DRAGON

DRAGON
Chapter 36 : Mereka kekuatanku



Elektra memukul pintu rumah Danil's. Elektra tidak tahu haru kemana lagi selain kerumah Danil's. Danil's berjalan menuju pintu, Danil's terkejut melihat Elektra berada didepan rumahnya dalam keadaan seperti itu.


Danil's membawa Elektra masuk, memberikan minuman hangat pada Elektra. Elektra menangis menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya dan Nyonya Hanna.


"Semua ini salahku. Aku yang membuat mommy seperti itu." tubuh Elektra bergetar hebat.


Danil's membelai setiap helai rambut Elektra. "Tidak perlu menyalahkan dirimu seperti ini. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Bagaimana dengan Seville?"


"Seville tidak ada dirumah saat itu. Dia bahkan tidak tahu mengenai ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Seville sampai mengetahui kebenaran ini!?"


"Elektra aku antar kau kekamar. Kau butuh istirahat." Danil's menuntun Elektra ke kamar tamu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kakek dan Nana yang baru kembali nampak heran melihat suasana rumah yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi, tidak mungkin Alan dan Seville masih bergelut dialam mimpi mereka. Kakek yang penasaran langsung masuk kedalam kamar Alan, sayang tidak ada siapapun disana.


Kakek menarik tungkainya menuju kamar tamu yang saat ini ditepati oleh Seville. Kakek tersenyum penuh arti ketika netranya menangkap sosok Alan berada ditempat tidur yang sama dengan Seville.


"Aeish bocah ini! Kalian belum menikah kenapa kalian bisa berada ditempat tidur yang sama?"


"Kakek? Kakek salah paham!" Kakek berhenti memukuli mereka. Alan dan Seville menghadapi kedua orang tua ini diruang tengah.


"Nana sangat kecewa padamu Alan. Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal ini." Nana bersedekap dada menatap datar kearah dua anak manusia berbeda jenis kelamin.


"Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun!" ujar Alan tegas


"Kalian berdua harus segera menikah. Nana dan kakek akan menemui orang tua Seville."


"Apa? Kenapa kami harus menikah." teriak Alan dan Seville serentak.


"Harus! Kalian berdua harus menikah. Kalian berada ditempat tidur yang sama, sadar atau tidak kalian telah melakukannya." Nana memukul meja membuat mereka terkejut. "Kalian harus menikah secepatnya sebelum perut Seville membesar."


Seville memegang perutnya, tidak mengerti dengan ucapan Nana. "Ada apa dengan perutku? Aku tidak mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Tidak mungkin perutku membesar."


"Aeish! Bocah ini! Astaga, kau itu hamil,"


"Apa? Hamil?" Seville menatap Alan dengan tatapan bingung. "Bagaimana bisa?"


"Jangan melihatku. Aku juga tidak tahu bagaimana kau bisa hamil. Aku bahkan tidak menyentuhmu." cibir Alan


"Tidak ada alasan lagi. Kami akan menemui orang tua Seville untuk melamarnya." kakek begitu antusias untuk menikahkan mereka berdua.


"Ya Tuhan. Bagaimana bisa aku menikah dengannya." batin Seville


"Menikah dengannya adalah kebahagianku. Apa ini pertanda kau harus mengunakan seville demi kepentinganku seperi yang paman katakan?" batin Alan


🍁🍁🍁🍁🍁


Tuan Gerald, Hart's juga Shena memperhatikan Nyonya Hanna yang terbaring lemas diatas tempat tidur melalui jendela. Mereka tidak pernah berharap kebohongan yang selama ini mereka sembunyikan akan berakhir seperti ini.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Tuan Gerald.


"Saat ini kondisinya masih stabil. Lukanya tidak begitu parah. Apa diantara kalian ada yang bernama Elektra? Pasien terus memanggail namanya. Jika diantara kalian ada yang bernama Elektra. Sebaiknya temui beliau. Itu bisa mempercepat proses kesembuhannya." terang Dokter pria paruh baya tersebut.


"Apa kami boleh melihatnya?"


"Ya. Kalian bisa melihatnya sekarang."


"Hart's, masuklah temani mommy mu didalam."


Hart's melangkahkan kakinya kedalam ruangan menemui Nyonya Hanna yang tidak sadarkan diri sejak semalam. Hart's mengenggam jemari tangan Nyonya Hanna dan air matanya berjatuhan.


"Sudah semalaman ini mommy tertidur. Sekarang mommy harus bangun. Mommy harus serapan bersama kami."


Shena menyentuh pundak Hart's. "Mau sampai kapan kau menangis seperti ini?"


"Shena? Seandainya saja aku mendengarkan ucapanmu mungkin semua ini tidak akan terjadi!" lirih Hart's


"Hart's semuanya sudah terjadi. Kau tidak bisa memutar waktu kembali. Yang terpenting saat ini bukan penyesalan malainkan Elektra. Kau harus mencari Elektra. Nyonya Hanna membutuhkan Elektra saat ini disampingnya."


"Apa Elektra akan memaafkan aku?"


"Aku tidak tahu Hart's. Kau harus mencobanya."


"Aku akan membawa Elektra menemui mommy. Tapi? aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Kesalahan yang kami lakukan sudah sangat fatal, Shena. Kau benar, mereka akan meninggalkan kami jika sampai mengetahui kebenaran ini? Anak mana yang bisa terima jika orang tua, keluarganya sendiri membohonginya selama bertahun-tahun? Siapa yang bisa menerima bahwa ayah yang dia banggakan ternyata seorang pembunuh?" Shena menarik Hart's kedalam pelukkannya, membiarkan air mata Hart's tumpah membasahi bahunya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Elshe terus mencoba menghubungi posel Alan juga Seville. Sejak semalam mereka berdua sulit untuk dihubungi.


"Bagaimana?" tanya Fernando cemas


"Mereka masih tidak bisa dihubungi. Fernando sebaiknya kita pergi kerumah kakek. Aku yakin mereka ada disana."


Baru saja mereka membuka pintu, Seville dan Alan sudah berada didepan rumah mereka.


"Kalian mau pergi kemana? Kami kerumah Shena tapi sepertinya tidak ada orang disana." kata Alan


"Seville, bibi Hanna?" Elshe menggigit bibirnya memperhatikan mereka satu persatu.


"Ada apa dengan mommy? Elshe bicaralah yang jelas. Apa terjadi sesuatu dengan, Mom?" Seville menguncang kuat bahu Elshe.


"Saat ini bibi Hanna sedang dirawat dirumah sakit."


*****


Seville belari disepanjang koridor menuju ruangan Nyonya Hanna dirawat, Semua orang yang melintas didekatnya Ia tabrak begitu saja. Seville belari menghampiri Hart's dan menangis didalam pelukan sang kakak. Mereka melihat kondisi Nyonya Hanna dari luar. Tidak sanggup melihat keadaan Nyonya Hanna seperti itu, Seville segera belari meninggalkan tempat itu. Seville manangis ditaman rumah sakit. Shena menghampiri Seville.


"Kau harus kuat. Nyonya Hanna membutuhkanmu."


"Ini bukan waktunya membahasku. Tetaplah menjadi Seville yang kuat sekalipun didalam keadaan seperti ini." Seville memaksakan diri untuk tertawa.


Hart's dan Alan memperhatikan mereka berdua dari kejauhan."Shena memang wanita yang baik."


Hart's tersenyum memperhatikan kedua wanita itu. "Sudah lama sekali aku tidak melihatnya menangis seperti ini. Seville tidak pernah mengeluarkan mutiaranya itu. Dia anak yang kuat. Tapi hari ini untuk kesekian kalinya dan untuk yang pertama kalinya aku melihatnya menangis seperti ini."


"Jujur saja aku ingin tertawa melihatnya seperti itu." ujar Alan


"Ada dua kata yang sangat sulit diucapkan olehnya. Bibirnya terasa berat mengucapkan kata maaf dan terima kasih."


"Ya. Walaupun dia ingin mengucapkan kata itu, dia tetap tidak akan mengucapkannya. Apa sudah ada kabar mengenai Elektra?" Alan menghela nafas berat saat melihat raut wajah Hart's berubah sendu.


"Sampai sekarang belum ada. Alan kenapa semuanya harus seperti ini? Bolehkah aku berharap kebenaran ini tidak pernah terungkap?"


"Terkadang apa yang kita pikirkan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Dari pada menyesali semua yang terjadi ,bukankah lebih baik mencari cara memperbaikinya? Sebaiknya kau segera menemukan Elektra."


"Kau benar!"


"Hart's kau mau kemana?"


Hart's tersenyum menatap Alan. "Memberi pengertian pada Elektra dan membawanya pulang."


"Satu hal lagi beritahu Seville mengenai ini. Kau tidak ingin kehilangan mereka bukan?"


"Kami akan memberitahunya secepat mungkin. Saat ini yang terpenting adalah Elektra. Apapun dan bagaimanapun caranya aku harus bisa membawanya kembali."


"Semoga berhasil, Hart's. Kami akan mengambil alih tugasmu. Selesaikan saja masalahmu dengan Elektra."


"Terima kasih atas bantuanmu."


"Pergilah.Temui Elektra dan bawa dia kembali."


🍁🍁🍁🍁🍁


Danil's membawakan makan siang masuk kedalam kamar, Danil's mendengus kesal melihat sarapan yang dibuat tidak disentuh sama sekali oleh Elektra.


"Kau bahkan tidak menyentuh sarapan yang ku buat dengan susah payah."


"Bagaimana keadaan mommy sekarang?"


Danil's menghela nafas berat, "Jika kau mengkhawatirkannya, sebaiknya kau temui saja."


"Aku belum siap untuk bertemu dengan seorang pembunuh. Perasaanku masih terluka dibohongi oleh keluargaku sendiri."


"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu. Tapi walau bagaimanapun mereka adalah keluargamu."


Elektra keluar dari dalam kamarnya, Danil's menyusul kepergian Elektra. "Elektra kau harus makan. Sejak semalam kau belum makan apapun. Nanti kau bisa jatuh sakit."


"Rasa sakitku tidak sebanding dengan rasa sakit yang mommy rasakan saat ini. Sekarang mommy sedang terbaring di rumah sakit dan aku tidak bisa merawatnya."


"Kau bisa Elektra. Kau bisa melakukannya jika kau ada disampingnya."


"Dan bertemu dengan seorang pembunuh?" ucap Elektra tegas dengan sorot mata penuh kebencian.


Harts mengurungkan niatnya menekan bel rumah Danil's saat mendengar suara pertengkaran dari dalam rumah Danil's.


"Kau membenci seorang mafia? Kau membenci seorang pembunuh? Kau membenci seorang ayah yang menyayangimu penuh dengan kasih sayang? Kau membenci seorang kakak yang selama ini menjaga dan melindungi?Kau membenci semua orang yang mencintaimu?" ujar Danil's sedikit emosi.


"Itu karena mereka semua membohongiku." teriak Elektra frustasi.


"Tidak! Itu karena kau membenci seorang pembunuh. Elektra apa kau tahu? Aku juga sama seperti mereka. Aku juga seorang mafia. Seorang mafia yang telah banyak membunuh orang dengan tangan ini."


"Eh. Kau bercanda?"


"Kenapa? Apa kau juga akan membenciku?" Danil's mengikis jarak di antara mereka.


Elektra menutup telinganya, "Cukup Danil's! Hentikan."


"Apa karena aku seorang mafia kau membenciku?"


"Cukup hentikan! AKU BILANG HENTIKAN!" teriak Elektra


"Apa kau juga akan membenci Alan juga Fernando?" Danil's meninggalkan Elektra sendirian. Danil's terkejut saat melihat Hart's berdiri diteras rumahnya.


'Hart's?"


"Kita bicara disana saja."


"Elektra sangat terpukul dengan kebenaran ini, Hart's."


"Seharusnya aku lebih berhati-hati lagi. Kami terpaksa membohonginya. Dunia kita terlalu bahaya untuk mereka. Kami tidak ingin kehilangan mereka. Danil's apa ini hukuman karena kami sudah membohongi mereka selama ini."


"Tidak ada hukuman untuk sebuah kebaikan, Hart's." Elektra memperhatikan mereka berdua dari balik jendela. Air matanya berjatuhan membasahi wajahnya. Elektra ingin bersandar dibahu sang kakak menumpahkan segala kekecewaannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu Celvin, Charles dan Tuan Immanuel sedang merayakan keberhasilan mereka. Rencana mereka untuk menghancurkan keluarga Tuan Gerald berjalan sesuai dengan rencana.


"Kerja bagus Celvin."


"Keberhasilan ini bukan karena diriku tapi juga kalian semua. Sebentar lagi kita akan menang dalam permainan ini."


"Ya. Aku harap tuhan segera mengambil nyawa wanita tua itu." ujar Tuan Immanuel disertai tawa.


"Kita jangan terlalu senang dulu. Masih banyak yang harus kita lakukan."


To Be Continued ...