
Seville menemui Elektra dikamar Nyonya Andin, sejak kepergian Nyonya Andin suasana rumah ini berubah. Tidak ada lagi suara teriakan Nyonya Andin yang memarahi mereka.
"Kau merindukannya?"
"Ya," Elektra meletakakan foto Nyonya Andin kembali ketempatnya. "Rumah ini terasa sepi tanpa tante. Aku merindukannya. Aku ingin mendengar suaranya yang memarahi kita. Tangannya yang selalu menarik telinga kita. Aku merindukan semuanya." lirih Elektra
"Elektra kita semua kehilangan tante andin. Hidup kita tidak boleh berhenti hanya karena kepergian tante andin. Percayalah tante andin akan sangat terpukul melihat kau seperti ini."
"Aww!!" Elektra menahan sakit memegang perutnya.
"Elektra kau kenapa?"
"Ak-u lapar!" Elektra cengar-cengir menatap wajah datar Seville.
"Aeish. Kau ini! Ayo, aku buatkan makanan untukmu." Seville mendorong kepala Elektra.
🍁🍁🍁🍁🍁
Shena nampak gelisah menunggu kedatangan Hart's begitupun dengan yang lainya. Seseorang membuka pintu ruangan penerus dragon. Hart's heran melihat raut wajah mereka yang terlihat tegang.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Hart's
"Celvin berhasil mengirim barang penyeludupan itu keluar negeri." jawab Danil's
"Apa? Sialan, bagaimana bisa mereka menembus keamanan kita?" teriak Hart's
"Mereka mempermainkan kita seperti binatang." cetus Fernando melempar semua barang yang ada dimeja kerjanya kelantai.
Hart's mengeluarkan pistolnya dari laci meja kerjanya. "Malam ini kita selesaikan semuanya!"
Fernando berdiri dari tempat duduknya. "Ya. Kita harus menyelesaikan semuanya."
"Apa yang ingin kalian selesaikan? Kalian tidak bisa pergi dari sini!" mereka semua menatap tajam kearah Alan. "Kita tidak memiliki bukti apapun soal Celvin. Jika kita bertindak sembarangan kita hanya akan membahayakan nyawa kita sendiri. Katakan padaku berapa banyak nyawa yang kalian miliki hah? Sampai kalian nekat menyerahkan nyawa kalian pada bajingan kotor sepertinya." teriak Alan penuh amarah.
"Hart's keluargamu dan Shena membutuhkanmu dan kau Fernando?" Fernando menelan salivanya saat Alan menunjuk kearahnya. "Kau telah memiliki seorang istri, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Istri dan calon bayimu, mereka membutuhkanmu."
"Aku setuju dengan Alan. Ada baiknya kita memikirkan strategi sebelum menyerang mereka." ujar Shena
"Sekarang bagaimana? Kita tidak mungkin berdiam diri seperti ini terus bukan. Berapa banyak lagi nyawa yang harus dikorbankan demi mengirim bajingan itu keneraka?" kata Fernando
"Kalian meragukan Danil's? Serahkan saja semuanya pada Danil's. Danil's.. tidak akan membiarkan kita kalah dalam permainan ini." tutur Alan. "Aku tahu kalian tidak bisa menunggu lagi. Tapi kita tidak bisa gegabah terutama kau, Fernando. Aku tidak perduli dengan hidupmu, tapi jika kematianmu menghancurkan hidup adik dan keponakanku maka aku akan menghentikanmu."
🍁🍁🍁🍁🍁
Celvin memberikan foto Elektra pada Charles, "Sasaran kita selanjutnya adalah Elektra. Persiapkan semuanya dengan baik."
"Kau yakin? Apa yang ingin kau lakukan padanya?"
"Diantaranya yang lainnya Elektra yang paling labil. Kita bisa memperalatanya. Beritahu Elektra mengenai semua kebohongan keluarganya."
"Apa aku harus membunuhnya?"
"Tidak! Tunggu perintahku selanjutnya. Biar aku yang memainkan bagaian ini. Kau cukup lakukan bagaianmu saja!" Celvin menghembuskan asap rokoknya.
"Baiklah. Terserah kau saja."
"Kau bisa meninggalkan tempat ini. Aku akan menghubungimu nanti. Lakukan tugasmu sesuai perintahku. Jangan keluar dari rencana. Kau mengerti."
"Ya." Charles bergegas meninggalkan ruangan Celvin.
"Hart's permainan akan segera dimulai. Aku sudah tidak sabar melihat kekalahanmu." batin Celvin
"Gemo awasi kediaman ketua."
"Ingat pastikan tidak ada yang melihat kau disana."
"Tenang saja aku akan bertindak lebih hati-hati kali ini. Serahkan saja semuanya padaku."
🍁🍁🍁🍁🍁
Elektra terbangun dari tidurnya, tenggorokannya teras kering. Elektra meraih gelas yang ada diatas meja disamping tempat tidurnya. Elektra mendengus kesal melihat tidak ada air sama sekali di dalam gelas tersebut.
Dengan langkah gontai Elektra keluar dari kamarnya berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Dalam keadaan mengantuk antara sadar, tidak sadar, Elektra melintasi ruang kerja ayahnya. Elektra menghentikan langkahnya ketika mendengar Tuan Gerald berteriak pada seseorang melalui ponselnya.
"Bodoh! Bagaimana bisa terjadi kita ini mafia."
Telinga Elektra bagaikan tersambar petir mendengarnya. Gelas yang ada ditangannya terjatuh, Elektra menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Ia dengar. Ayah yang selama ini Elektra banggakan ternyata adalah seorang mafia.
"Tidak ini tidak mungkin. Aku pasti salah dengar!" lirih Elektra
🍁🍁🍁🍁🍁
Semua orang yang mendengar teriakan Elektra segera keluar dari dalam kamar mereka dan bergegas menemui Elektra.
"Elektra apa kau tahu ini jam berapa? Kau menganggu istirahat papi dan kakakmu." Kata Nyonya Hanna
"Ini tidak mungkin!" Elektra melempar semua barang yang ada didekatnya.
"Elektra apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini. Hei lihat mommy!?" Nyonya Hanna memaksa Elektra untuk menatapnya. Namun, tangannya ditepis dengan kasar oleh Elektra.
"Kenapa.?Kenapa kalian harus membohongi aku dan Seville." teriak Elektra
"Apa yang kau bicarakan. Papi tidak mengerti." tutur Tuan Gerald
"Berhenti bersandiwara didepanku. Aku sudah mendengarnya semuanya, Papi dan kakak.?Kalian seorang mafia. Kalian seorang pembunuh. Aku benci kalian."
Elektra belari keluar rumah, Nyonya Hanna dan yang lainnya bergegas menyusul Elektra. Gemo yang sejak tadi mengawasi kediaman Tuan Gerald segera menghidupkan mesin mobilnya begitu melihat Elektra. Gemo melajukan mobilnya kearah Elektra, Nyonya Hanna yang melihat putrinya dalam bahaya segera belari menghampiri Elektra.
Nyonya Hanna mendorong tubuh Elektra ketepi saat mobil Gemo hendak menabraknya. Tubuh Nyonya Hanna terlempar akibat tabrakan yang dia terima. Gemo memukul setir mobilnya saat meilihat Nyonya Hanna yang ditabraknya, Gemo mempercepat laju mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Hanna!!?"
'Mommy!" Elektra belari kearah Nyonya Hanna namun langkahnya terhenti saat dia mengingat kebohongan keluargannya. Elektra memilih pergi dan mengabaikan teriakan Tuan Gerald.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Tidak! Mommy!"
Alan yang mendengar suara teriakan Seville bergegas menemui gadis itu. Alan menghidupkan lampu kamar Seville. Tangan Seville mengenggam selimut, keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya.
"Alan antarkan aku pulang. Aku ingin pulang bertemu dengan Mommy." Seville mencengkeram erat tangan Alan.
"Ini sudah larut malam. Besok aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak! Aku harus kembali sekarang. Perasaanku tidak enak. Kalau kau tidak mau mengantarku, aku bisa pulang sendiri."
Alan menarik tangan Seville ketika gadis itu hendak beranjak dari tempat tidur. Alan membelai rambut Seville, memberikan bahunya untuk Seville menyandarkan kepalanya.
"Tenanglah. Aku ada disini bersamamu. Aku janji akan mengantarmu pulang menemui Nyonya Hanna."
"Alan, aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Aku takut terjadi sesuatu pada Mommy?" tangis Seville.
"Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Nyonya Hanna baik-baik saja. Begini saja, aku akan menghubungi Hart's untuk memastikan kondisi Nyonya Hanna. Sebaiknya kau kembali tidur. Aku akan di sini menemanimu." Alan membaringkan Seville ditempat tidur, lalu dia menarik selimut hingga kedada Seville.
To Be Continued ....