menjauh dari bahaya itu sudah sangat membantuku. Shena, ini bukan masalah mudah, jika aku mengizinkanmu ikut artinya aku membawamu kedalam bahaya. Aku tidak bisa menjagamu, sebaiknya kau pulang dan tunggu aku dirumah.”
Shena terdiam, dia nampak merenungkan perkataan Hart's. Meski berat dia harus setuju dengan Hart's. "Baiklah. Aku akan menunggumu dirumah. Kembalilah tanpa terluka."
Hart's tersenyum mendengar jawaban Shena, Hart's menyentuh bibir Shena dan kemudian menciumnya. Mereka berdua begitu menikmati cumbuan mereka sampai tidak sadar kalau sejak tadi dia pasang mata melihat adengan romatisme mereka melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat.
"Sepertinya kita tidak bisa menemui Hart's saat ini. Lihatlah? Dia bahkan tidak sadar kita ada disini." Tuan Gerald menahan malu melihat kelakuan putranya, bisa-bisanya Hart's bermesraan dengan wanita tanpa memastikan pintu ruangan tertutup dengan benar atau tidak.
"Aku rasa sudah saatnya Hart's memiliki keluarganya sendiri."
"Kakak sepertinya kau lupa kalau kami adalah keluarganya. Aku rasa itu sudah cukup, lagi pula Hart's tidak pernah membicarakan hal ini padaku dan Hana."
"Hanya karena putramu tidak pernah membicarakannya pada kalian bukan berarti dia tidak pernah menginginkannya. Gerald mau sampai kapan kau menahan putramu? Anak lelaki harus memiliki keluarganya sendiri, kita memang keluarganya tapi putramu membutuhkan seorang istri dan anak-anak yang akan merawatnya dimasa tua nanti."
Tuan Glend memukul pelan bahu adiknya, dia bisa mengerti alasan adiknya tidak bisa melepaskan Hart's. Orang tua mana yang bisa hidup berjauhan dari darah dagingnya sendiri?
"Ya. Kakak benar. Aku tahu wanita yang pantas untuk putraku."
"Tsk. Kau ingin mengendalikan hidup putramu hah? Biarkan putramu memilih pendampingnya sendiri. Dengar ini tidak hanya menyangkut hidupnya tapi juga kebahagiannya. Wanita yang pantas menurutmu belum tentu wanita terbaik menurutnya. Tolong berhentilah mengikat hidup anak-anakmu. Biarkan mereka memilih kehidupan mereka sendiri, adikku."
To Be Continued ....