
"Lepaskan aku Danil's? Lepaskan." Elshe berontak melepaskan diri dari dekapan Danil's, tapi sekeras apapun dia berontak dia tetap tidak bisa melepaskan diri.
"Elshe tenangkan dirimu. Kau harus bisa menerima kenyataan ini."
"Bagaimana bisa aku menerima kenyataan ini Danil's? Bagaimana bisa aku menerima pria yang aku cintai sebagai kakakku?! BAGAIMANA BISA?" teriak Elshe frutasi.
"Jujur saja aku tidak tahu apa yang terjadi, otakku bahkan tidak bisa mencernanya. Ini terlalu tiba-tiba tapi jika yang dikatakan Alan adalah kebenarannya. Kau harus bisa menerimanya. Alan adalah kakakmu." Danil's membelai lembut surai Elshe.
Kepala Danil's mendadak sakit memikirkan semua ini. Danil's sendiri masih sulit mempercayainya dan berharap bahwa Alan hanya sedang mengerjai mereka. Tidak hanya Danil's, mereka semua tidak bisa mencerna semua ini.
Elshe melepaskan pelukan Danil's dan segera berlutut dikaki Danil's, membuat Danil's syok bukan main. "Danil's katakan padaku kalau ini semua tidak benar em? Aku mohon katakan kalau ini tidak benar." Elshe menempelkan kedua telapak tangannya, seraya memohon pada Danil's.
Danil's menghela nafas kasar sambil memijat pangkal hidungnya. Danil's tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa pada Elshe. Melihat Elshe seperti ini membuatnya sakit, Danil's kembali memeluk Elshe, "Inilah kebanarannya Elshe. Maaf, aku tidak bisa mengubah kebenaran ini untukmu."
"Ini tidak mungkin, kenapa semua ini harus terjadi hah?! Kenapa harus Alan yang manjadi kakakku?! Kenapa?" Elshe melihat Hart's dan yang lainnya, dia belari mendekati mereka. Elshe mengenggam tangan Hart's menatap Hart's penuh harap. "Kakak, aku mohon katakan kalau ini tidak benar? Ini hanya leluconnya bukan? KAKAK JANGAN DIAM SAJA. KATAKAN SESUATU." teriak Elshe sambil menguncang tubuh Hart's.
Hart's hanya diam, memalingkan wajahnya dari Elshe. Dia tidak memiliki kekuatan menatap netra sendu adik sepupunya ini.
...🍂🍂🍂...
Sejak hari dimana Alan mengatakan kebenaran padanya, Elshe selalu mengurung dirinya di kamar. Dia bahkan menolak bertemu dengan siapapun termasuk Seville dan Hart's, dua orang terdekatnya. Tuan Glend yang mendapatkan kabar mengenai keadaan putrinya segera menemui sang putri dikediaman Tuan Gerald.
Tuan Glend melangkah masuk kedalam Elshe, hatinya hancur melihat keadaan putrinya. Tubuh Elshe terlihat lebih kurus, wajahnya pucat, dia lebih terlihat seperti mayat hidup dari pada manusia.
"Kau memang bukan putri kandung ayah. Tapi ayah sangat menyayangimu."
"Seharusnya ayah katakan itu sejak dulu!"
"MENGATAKAN KEBENARAN KALAU KAU BUKAN PUTRI AYAH!" Tuan Glend meninggikan suaranya, demi tuhan dia tidak ingin meninggikan suaranya pada Elshe tapi keadaan membuatnya melakukan itu. "Elshe, bagaimana ayah bisa memberitahumu kalau kau bukan darah daging ayah, Nak? Ayah tidak sanggup mengatakannya padamu. Ayah tidak bisa jika harus kehilanganmu. Bagi ayah kau adalah putri ayah tidak perduli meski darah ayah tidak mengalir dalam tubuhmu." Tuan Glend menghapus air mata Elshe, melihat wajah sedih sang ayah membuat tangisan Elshe pecah.
"Ayah? Maafkan aku." Elshe menumpahkan tangisannya didalam pelukan laki-laki paruh baya yang selama ini merewat, membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Jika benar pria itu adalah kakakmu, kau harus menemuinya nak. Pergilah temui dia, cari tahu keluargamu. Kau berhak mengetahui keluargamu yang sebenarnya, ayah akan selalu ada untukmu menunggumu pulang."
🍁🍁🍁🍁🍁
Baik Hart's maupun yang lainnya tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu Alan. Sejak kejadian malam itu Alan lebih banyak berdiam diri. Semua pekerjaanya tidak ada satu pun yang Alan selesaikan dengan baik, mereka bahkan tidak bisa membantu Alan menghindari amarah Tuan Gerald. Tuan Gerald melemparkan dokumen kewajah Alan.
"Akhir-akhir ini pekerjaanmu tidak ada yang benar. Alan, kau disini untuk bekerja." Tuan Gerald memijat pangkal hidungnya, dia sudah tahu apa yang terjadi pada Alan tapi apapun alasannya tidak seharusnya Alan melalaikan tugasnya, apa lagi dia salah-satu penerus dragon yang akan menjadi pemimpin mengantikannya.
"Maafkan saya ketua?"
"Maaf? Apa hanya itu yang bisa kau katakan? Selesaikan pekerjaanmu dengan benar."
Charles yang menguping pembicaraan mereka tersenyum sinis mendengar Tuan Gerald memarahi Alan. Charles buru-buru bersembunyi saat pintu ruangan Tuan Gerald dibuka. Keempat penerus dragon segera keluar meninggalkan ruangan Tuan Gerald. Ditengah jalan menuju ruangan mereka, mereka bertemu dengan Elektra, Seville juga Elshe yang hendak menemui mereka diruang kerja dragon.
"Jika benar kau adalah kakak-ku bawa aku menemui orang tua juga keluargaku yang lainnya." Alan mengalihkan atensi pada Elshe, semua orang yang ada disana menatap Alan penuh harap.
Mungkin ini satu-satunya cara untuk membuktikan kebenarannya dan membuat Elshe bisa menerima kenyataannya.
"Mau kemana mereka? Sepertinya ada yang mereka sembunyikan. Aku harus mengikuti mereka dengan begitu aku bisa mengetahuinya." batin Charles
🍁🍁🍁🍁🍁
"Alan mereka siapa?"
"Mereka teman-temanku, nana,"
Alan membawa mereka masuk kedala, saat melihat Elshe tiba-tiba saja kakek langsung memeluknya. Dia seperti melihat sosok Livia kecil dalam diri Elshe. Nalurinya sebagai seorang kakek begitu kuat, seorang kakek tidak mungkin salah mengenali cucunya. Cucu yang selama ini dia nantikan kehadirannya.
"Livia?"
Nenek melepaskan pelukan kakek dan membawa kakek menjauh dari Elshe."Suamiku, gadis ini bukan Livia, cucu kita."
"Wajahnya mirip sekali dengan Livia. Aku tidak mungkin salah mengenali cucuku sendiri." Elshe menutup mulutnya menahan tangisnya, Hart's mengenggam tangan Elshe memberikan sedikit kekuatan pada gadis itu.
Kakek berdiri meninggalkan mereka semua, tidak lama kemudian kakek kembali dengan membawa sebuah kardus berukuran sedang. Kakek mengeluarkan semua isi dalam kardus tersebut. Elshe mengambil sebuah foto gadis kecil yang tersenyum bahagia memeluk boneka beruangnya.
"Gadis kecil itu Livia. Cucu prempuan kami yang hilang sepuluh tahun yang lalu. Foto itu diambil saat ulang tahunnya yang ketujuh."
Elshe memegang kepalanya yang berdenyut, sebuah kenangan tiba-tiba muncul dibenaknya membuatnya meringgis kesakitan. Seorang gadis kecil yang belari mengelilingi meja makan bersama dua anak lelaki yang tidak dia ketahui memenuhi benaknya.
Seretetan kejadian muncul seperti kaset rusak yang diputar ulang berkali-kali. Elshe ingat saat itu adalah ulang tahunnya yang ketujuh, Nyonya Angel memberikan boneka beruang sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Kau baik-baik saja?" Fernando mengenggam bahu Elshe, wajah Elshe begitu pucat dan dia terlihat kesakitan memegang kepalanya membuat Fernando mengkhawatirkannya.
"Ya. Dimana gadis kecil ini sekarang?" lirih Elshe
"Kami tidak tahu dimana keberadaannya. Alan sudah berusaha mencarinya selama ini. Sepuluh tahun yang lalu anak dan menantuku dibunuh oleh sekelompok mafia. Mereka membawa kedua cucuku pergi. Hanya Alan yang tertinggal." terang Kakek.
Elshe berdiri memeluk kedua orang tua ini dengan tangisan."Aku?Aku... cucu kalian. Ak-u Livia. Cucu yang selama ini kalian cari."
"Apa?" Alan memberikan isyarat kepada kedua orang tua itu bahwa yang dikatan Elshe adalah benar. Melihat Alan hendak melangkah pergi, Elshe segera berdiri menahannya.
"Aku mohon jangan pergi kakak."
To Be Continued ....